Manajemen Piutang

Posted: 18/01/2011 in Ekonomi Syariah
Tag:,

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manajemen merupakan komponen terpenting internal dalam suatu oragnisasi perusahahan, oleh karena itu dibutuhkan seorang manajer haruslah luwes, fleksibel, dalam segala bidang, agar jalannya suatu perusahaan dengan  baik, dan  komunikatif adalah hal yang terpenting juga dalam jiwa seorang manjer, agar antara manajer satu dengan yang lain bisa dengan mudah melaksanakan tugas masing-masing dari yang diembanya.

Persediaan dan piutang dagang adalah dua perkiraan aktiva lancar yang terbesar. Secara bersama-sama kedua jenis aktiva ini mencakup hampir 80% dari aktiva lancar dan lebih dari 30% total aktiva untuk semua industri manufaktur. Manajemen dan kebijakan kredit yaitu dasar untuk pengambilan keputusan pemberian kredit. Keputusan itu melibatkan standar kredit, syarat-syarat kredit, dan penentuan siapa yang akan menerima kredit.

Untuk itu seorang manajemen harus mengetahui akan hal itu, dan  itu akan kita bahas pada kesempatan pada makalah kami ini agar proses terjadinya pengambilan keputusan dalam suatu perusahaan bisa berjalan dengan baik.

B. Rumusan Masalah

1.      Apa saja kebijakan manajemen kredit?

2.      Bagaimana analisis kredit?

3.      Apa saja persyaratan kredit?

4.      Bagaimana kebijakan kredit?

5.      Apa faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan kredit?

C. Tujuan Masalah

1.      Mengetahuai Apa saja kebijakan manajemen

2.      Mengatahui Bagaimana analisis kredit.

3.      Memahami Apa saja persyaratan kredit.

4.      Memahami Bagaimana kebijakan kredit dilaksanakan.

5.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan kredit.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Kebijakan Manajemen Kredit

Setiap perubahan kebijaksanaan kredit yang dilakukan korporasi akan merupakan keputusan yang menyangkut trade-off antara kenaikan profitabilitas di satu sisi dan resiko di sisi lain.[1]

Manajemen kredit menyangkut bidang keputusan sebagai berikut:

1.    Analisis risiko kredit

2.    Menetapkan standar untuk menerima atau menolak risiko kredit

3.    Menspesifikasikan syarat kredit

4.    Memutuskan bagaimana membiayai piutang usaha kredit yang ada

5.    Menetapkan siapa yang menanggung risiko kredit

6.    Menetapkan kebijakan dan praktik penagihan

7.    Menghindari optimisasi yang kurang dari masing-masing departemen.[2]

B. Analisis Kredit

Suatu analisis kredit menggambarkan tentang suatu proses untuk melakukan penilaian atau evaluasi apakah pelanggan dapat diberikan kredit atau tidak. Analisis kredit berusaha untuk menetapkan siapa yang harus menerima kredit dan berdasarkan kondisi apa. Dua aspek dari proses itu harus dibedakan yaitu langganan baru versus langganan yang ada. Yang kedua tidak begitu sulit karena pengalaman memberikan informasi yang cukup banyak.

Selain itu, perusahaan akan melaksanakan analisisnya sendiri untuk mengambil keputusan yang independen. Dalam kredit dagang, perusahaan melakukan baik penjualan kredit maupun memberikan kredit. Kedua kegiatan itu saling berkaitan. Bagaimana pelanggan berperilaku mungkin tergantung pada bagaimana organisasi penjualan memperlakukan pelanggan. Selain itu kebijakan dan praktik penagihan dari penjualan yang tidak disukai mungkin mempengaruhi pelanggan.

1. Sumber Informasi

Ada 2 sumber informasi eksternal yang tersedia.

a.       Dengan mengadakan pertemuan kelompok lokal dan dengan surat menyurat, pengalaman berhubungan dengan debitor dipertukarkan melalui asosiasi para pemberi kredit.

b.      Suatu biro pelaporan kredit (di Indonesia). Salah satu biro yang paling terkenal di AS adalah Dun & Bradstreet.

Sumber informasi kredit lainnya adalah bank-bank komersial dimana para pelanggan berhubungan. Walaupun bank tidak dapat memberikan data tentang jumlah simpanan dan pinjaman para nasabahnya, akan tetapi beberapa informasi umum dapat diperoleh. Biasanya bank akan mencantumkan jumlah deposito atau rekening gironya atau pinjaman dalam bentuk jumlah angka (misalnya enam angka menengah).

