Perempuan-Perempuan dan Laki-Laki yang Haram dinikahi

Posted: 18/01/2011 in Fiqh
Tag:, , , , , ,


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”\@MS Mincho”;}

I. PENDAHULUAN

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, inayah dan hidayah-Nya lah penulis bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Perempuan-Perempuan dan Laki-Laki yang Haram Dinikahi”. Dan tak lupa Shalawat beserta Salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Junjungan Alam Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, Sahabat dan semoga pula sampai kepada kita semua selaku umat-Nya.

Masalah nikah memang termasuk bidang muamalah. Namun dalam batas-batas tertentu, Allah telah mengatur tata cara nikah yang diridlai-Nya dan dapat mengantarkan muslim membina keluarga bahagia, dan itulah sebenarnya sisi ibadah dari sebuah pernikahan. Apabila ada beberapa persoalan yang, secara tekstual, belum disebutkan ketentuan hukumnya dalam al-Qur’an dan Hadits, maka ketentuan hukumnya dapat dikembalikan kepada tujuan utama syari’at Islam, yaitu memberikan manfaat dan menghindarkan kerusakan (mudlarat).

Dalam hal ketentuan-ketentuan dalam hal nikah diatas juga mengatur tentang orang-orang yang halal dan juga haram untuk dinikahi oleh kita. Pada makalah penulis ini akan disajikan pengetahuan mengenai perempuan-perempuan dan laki-laki yang haram dinikahi oleh kita. Untuk lebih jelas membahas hal tersebut maka penulis menyajikannya berikut ini.

II. PEMBAHASAN

A. Perempuan-Perempuan Yang Haram Dinikahi

Tidak semua perempuan boleh dinikahi, tetapi syarat perempuan yang boleh dinikahi hendaklah dia bukan orang yang haram bagi laki-laki yang akan menikahinya, baik haramnya untuk selamanya ataupun sementara.

Yang haram selamanya, yaitu perempuan yang tidak boleh dinikahi oleh laki-laki sepanjang masa. Sedang yang haram sementara yaitu perempuannya tidak boleh dikawininya selama waktu tertentu dan dalam keadaan tertentu. Bilamana keadaannya sudah berubah haram sementaranya hilang dan menjadi batal.[1]

1. Sebab-Sebab Diharamkan Selamanya

Sebab-sebab diharamkan selamanya berdasarkan firman Allah SWT :

ôMtBÌhãm öNà6ø‹n=tã öNä3çG»yg¨Bé& öNä3è?$oYt/ur öNà6è?ºuqyzr&ur öNä3çG»£Jtãur öNä3çG»n=»yzur ßN$oYt/ur ˈF{$# ßN$oYt/ur ÏM÷zW{$# ãNà6çF»yg¨Bé&ur ûÓÉL»©9$# öNä3oY÷è|Êö‘r& Nà6è?ºuqyzr&ur šÆÏiB Ïpyè»|ʧ9$# àM»yg¨Bé&ur öNä3ͬ!$|¡ÎS ãNà6ç6Í´¯»t/u‘ur ÓÉL»©9$# ’Îû Nà2͑qàfãm `ÏiB ãNä3ͬ!$|¡ÎpS ÓÉL»©9$# OçFù=yzyŠ £`ÎgÎ/ bÎ*sù öN©9 (#qçRqä3s? OçFù=yzyŠ ÆÎgÎ/ Ÿxsù yy$oYã_ öNà6ø‹n=tæ ã@Í´¯»n=ymur ãNà6ͬ!$oYö/r& tûïɋ©9$# ô`ÏB öNà6Î7»n=ô¹r& br&ur (#qãèyJôfs? šú÷üt/ Èû÷ütG÷zW{$# žwÎ) $tB ô‰s% y#n=y™ 3 žcÎ) ©!$# tb%x. #Y‘qàÿxî $VJŠÏm§‘ ÇËÌÈ

