Israiliyyat

Posted: 05/05/2010 in Fatwa DSN
Tag:

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Israiliyat

Kata israiliyyat, secara etimologis merupakan bentuk jamak dari kata Israiliyyah; nama yang dinisbahkan kepada kata israil (bahasa ibrani) yang berarti ‘Abdullah (hamba Allah)[1]. Dalam pengertian lain israiliyyat dinisbahkan kepada ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim.terkadang israiliyyat identik dengan yahudi, kendati sebenarnya tidak demikian. Bani israil merujuk kepada garis keturunan bangsa, sedangkan yahudi merujuk pada pola pikir, termasuk didalamnya agama dan dogma. Menurut al-Dzahabi, perbedaan Yahudi dan Nasrani, bahwa yang disebut terakhir ini ditujukan kepada mereka yang beriman kepada risalah Isa a.s[2]. dua kelompok masyarakat ini, menurut Qushai Shihab yang minimal disepakati oleh seluruh ulama dinamakan Ahl al-Kitab.

Menurut Ahmad Khalil Arsyad, israiliyyat adalah kisah-kisah yang diriwayatkan dari Ahl al-Kitab, baik yang ada hubungannya dengan agama mereka ataupun tidak[3]. Dalam pendapat lain dikatakan bahwa israiliyyat merupakan pembaruan kisah-kisah dari agama dan kepercayaan non-Islam yang masuk ke jazrah arab islam yang dibawa oleh orang-orang yahudi yang semenjak lama berkelana ke Arab Timur menuju Babilonia dan sekitarnya, sedangkan Barat menuju Mesir. (Supiana, M, ag, 2002;197)

Israiliyyat (            ) bentuk jamak dari (         ) israiliyyat merupakan cerita yang dikisahkan dari sumber israil , yang dinisbahkan kepada ya’kub ibn ishaq ibn Ibrahim beserta keturunannya yang disebut Bani Israil dengan agamanya yahudi.

Di dalam Al Qur’an, banyak disebutkan tentang Bani Israil yang dinisbahkan kepada Yahudi, diantaranya dalam surat Al Maidah (5) ayat 78.

šÆÏèä9 tûïÏ%©!$# (#rãxÿŸ2 .`ÏB û_Í_t/ Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) 4’n?tã Èb$|¡Ï9 yŠ¼ãr#yŠ Ó|¤ŠÏãur Ç`ö/$# zOtƒötB 4 y7Ï9ºsŒ $yJÎ/ (#q|Átã (#qçR%Ÿ2¨r šcr߉tF÷ètƒ ÇÐÑÈ

Artinya:

“telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil  dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam yang demikian itu disebabkan mereka selalu durhaka dan selalu melampaui batas.”

Pada mulanya, perkataan israiliyyat itu menunjuk pada kisah yang diriwayatkan dari sumber Yahudi. Akan tetapi para ulama tafsir dan hadits, pengertian israiliyyat lebih dari itu. Israiliyyat adalah semua cerita lama yang bersumber dari yahudi, nasrani, atau cerita lain yang masuk kedalam tafsir dan hadits, termasuk juga cerita baru yang dimasukkan oleh musuh-musuh islam, baik yang datang dari yahudi, nasrani, atau yang lainnya.untuk merusak aqidah islam dan kaum muslimin. (al-Dzahabi, 1987: 9)

Israiliyyat menurut terminologinya budaya yahudi yang besumber kepada taurat, zabur, termasuk seluruh keterangannya yang penuh dengan dongeng dan khurafat serta abatil yang mereka kembangkan dari masa ke masa.

Yahudi adalah sebutan bagi bani Israil. Ketika nabi isa lahir pengikutnya disebut nasrani. Yahudi dan nasrani keduanya disebut ahli kitab yang ada hubungannya dengan ajaran-ajaran agama mereka maupun yang tidak ada hubungannya.