2. Analisis Informasi Kredit

Penilaian kredit akan timbul dengan analisis rasio keuangan yang relatif baku, dengan penekanan pada rasio likuiditas, leverage dan profitabilitas. Rasio tersebut akan dibandingkan dengan rasio gabungan untuk bidang industri usaha dimana perusahaan tersebut bergerak.[3]

Di samping analisis keuangan umum, juga dilakukan beberapa penilaian khusus yang berkaitan dengan kegiatan kredit. Informasi tentang pembayaran kembali yang dilakukan oleh para pelanggan dimasukkan dalam pertimbangan penilaian. Hal ini dilakukan dengan cara mengambil data hutang dagang dari neraca dan menghitung umur rata-rata hutang dagang. Periode pembayaran rata-rata tersebut kemudian dapat digunakan dengan dua data pembanding lain.

1.   Periode pembayaran aktual dari syarat kredit

2.   Periode pembayaran rata-rata untuk bidang usaha dimana pelanggan bergerak.

3.  Sistem Penilaian Formal

Setelah analisis informasi kredit, perusahaan mungkin berusaha mengungkapkan hasil-hasilnya dalam istilah kuantitatif. Ini secara umum dikenal sebagai penilaian kredit (kredit scoring), adalah merupakan suatu cara yang paling mudah dan murahuntuk menilai pemberian kredit.[4] Ini menyangkut ukuran numerik untuk meramalkan probabilitas bahwa langganan tepat pada waktunya. Kadang-kadang analisis dibalik untuk meramalkan probabilitas bahwa langganan tidak akan membayar tepat pada waktunya atau sesungguhnya akan menjadi bangkrut.

4. Standar Kredit

Standar kredit adalah salah satu criteria yang dipakai perusahaan untuk menyeleksi para langganan yang akan diberi kredit dan berapa jumlah yang harus diberikan[5]

Jika suatu perusahaan melakukan penjualan dengan kredit hanya kepada para pelanggan yang kuat, kerugian karena timbulnya piutang ragu-ragu biasanya kecil. Sebaliknya ada kemungkinan tingkat penjualan yang hilang tersebut dapat lebih besar daripada biaya yang dapat dihindarinya. Untuk menentukan standar kredit yang optimum perusahaan perlu membandingkan antara biaya marjinal pemberian kredit dan laba marjinal dari peningkatan penjualan.

Yang termasuk dalam biaya marjinal adalah biaya-biaya produksi dan penjualan akan tetapi untuk sementara yang perlu diperhatikan adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan kualitas para pelanggan, atau biaya kualitas kredit. Termasuk dalam biaya-biaya ini adalah (1) kerugian karena piutang ragu-ragu ; (2) biaya pemeriksaan dan penagihan yang lebih tinggi, dan (3) dan yang lebih besar yang tertahan dalam piutang dagang (yang mengakibatkan biaya  modal lebih tinggi, karena pelanggan yang kurang layak menerima kredit, menunda pembayarannya).

C. Syarat Kredit

Adalah kondisi pembayaran kredit yang ditawarkan kepada pelanggan; syarat kredit meliputi periode kredit dan potongan tunai. Periode kredit adalah jangka waktu dimulai dari ketika kredit diberikan, setelah itu kredit dianggap tertunggak. Secara umum, periode kredit dimulai pada tanggal yang tertera di faktur, tapi tergantung dari standar tiap industri, periode pembayaran bisa dimulai ketika barang diangkut, ketika barang diterima pembeli, pada awal bulan, pada akhir bulan, pada tengah bulan, atau pada waku-waktu tertentu sesuai syarat kredit.

Suatu syarat kredit menetapkan adanya periode di mana kredit diberikan dan potongan tunai (jika ada) untuk pembayaran yang dilakukan lebih awal. Misalnya jika perusahaan menetapkan syarat kredit kepada semua pelanggannya sebagai 2/10, net 30, maka potongan tunai sebesar 2 persen diberikan jika pembayaran dilakukan dalam jangka 10 hari dan jika potongan tunai tidak dimanfaatkan maka pembayaran harus dilakukan selambat-lambatnya dalam waktu 30 hari. Jika syarat yang ditentukan adalah “net 60” berarti bahwa perusahaan tidak memberikan potongan tunai, dan pembayaran harus dilakukan selambat-lambatnya 60 hari setelah tanggal faktur.