Artinya : “diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa : 23)

a. Karena Nasab

1) Ibu kandung (perempuan yang melahirkan kita), termasuk dalam pengertian ibu yakni ibunya ibu, neneknya ibu, ibunya bapak, neneknya bapak dan seterusnya ke atas, berdasarkan firman Allah  :

artinya: ”diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu” (QS. An-Nisa’: 23)

2) Anak perempuan kandung (semua anak perempuan yang kau lahirkan), termasuk di dalamnya anak perempuan kandungmu, anak-anak perempuannya seperti cucu perempuan dan cicit (anak cucu) perempuan dan seterusnya ke bawah, berdasarkan firman Allah:

artinya: ”anak-anakmu yang perempuan” (QS. An-Nisa’: 23)

3) Saudara perempuan baik saudara kandung, saudara sebapak ataupun saudara seibu, berdasarkan firman Allah:

artinya: ”saudara-saudaramu yang perempuan” (QS. An-Nisa’: 23)

4) Saudara perempuan bapak (bibi dari bapak)[2], berdasarkan firman Allah:

artinya: ”saudara-saudara bapakmu yang perempuan” (QS. An-Nisa’: 23)

5) Saudara perempuan ibu (bibi dari ibu)[3],  berdasarkan firman Allah:

artinya: ”saudara-saudara ibumu yang perempuan” (QS. An-Nisa’: 23)

6) Anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan dari saudara laki-laki), dan cucu perempuan saudara laki-laki, berdasarkan firman Allah:

artinya: ”anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki” (QS. An-Nisa’: 23)

7) Anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan dari saudara perempuan), berdasarkan firman Allah:

artinya: ”anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan” (QS. An-Nisa’: 23)[4]

b. Yang Haram Karena Pernikahan (mushoharoh)[5]

1) Ibu istri (ibu mertua), neneknya dari pihak ibu, neneknya dari pihak ayah ke atas, dan tidak dipersyaratkan tahrim ini suami harus dukhul “bercampur” lebih dahulu. Meskipun hanya sekedar akad nikah dengan puterinya, maka sang ibu menjadi haram atau menantu tersebut.sebagaimana firman Allah :

…..dan ibu-ibu isteri kamu.” (Q.S. An-Nisa : 23)

2) Anak tiri perempuan dari isteri yang sudah didukhul (dikumpul), oleh karena itu, manakala akad nikah dengan ibunya sudah dilangsungkan namun belum sempat (mengumpulinya), maka anak perempuan termasuk halal bagi mantan suami ibunya itu. Hal ini didasarkan pada firman Allah,

“Dan anak tiri perempuan kamu yang ada di tangan kamu dari istrimu yang telah kamu gauli. Jika kau belum menggauli dengan isteri kalian itu (dan sudah kalian campur), maka tidak berdosa kalian menikahinya.” (An-Nisaa:23).

3) Isteri anak kandung, isteri cucunya, baik yang laki-laki maupun perempuan dan seterusnya. Sebagaimana firman Allah :

“…Dan isteri-isteri anak kandung kamu.” (Q.S. An-Nisa : 23)

4) Ibu tiri diharamkan atas anak menikahi ibu tirinya. Sebagaimana firman Allah:

Dan janganlah kamu nikah dengan ibu-ibu tiri kamu kecuali yang sudah terjadi dimasa lalu karena ia merupakan perbuatan yang kerji dan dibenci dan jalan yang paling buruk.” (Q.S. An-Nisa : 22)

Golongan Hanafi berpendapat, seseorang yang berzina dengan perempuan atau menyentuhnya atau menciumnya, atau melihat kemaluannya dengan bernafsu, maka haramlah baginya menikah dengan ibu perempuan tersebut atau dengan anak-anaknya.begitu juga bagi perempuan tersebut haram nikah dengan bapak laki-laki tadi atau anak-anaknya. Sebab menurut mereka haram nikah karena perzinahan dikiaskan dengan haram nikah karena pernikahan, dan disamakan dengan hokum ini segala perbuatan-perbuatan yang ada hubungannya dengan bersetubuh (seperti : pegang atau cium) dan perbuatan-perbuatan yang mendorong untuk  bersetubuh (seperti: melihat dan sebagainya). [6]