Masuknya orang yahudi dan nasrani ke dalam lingkungan islam, baik sebagai muslim ataupun dzimmi membantu tersebarnya israiliyyat dikalangan umat islam. Akibatnya setelah tiba di zaman pembukuan Tafsir Al Quran banyak israiliyyat yang terbukukan dalam tafsir. Tetapi bukan sebagai sumber hukum dan aqidah tetapi sebagai ilustrasi atau istisyhad, khususnya tentang kisah-kisah Nabi keturunan Bani Israil. Sekalipun ada israiliyyat yang dibenarkan namun pada umumnya israiliyyat mengandung kebatilan dan nilai-nilai yang tidak islami. (Shalahuddin Hamid, 2002: 350)

  1. B. Sejarah Timbulnya Israiliyyat

Pada saat Islam berkembang banyak bangsa yang masuk islam dengan berbagai latar belakang sosial maupun budaya. Ada yang masuk islam dengan ikhlas dan kesadarannya, tetapi ada pula yang di dorongoleh motivasi tertentu. Penegasan maksud-maksud tertentu itu dijelaskan dalam ayat al-Qur’an “orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan sengang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (QS. Al Baqoroh 2:120)

Perkembangan Islam sangat pesat di zaman Nabi Muhammad dan Khulafaurrasyidien. Pada saat Nabi Muhammad wafat dan pada awal Abu Bakar menjadi kahalifah sudah muncul gerakan Riddah- menolak ajaran islam dan kufur dengan motif ingi melepaskan diri dari kekuasaan Islam. Motif ini semakin menjadio-jadi setelah perjalanan politik Islam tidak begitu mulus seperti di zaman Nabi, terjadi banyak perselisihan, munculnya saktarianisme dan perbedaan pandangan politik yang menyebabkan perbedaan pandanagn dalam teologi. Kontak-kontak tersebut telah mendorong pula lahirnya israiliyyat. Kemunculan israiliyyat ini tidak bisa dihindari karena orang-orang yahudi sejak dahulu kala berkelana ke arah timur menuju Babiloniadan sekitarnya serta ke arah Barat menuju Mesir. Setelah kembali ke negri asal, mereka bawa pula mermacam-macam berita keagamaan yang dijumpai di negri-negri yang mereka singgahi. (Shalahuddin Hamid, 2002: 349)

Dengan masuknya ahli kitab itu ke dalam Islam, maka terbawa pulalah bersama mereka itu kebudayaan mereka tentang berita dan kisah-kisah agama. Ketika mereka membaca kisah-kisah yang terdapat pada Al Qur’an, maka mereka mengemukakan pula dengan terperinci uraian-uraian yang terdapat di dalam kitab-kitab mereka. Sahabat- sahabat nabi tertegun mendengar kisah-kisah yang dikemukakan oleh ahli-ahli kitab itu. Namun mereka tetap manurut perintah Rosulullah SAW. Janganlah kamu benarkan ahli kitab dan jangan pula kamu dustakan. Dan katakanlah, kami percaya kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami. Kadang-kadang terjadi diskusi antara sahabat dengan ahli kitab itu, mengenai uraian yang terperinci. Adakalanya sahabat menerima sebagian dari apa yang dikemukakan oleh ahli kitab itu selama masalah ini tidak menyangkut akidah dan tidak berhubungan dengan hukum-hukum.

Setelah sahabat membicarakan masalah ini, mereka memahami sabda Nabi yang berbunyi, sampaikanlah olehmu sekalipun satu ayat. Mereka berbicara tentang nabi Israil. Dalam hal ini Nabi SAW tidak berkeberatan. Kata Nabi SAW. Barang siapa yang berdusta terhadap aku dengan sengaja, maka disediakandengan tempat duduknya dalam neraka. Artinya, ada orang yang berbicara tentang nabi israil dengan apa yang tidak mereka ketahui bohongnya. Adapun yang terdapat pada hadis yang pertama, janganlah kamu membenarkan ahli kitab dan janganlah kamu mendustakannya. Ini yang menjadi kesimpulan tentang berita-berita yang mereka kemukakan sebagai tujuan dari perkataan itu. Kadang benar dan kadang bohong.