Lima aspek syarat kredit yaitu sifat ekonomik produk, kondisi penjual, kondisi pembeli, periode kredit, dan potongan tunai.

1. Sifat Ekonomik Produk

Barang-barang dengan perputaran penjualan yang tinggi dijual dengan syarat kredit yang relatif pendek, pembeli menjual kembali dengan cepat, yang menghasilkan uang tunai sehingga mampu membayar kepada pemasok.

2. Kondisi Penjual

Penjual yang keuangannya lemah membutuhkan uang tunai atau syarat kredit yang ditawarkannya berjangka sangat pendek.

3. Kondisi Pembeli

Pada umumnya pengecer yang sehat keuangannya menjual secara kredit, dan sebaliknya menerima kredit yang lebih lama.

4. Periode Kredit

Melonggarkan periode kredit dapat mendorong kenaikan penjualan, akan tetapi biaya atas dana yang terikat pada piutang dagang akan meningkat.

5. Potongan Tunai

Potongan tunai adalah reduksi harga didasarkan atas pembayaran yang dilakukan selama periode waktu yang ditentukan.

D. Seasonal Dating

Adalah syarat kredit yang digunakan untuk mendorong konsumen untuk melakukan pembelian di luar musim (out of season) dengan tidak mengharuskan pembayaran sampai tanggal waktu yang telah ditentukan, tidak peduli kapanpun barang itu dibeli.

Jika penjualan adalah musiman, perusahaan dapat menggunakan seasonal dating untuk menetapkan periode kresit. Contohnya, Slimware Inc., perusahaan baju renang, menjual dengan syarat kredit 2/10, net 30, May 1 dating. Ini berarti bahwa faktur baru mulai efektif pada tanggal 1 Mei, walaupun penjualan terjadi pada bulan januari. Diskon dapat diperoleh jika pembayaran dilakukan paling lambat tanggal 10; jika tidak pembayaran harus dilakukan secara penuh pada tanggal 30 Mei.

E. Kebijakan Perubahan Kredit

Kebijakan pemberian kredit sangat besar pengaruhnya terhadap penjualan. Seberapa jauh korporasi menetapkan kebijakan kredit dapat mempengaruhi permintaan barang atau penjualan, sehingga tingkat penjualan pada akhirnya sangat menentukan trade off antara laba dan biaya bed debt loses, opportunity investasi pada piutang. Sehingga perlu diadakan perubahan-perubahan kebijakan persyaratan krredit, hyang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

1.      Perubahan periode kredit,

2.      Perubahan standar kredit untuk menyusun criteria resiko dari nasabah apabila diberikan kredit,

3.      Perubahan kebijaksanaan penagihan.[6]

Adapun kebijakan kredit dan pengumpulan piutang mencakup beberapa keputusan :

a.       Kualitas account accepted

b.      Periode kredit

c.       Potongan tunai

d.      Persyaratan khusus

e.       Tingkat pengeluaran untuk pengumpulan piutang[7]

F. Memantau Manajemen Piutang

Dua masalah kunci yang dihadapi eksekutif dalam manajemen piutang dagang adalah peramalan dan pengendalian piutang dagang.

Masalah dengan DSO dan AS

Kita pertama akan menelaah dua metode yang digunakan secara luas oleh perseroan-perseroan, yaitu Tingkat Penjualan Harian dan Skedul Umur. Kita kemudian memusatkan perhatian kita pada pendekatan pola pembayaran, yang menawarkan cara yang lebih baik untuk memantau piutang dagang.

Menurut hasil survei Stone, dari seluruh perusahaan yang dilaporkan menggunakan prosedur sistematik untuk memproyeksikan piutang dagang, pada umumnya menggunakan proyeksi pro forma DSO atau beberapa rasio piutang dagang lainnya terhadap penjualan. Dalam pengendalian piutang dagang, metode AS (skedul umur piutang dagang) merupakan metode yang banyak dipakai.

Tingkat Penjualan Harian

Tingkat Penjualan Harian Rata-rata (DSO atau Day’s Sales Outstanding) pada waktu tertentu t biasanya dihitung sebagai rasio piutang terhadap penjualan harian :

DSOt = Total ARt

Penjualan Harian

Angka penjulan harian diperoleh dengan merata-ratakan penjualan sepanjang periode waktu yang terakhir. Periode rata-ratanya bisa 30 hari, 60 hari, 90 hari atau periode lain yang relevan. Jelas bahwa DSO dipengaruhi oleh tingkat penjualan dan periode rata-rata yang digunakan.