Tetapi menurut jumhur ulama berpendapat bahwa zina tidak dapat menyebabkan haram sebagaimana dengan haramnya karena pernikahan. Alasannya adalah firman sebagaimana Hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Aisyah :”Bahwa Nabi pernah ditanya tentang laki-laki yang telah berzina dengan perempuan, kemudian ia ingin menikahi perempuan tersebut atau  anak perempuannya. Maka Rasulullah SAW bersabda;

”Barang haram tidak mengharamkan yang halal, dan  yang menharamkan pernikahan itu hanyalah pernikahan.”

c. Haram Karena Sebab Susuan

Demikian juga dilarang untuk menikah yang disebablkan adanya faktor susuan (QS. An-Nisa : 23). Mereka itu adalah

1) Ibu yang menyusui. Karena ia menjadi ibu bagi anak yang disusuinya

2) Ibu dari ibu yang menyusui (nenek). Karena ia telah menjadi neneknya.

3) Ibu dari suami wanita yang menyusui. Karena ia juga menjadi neneknya

4) Saudara perempuan ibu yang menyusui. Karena ia menjadi bibi bagi yang disusui.

5) Saudara perempuan dari suami ibu yang menyusui. Karena ia juga menjadi bibi bagi yang disusui dari pihak bapak.

6) Cucu perempuan dari ibu yang menyusui. Karena ia juga menjadi bibi bagi yang disusui dari pihak bapak.

7) Saudara perempuan dari ibu  dan bapak. Yaitu  baik berbarengan dengan anak yang disusuinya maupun sebelum atau sesudahnya. Begitu pula dengan saudara  dari bapak susuan, yaitu wanita yang diusui ole istri bapak. Juga saudara perempuan dari ibu susuan yaitu wanita yang dsusui oleh ibu dengan air susu yang keluar dari suami lain.[7]

d. Haram disebabkan saling melaknat

Diharamkan bagi seorang muslim menikahi wanita yang telah dilaknatinya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

dua orang (laki-laki dan perempuan) yang saling melaknat, jika berpisah, tidak boleh disatukan kembali selamanya.” (H.R. Malik dan Abu DAwud)

Menurut Imam malik, dua orang (laki-laki dan perempuan) yang saling melaknat) tidak boleh menikah selamanya.[8]

2. Sebab-Sebab Diharamkan Sementara[9]

a.  Haram untuk mengumpulkan (menikahi dalam waktu bersamaan) antara 2 wanita bersaudara, berdasarkan firman Allah:

artinya: ”dan diharamkan kamu memadu antara dua perempuan yang bersaudara kecuali apa yang telah lalu” (QS. an-Nisa’: 23).

Demikian juga haram mengumpulkan antara seorang wanita dengan bibinya, berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

لاَ يُجْمَعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا ، وَلاَ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَخَالَتِهَا

“Tidak dikumpulkan seorang wanita dengan bibi dari bapaknya dan tidak pula dengan bibi dari ibunya” (mutafaq ’alaih)

Dan Rasulullah telah menjelaskan hikmah ketika beliau bersabda:

إِنَّكُمْ إِنْ فَعَلْتُمْ ذَلِكَ قَطَعْتُمْ أَرْحَامَكُمْ

“Sesungguhnya apabila kalian melakukan hal ini, kalian telah memutus tali rahim kalian”

Yang demikian ini akan terjadi apabila di antara madu terjadi saling cemburu. Apabila di antara mereka dari kerabat dekat maka akan terjadi pemutusan tali rahim. Apabila seorang wanita telah dicerai dan habis iddahnya, maka menjadi halal saudarinya atau bibinya karena telah hilangnya larangan.

b.  Tidak boleh mengumpulkan (menikahi dalam waktu bersamaan) lebih dari 4 wanita, berdasarkan firman Allah:

”Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat” (QS. An-Nisa’: 3).