Demikianlah berita-berita yang dibawa oleh orang yahudi yang telah masuk islam. Yaitu yang berkaitan dengan israiliyah, hal ini sudah terbiasa bagi orang-orang Yahudi dan Nasrani. Berpindahnya israiliyah dari orang yahudi itu karena orang yahudi banyak yang bergaul dengan orang islam, semenjak permulaan islam hijrah ke madinah. Sahabat tidak ada yang mengambil berita terperinci dari ahli kitab, kalau ada jumlahnya itu sedikit sekali, atau jarang terjadi. (Mana’ul Quthan 1995: 197)

  1. C. Sumber-Sumber Israiliyat

Ada beberapa sumber tentang israiliyat dalam tafsir al Quran yang di duga keras banyak mengambil cerita-cerita israiliyyat, di antaranya:

  1. Jami’ al-Bayan fi Tafsir Alquran

Tafsir ini disusun oleh Ibn Jarir al-Thabari (224-310 H), seorang yang terkenal dalam bidang fiqih dan hadis, di samping ahli tafsir. Namun harus di catat bahwa karya beliau ini banyak terjerumus dalam kesalahan, karena beliau sering menyebutkan dalam kitab tafsirnya riwayat-riwayat israiliyyat yang disandarkan kepada Ka’b al Akhbar, kitab tafsir al-Thabari ini banyak mengandung riwayat-riwayat yang lemah, tertolak dan dha’if[4].

  1. Tafsir muqotil

Tafsir ini disusun oleh Muqotil bin Sulaiman (w. 150 H). tafsir ini terkenal sebagai tafsir yang sarat dengan cerita israiliyyat, tanpa memberikan sanad-sanadnya sama sekali. Di penjelasannya, mana yang hak dan mana yang batil. Al-Dzahabi menemukan kejanggalan dalam tafsir ini, karena hanya sedikt saja yang diberikan isnad oleh muqotil. Contohnya yang diceritakan dalam tafsir ini hampir merupakan bagian dari cerita khurafat[5].

  1. Tafsir al-Kayaf wa al-Bayan

Penulis tafsir ini ibn Ibrahim al-Tsa’labi al-Naisabury.panggilannya abu ishaq yang wafat tahun 427 H Ia menafsirkan Alquran berdasarkan hadis yang bersumber dari ulama salaf. Sayangnya, dalam manukil sanad-sanad hadis, ia tidak mencantumkan secara lengkap. Tafsir ini membahas nahwu dan fiqih; karena ia seorang pemberi nasehat, maka ia senang dengan kisah-kisah. Oleh karena itu dalam kitab tafsirnya ini banyak cerita israiliyyat yang janggal dan cenderung menyimpang dari kebenaran.

  1. Tafsir Ma’alim al-Tanzil

Tafsir ini ditulis oleh syaikh Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad al-Baghawiy, menurut Ibn Taimiyah , tafsir ini merupakan tafsir dari ringkasan  karya al-Tsa’labiy, akan tetapi ia menjaga tafsirnya dari hadis-hadis maudhu’ dan pendapat-pendapat yang bid’ah. Namun menurut al-Dzahabi, tafsir ini justru banyak mengandung kebatilan.

  1. Tafsir Lubab al-Ta’wil fi Ma’aniy al-Tanzil

‘Ala al-Din al-Hasan, ‘Ali ibn Muhammad ibn Ibrahim ibn Am,r ibn Khalil al-Syaibiy (678-741 H.) dikenal penulis dari tafsir al-Lubab ini. Sebagai seorang sufi yang senag memberi nasihat, maka tidak heran (kitab-kitab Samisatiyah) di Damaskus, sehingga bacaannya akan kitab-kitab tersebut mempengaruhi tulisan tafsirnya.

Sebagai kitab lainnya yang disebut sebelumnya, kitab tafsir ini juga banyak menukil cerita-cerita israiliyyat dan tafsir al-Tsa’labiy. Dalam menukilkan israiliyyat tersebut. Ia tidak menggunakan sistem tertentu dan tidak memberi komentar tentang menukarnya cerita-cerita yang dipaparkannya luput dari sanad.

  1. Tafsir Alquran al-Azhim

Tafsir ini populer dengan sebutan tafsir Ibn Katsir, nama terakhir yang dinisbahkan kepada pengarangnya, yaitu Ibn Katsir, kitab tafsir ini dipandang kitab tafsir kedua setelah al-Thabariy. Pengarangnya selalu memperhatikan riwayat-riwayat ahli tafsir Salaf. Di samping itu, ia membicarakan juga kerajihan hadis dan atasar serta menolak riwayat-riwayat yang munkar.