Skedul Umur Piutang Dagang

Skedul Umur Piutang Dagang adalah persentasi dari piutang dagang akhir kuartal dalam kelompok umur yang berbeda. Istilah kelompok umur di sini merupakan periode waktu di mana piutang dagang terjadi sejak waktu penjualan. Skedul Umur piutang Dagang yang baik menunjukan persentase yang kecil piutang dagang akhir kuartal dari penjualan yang lama, dengan persentase yang tinggi berdasarkan penjualan bulan-bulan yang terakhir.

G.  Faktor-Faktor Lain Yang Mempengaruhi Kebijakan Kredit

1.   Potensi Laba (Profit Potential)

Jika dapat menjual secara kredit dan sekaligus membebankan bunga pada piutang dagang tersebut, penjualan kredit sebenarnya lebih menguntungkan daripada penjualan tunai.

2.    Pertimbangan Legal (Legal Consideration)

Adalah ilegal jika perusahaan membebankan harga yang berbeda diantar konsumen-konsumen kecuali perbedaan harga ini diperbolehkan secara legal.

3.     Instrumen Kredit (Credit Instruments)

-   Open Account

-   Promissory Note

-   Commecial Draft

-   Conditional Sales Contract

Cara membuat standar kredit, meliputi:

1.        Kerugian dari piutang macet

2.        Biaya pemeriksaan dan penagihan

3.        Penambahan modal untuk piutang dagang

Untuk meningkatakan kualitas kredit dibuat kriteria penilaian kredit yaitu 5C:

1.      Character (kepribadian), dari pihak yang berwewenang dari pembelian kredit yang berkaitan dengan kepercayaan perusahaan pada janji yang bersangkutan untuk melunasi hutang dagangnya.

2.      Capacity (Kemampuan), penilaian subjektif yang diukur dari prestasi bisnisnya di masa lampau.

3.      Capital (Modal), dapat dilihat dari posisi keuangan perusahaan dengan mengukur struktur modalnya dan likuiditasnya.

4.      Collateral (Jaminan berupa dana tunai pada giro)

5.      Condition (Kondisi ekonomi yang berdampak pada usaha pelanggan)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Manajemen kredit menyangkut bidang keputusan sebagai berikut: Analisis risiko kredit, Menetapkan standar untuk menerima atau menolak risiko kredit, Menspesifikasikan syarat kredit,  Memutuskan bagaimana membiayai piutang usaha kredit yang ada, Menetapkan siapa yang menanggung risiko kredit, Menetapkan kebijakan dan praktik penagihan, Menghindari optimisasi yang kurang dari masing-masing departemen.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi kebijakan kredit adalah potensi laba, perimbangan legal, dan instrument kredit

B. Saran

Di harapkan dengan pengetahuan ini, kita dapat mengaplikasikanya ketika kita sudah manjadi sebuah menajer dalam sebuah perusahaan dengan baik, karena masalah didalam dalam menjalankan tugas menjadi manajer sangatlah kompleks permaslahan yang ada, dan ini adalah salah satu sebuah tugas yang di jalankan oleh seoarang manajer. Yang merupakan salah satu komponen penting dalam pengoperasian sebuah perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

Sartono Agus 2000, Manajemen Keuangan,Yogyakarta: BPFE.

Tampubolon Manahan P.2005, Manajemen Keuangan.Bogor: Ghalia  Indonesia.

Zainal Arifin Agus, Manajemen Keuangan, Pusat Pengembangan Bahan Ajar, UMB


[1] Manahan P. Tampubolon, Manajemen Keuangan, (Bogor: Ghalia Indonesia)2005, Hal.79

[2] Arifin agus zainal, Manajemen Keuangan, Pusat Pengembangan Bahan Ajar, UMB

[3] Arifin agus zainal, Ibid.

[4] Manahan P. Tampubolon, Ibid, Hal.80

[5] Agus Sartono, Manajemen Keuangan, (Yogyakarta: BPFE) 2000, Hal.542

[6] Manahan P. Tampubolon, Opcit, Hal.82

[7] Agus Sartono, Ibid, Hal.548

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s