Dan sungguh Nabi SAW telah memerintahkan orang yang mempunyai istri lebih dari 4 sebelum Islam untuk menceraikan istri-istri yang lebih dari 4 (empat).

c.  Tidak boleh menikahi wanita yang sedang dalam masa ’iddah (menunggu) karena pisah dengan suaminya yang pertama, berdasarkan firmanAllah:

artinya: ”dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya” (QS. Al-Baqoroh: 235).

Di antara hikmah hal ini adalah bisa jadi wanita tersebut hamil, sehingga akan tercampur air mani dan rancunya nasab anak.

d.  Haram menikahi wanita yang berzina apabila diketahui zinanya sampai dia bertaubat dan habis ’iddahnya, berdasarkan firman Allah :

artinya: ”dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin” (QS. An-Nur:3).

e.  Haram bagi seorang laki-laki untuk menikahi istrinya yang telah dicerai tiga sehingga dia (mantan istri) telah digauli oleh suami baru dengan pernikahan yang benar, berdasarkan firman Allah:

artinya: ”Cerai itu dua kali …” sampai kepada firma-Nya: ”Maka jika dia menceraikannya” yakni cerai yang ketiga, ”Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain.” (QS. Al-Baqoroh: 230)

f.  Haram menikahi wanita yang sedang berihram (haji atau umroh) sampai dia halal dari ihromnya. Demikian juga tidak boleh bagi laki-laki yang sedang ihrom untuk melakukan akad nikah dengan seorang wanita sedangkan dia masih berihrom, berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW:

لاَ يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلاَ يُنْكَحُ وَلاَ يَخْطُبُ

”Orang yang ihrom tidak boleh menikah, dinikahi dan tidak boleh melamar” (HR. Jama’ah kecuali Bukhori)

g.  Laki-laki mukmin tidak boleh menikahi wanita kafir, berdasarkan firman Allah:

artinya: ” dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.” (Al-Baqoroh: 221)

Dan firman Allah:

artinya: ”dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir” (Al-Mumtahanah: 10).

Kecuali wanita-wanita merdeka (yang menjaga kehormatan) dari ahli kitab, maka boleh bagi laki-laki muslim untuk menikahinya, berdasarkan firman Allah:

artinya: ”(dan Dihalalkan mangawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-kitab sebelum kamu” (Al-Maidah: 5),

Yakni halal bagi kalian. Ayat ini menjadi pengecualian (pengkhususan) dari keumuman dua ayat sebelumnya dalam pengharaman menikahi wanita-wanita kafir bagi laki-laki mu’min, dan para Ulama’ telah berijma’ atas hal ini.

h.  Haram bagi muslim merdeka untuk menikahi budak muslimah, karena yang demikian akan menghilangkan status budak pada anak-anaknya. Kecuali apabila khawatir dirinya akan terjerumus kepada zina dan belum mampu membayar mahar wanita merdeka atau harga budak wanita, maka boleh bagi dia ketika itu untuk menikahi budak muslimah, berdasarkan firman Allah:

artinya: ”dan Barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka melakukan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separoh hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kemasyakatan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antara kamu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’: 25)

i.  Haram bagi tuan laki-laki untuk menikahi budak perempuannya, karena akad kepemilikan (atas budak) lebih kuat daripada akad nikah. Dan tidak bergabung suatu akad dengan akad yang lebih lemah darinya.