Perbedaannya  dengan tafsir al-Thabariy, bahwa tafsir al-Thabariy ini selalu meningkatkan para pembaca akan keganjilan dan kemunkaran cerita-cerita israiliyyat dalam tafsire bi al-Ma’tsur. Karena Ibn Katsir juga seorang sejarawan, maka hal itu sangat menolongnya dalam memfilter berita.

  1. D. Klasifikasi Israiliyyat
    1. Di lihat dari segi syariat, israiliyyat dibagi manjadi tiga bagian, yaitu:

Pertama: cerita israiliyyat yang sesuai dengan syariat islam (Khabariyah Al-shidqu). Seperti yang diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Muslim bahwasannya Rosulullah saw. Bersabda,

“Pada hari kiamat nanti, bumi itu bagaikan segenggam roti, Allah SWT menggenggamnya dengan tangan-Nya, seperti kamu menggenggam sepotong roti di perjalanan, dia merupakan tempat ahli surga.”

Kemudian datanglah seorang laki-laki dari Yahudi menghampiri Rosul seraya menegur, “Wahai Abu Qosim, maukah kuceritakan kepadamu tempat ahli surga pada hari kiamat nanti?” Rosulullah menjawab, “Ya, tentu saja.” Kemudian laki-laki itu mengatakan,

Bahwasannya bumi ini seperti segenggam roti seperti yang dinyatakan Nabi saw.”

Imam Bukhari meriwayatkan sifat-sifat Rosululah saw. Yang sumbernya diambil dari taurat. Hal ini sama seperti yang diterangkan dalam al Quran, “Wahai Nabi, sesungguhnya kami mengutusmu sebagai saksi pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan nabi itu tidak kasar dan tidak keras.

Kedua: cerita Israiliyyat yang bertentangan dengan syariat (Khabariyah al-kdzbu). Misalnya cerita-cerita yang dimuat dalam kitab Sifru al Khuruj (kitabnya orang yahudi). Pada kitab tersebut diceritakan bahwa yang membuat anak sapi sebagai sembahan Bani Israil adalah Nabi Harun. Dengan tegas Al Quran membantahnya dan menyatakan bahwa yang menyesatkan itu adalah seseorang dari Bani Israil bernama Samiri. Ia berasal dari suku Samirah. Hal ini terdapat dalam surat Thoha (20) ayat 85.

tA$s% $¯RÎ*sù ô‰s% $¨ZtFsù y7tBöqs% .`ÏB x8ω÷èt/ ãLài¯=|Êr&ur ‘“̍ÏB$¡¡9$# ÇÑÎÈ

“Allah berfirman, ‘maka sesungguhnya kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disestkan oleh samiri.”

Ketiga : cerita israiliyyat yang didiamkan (maskut’anhu) (Kabariyah al-Shidqu wal kadzibu), karena tidak terdapat dalam syariat Islam yang memperkuatnya dan tidak ada pula alasan yang menyatakan tidak ada manfaatnya. Hal ini seperti yang diriwayatkan Imam Ibn Katsir di dalam tafsirnya ketika menerangkan ayat-ayat tentang baqoroh dalam surat Al Baqoroh (2) ayat 67-68. (Muhammad Zainuddin, 2002:169-171)

  1. Ditinjau dari riwayatnya cerita iusrailiyyat terbagi menjadi dua yaitu:

Pertama: cerita shahih, contohnya apa yang dikemukakan oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya : Dari Ibn Jarir : telah menceritakan kepada kami Mustani dari Usman bin Umar dari Fulaih dari Hilal bin Ali dari Atha bin Yasir, ia berkata : aku telah bertemu dengan Abdullah bin Amr dan berkata kepadanya : ceritakanlah olehmu tentang sifat-sifat rosul saw yang diterangkan di dalam kitab taurat! Ia berkata : Ya demi Allah, sesungguhnya sifat Rasulullah di dalam taurat sama seperti yang diterangkan dalam al-Qur’an : Wahai nabi sesungguhnya kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan”, dan memelihara orang-orang Ummi. Engkau adalah hambaKu dan RasulKu, namamu yang dikagumi, engkau tidak kasar dan tidak pula keras. Allah tidak akan mencabut nyawanya sebelum agama islam tegak dan lurus, yaitu dengan ucapan : tiada tuhan yang patut disembah dengan sebenarnya kecuali Allah….dstnya” Imam Ibnu Katsier telah mengaitkan riwayat ini dengan pernyatannya : Bahwasannya Imam Bukhari telah meriwayatkan berita ini dalam kitab shahihnya Muhammad bin Sinan , dari Fulaih, dari Hilal bin Ali, ia menceritakan sanadnya, seperti yang telah disebutkan, tetapi ia telah menambah setelah ucapannya :”Dan bagi sahabat-sahabatnya di pasar-pasar, ia tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi memaafkan dan mengampuni”.

Kedua, cerita dha’if, contohnya adalah atsar yang diriwayatkan oleh Al-Razi dan di nukil oleh Ibnu Katsier QS. Qaf :50, ia berkata : sesungguhnya atsar tersebut atsar gharib dan tidak shahih, ia menganggapnya sebagai cerita khurafat Bani Israil”. Ketika menafsirkan :

öqs9ur $yJ¯Rr& ’Îû ÇÚö‘F{$# `ÏB >otyfx© ÒO»n=ø%r& ãóst7ø9$#ur ¼çn‘‰ßJtƒ .`ÏB ¾Ínω÷èt/ èpyèö7y™ 9çtø2r& $¨B ôNy‰ÏÿtR àM»yJÎ=x. «!$# 3 ¨bÎ) ©!$# ̓tã ÒOŠÅ3ym ÇËÐÈ

Dan laut, ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudahnya” (QS. Luqman 31: 27)

Dalam atsar itu disebutkan : Ibnu Abu Hatim berkata, telah berkata ayahku, ia berkata : Aku mendapat berita dari Muhammad bin Ismail Al-Makzumi, telah menceritakan kepada Laits bin Abu Sulaiman, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata : Allah SWT telah menciptakan di bawah ini laut melingkupnya, di dasar laut ia menciptakan sebuah gunung yang di sebut gunung Qaf. Langit dunia ini ditegakkan diatasnya. Di bwah gunung tersebut Allah nenciptakan bumi seperti bumi ini yang jumlahnya tujuh lapis. Kemudian di bawahnya Ia menciptakan laut yang melingkupinya. Di bawahnya lagi ia menciptakan sebuah gunung lagi, yang juga bernama gunung Qaf. Langit jenis kedua diciptakan di atasnya. Sehingga jumlah semuanya : tujuh lapis bemi, tujuh lautan, tujuh gunung dan tujuh lapis langit.

5.  Pandangan Para Ulama

Pandangan para ulama dalam menceritakan atau meriwayatkan cerita Israiliyyat, apabila dilihat dari segi dalilnya, terdapat dalil-dalil yang melarang dan dalil-dalil yamg membolehkan.

  1. Dalil-dalil yang melarang

Di dalam Al Quran menyatakan bahwa Yahudi dan Nasrani telah mengubah sebagian besar isi kitabnya, sehingga tidak bisa dipercaya kebenarannya dan tidak bisa dipercaya periwayatannya. Surat Al Midah (5) ayat 5 menyatakan:

Ÿ@÷dr’¯»tƒ É=»tGÅ6ø9$# ô‰s% öNà2uä!$y_ $oYä9qߙu‘ ÚúÎiüt7ムöNä3s9 #ZŽÏWŸ2 $£JÏiB öNçFYà2 šcqàÿøƒéB z`ÏB É=»tGÅ6ø9$# (#qàÿ÷ètƒur Ætã 9ŽÏVŸ2 4 ô‰s% Nà2uä!%y` šÆÏiB «!$# ֑qçR Ò=»tGÅ2ur ÑúüÎ7•B ÇÊÎÈ

Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang Rasul kami kepadamu, menjelaskan banyak dari isi al kitab yang kamu sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkan, sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan.”

B. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya bahwasannya Rasulullah saw. Bersabda,

Janganlah kamu sakalian membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakannya, dan nyatakan oleh kalian, ‘kami semua beriman kepada Allah swt. Dan yang diturunkan kepada kami’.”

  1. Dalil-dalil yang membolehkan
  2. Ayat Al Quran yang memperbolehkan bertanya kepada ahli kitab tentang sesuatu seperti yang terdapat dalam surat Yunus (10) ayat 94.

bÎ*sù |MZä. ’Îû 7e7x© !$£JÏiB !$uZø9t“Rr& šø‹s9Î) È@t«ó¡sù šúïÏ%©!$# tbrâätø)tƒ |=»tFÅ6ø9$# `ÏB y7Î=ö6s% 4 ô‰s)s9 š‚uä!%y` ‘,ysø9$# `ÏB šÎi/¢‘ Ÿxsù £`tRqä3s? z`ÏB tûïΎtIôJßJø9$# ÇÒÍÈ

“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keraguan tentang apa yang kami turunkan padamu, tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari tuhanm. Sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”

b. Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab shahihnya.

Samapikanlah olehmu apa yang kalian dapat dariku, walaupun satu ayat, ceritakanlah tentang Bani Israil dan tidak ad dosa di dalamnya. Barang siapa sengaja berbohong kepadaku, maka bersiaplah dirinya untuk mendapatkan tempat di neraka.”

BAB III

KESIMPULAN

Setelah mempelajari, membahas dan menganalisis data atau materi secara menyeluruh mengenai pembahasan israiliyyat maka kesimpulan yang dapat penulis berikan adalah sebagai berikut:

1.  Israiliyyat adalah cerita-cerita atau kisah-kisah yang di bawa oleh ahli kitab dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menceritakan yang berkaitan tentang apa saja, baik itu tentang Diin Islam atau yang lainnya. Akan tetapi, kisah-kisah israiliyyat ada yang dibenarkan dan ada yang tidak dibenarkan. Karena kisah-kisah itu ada yang bertentangan dengan nash-nash dan hadis-hadis. Sehingga kita di sini perlu hati- hati dalam memahami kisah-kisah itu apakah kisah-kisah itu benar adanya atau hanya dikarang oleh ahli kitab saja untuk menghancurkan umat islam secara perlahan-lahan.

2. Tidak semua cerita Israiliyyat itu salah, maksudnya kita tidak boleh mendustakannya atau mempercayainya, cukup kita serahkan semuanya kepada Allah dan Rosulnya. Karena kita sebagai umat masa sekarang mengetahui cerita-cerita itu dari orang keorang dan dari buku kebuku tidak mengetahui aslinya kecuali dari Alquran dan hadis yang sudah jelas adanya.

DAFTAR PUSTAKA

  • Hamid, Drs. HM Sholahuddin, MA. 2002. Studi Ulumul Quran. Jakarta: Istimedia Cipta Nusantara.
  • Quthan, Mana’ul. 1995. Pembahasan Ilmu Alquran. Jakarta: Rimka Cipta
  • Zainuddin, Muhammad, MH. 2002. Metode Memahami Alquran. Bandung: Khazanah Intelektual.
  • Ash Shidieqy, Muhammad. 1999. Ilmu Alquran dan Tafsir. Jakarta: PT Pustaka Ritavila.
  • Supiana, M, Ag. M. Karman, M, Ag. 2002. Ulumul Quran. Bandung: Pustaka islamika.

[1] Muhammad Husain al-Khallaf, al-Yahudiyyah al-Masihiyyah wa al- Islam (Mesir: al-Muassaah al-Masihiyyah wa al-Misriyyah, 1962), hlm. 14. Abu ‘ABD Allah Muhammad al-Ansari al-Qurtubiy, al-Jami’li Ahkam Alquran. Jilid I (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah. T.t), hlm. 331.

[2] Muhammad Husain al-Dzahabi, Israiliyyat fi al-Tafsir wa al-Hadia (Cet. IV; Kairo: Maktabah Wahbah, t.t), hlm 13.

[3] Ahmad Khalil Arsyad, Dirash fi Alquran (Mesir: Dar al-Ma’ruf, 1972), hlm. 115

[4] Mahmud Basuni Fawdah, al-Tafsir Wa Manahiuh, diterjemahan oleh HM. Moehtar Zurni dan Abdul Qodir Hamid dengan judul : Tafsir-tafsir Alquran: perkenalan dengan Metodologi Tafsir (Cet. Ke-1 ; Bandung: Pustaka, 1987), hlm 56.

[5] Muhammad Husein al-Dzahabi, op.cit,. hal. 142

About these ads
Komentar
  1. lukman mengatakan:

    as’ ustadz. boleh minta kitab arab Mahmud Basuni Fawdah, al-Tafsir Wa Manahiuh

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s