B. Laki-Laki Yang Haram Dinikahi

1. Sebab-Sebab Diharamkan Selamanya

Laki-laki yang haram dinikahi selamanya dibagi menjadi tiga macam[10].

a. Laki-laki yang haram dinikahi karena nasab (keluarga)

Laki-laki yang haram dinikahi dari nasab adalah yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam surat An-Nur 31:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka,…”

Para ulama’ tafsir menjelaskan: ” Sesungguhnya lelaki yang haram dinikahi bagi wanita adalah yang disebutkan dalam ayat ini, mereka adalah:

1). Ayah (Bapak-Bapak)

Termasuk dalam katagori ayah (bapak) adalah kakek, baik dari bapak maupun ibu. Juga bapak-bapak mereka ke atas. Adapun bapak angkat, maka dia tidak termasuk laki-laki yang haram dinikahi berdasarkan firman Allah Ta’ala;

“Dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu …. “(Al-Ahzab: 4)

Dan berkata Imam Muhammad Amin Asy Syinqithi rahimahullah, “Difahami dari firman Allah Ta’ala ” Dan istri anak kandungmu …” (QS. An Nisa: 23) bahwa istri anak angkat tidak termasuk diharamkan, dan hal ini ditegaskan oleh Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 4, 37,40″ (Adlwaul Bayan 1/232)

2). Anak Laki-Laki

Termasuk dalam kategori anak laki-laki bagi wanita adalah: cucu, baik dari anak laki-laki maupun anak perempuan dan keturunan mereka. Adapun anak angkat, maka dia tidak termasuk laki-laki yang haram dinikahi berdasarkan keterangan di atas. Dan tentang anak tiri dan anak menantu akan dibahas pada babnya.

3). Saudara Laki-Laki, Baik Sekandung, Sebapak Atau Seibu Saja.

4). Anak Laki-Laki Saudara (Keponakan)

Baik dari saudara laki-laki maupun perempuan dan anak keterunan mereka.

5). Paman, Baik dari bapa atau pun dari ibu.

Berkata syaikh Abdul karim Ziadan;” Tidak disebutkan paman termasuk laki-laki yang haram dinikahi dalam ayat ini (An-Nur 31) dikarenakan kedudukan paman sama seperti kedudukan orang tua, bahkan kadang-kadang paman juga disebut sebagai bapak, Allah berfirman ;

“Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya:”Apa yang kamu sembah sepeninggalku”. Mereka menjawab:”Kami akan menyembah Tuhan-mu dan Tuhan bapak-bapakmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, …”. (QS. Al-Baqarah :133)

Sedangkan Ismai’il adalah paman dari putra-putra Ya’qub. [Lihat Al-Mufashal Fi Ahkamil Mar’ah 3/159]

Bahwasanya paman termasuk laki-laki yang haram dinikahi adalah pendapat jumhur ulama’. Hanya saja imam Sya’bi dan Ikrimah, keduanya berpendapat bahwa paman bukan termasuk laki-laki yang haram dinikahi karena tidak disebutkan dalam ayat (An-Nur 31), juga dikarenakan hukum paman mengikuti hukum anaknya.” (Lihat afsir Ibnu Katsir 3/267, Tafsir Fathul Qodir 4/24, dan Tafsir Qurthubi 12/155)

b. Laki-laki yang haram dinikahi karena persusuan

Pembahasan ini dibagi menjadi beberapa pasal sbb:

1). Definisi Hubungan Persusuan

Persusuan adalah masuknya air susu seorang wanita kepada anak kecil dengan syarat-syarat tertentu. [Al Mufashol Fi Ahkamin Nisa’ 6/235]. Sedangkan persusuan yang menjadikan seseorang menjadi laki-laki yang haram dinikahi adalah lima kali persusuan pada hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anha.
“Termasuk yang di turunkan dalam Al-Qur’an bahwa sepuluh kali pesusuan dapat mengharamkan (pernikahan) kemudian dihapus dengan lima kali persusuan.” [HR Muslim 2/1075/1452, Abu Daud 2/551/2062, Turmudhi 3/456/1150 dan lainnya) Ini adalah pendapat yang rajih di antara seluruh pendapat para ulama’. (lihat Nailul Author 6/749, Raudloh Nadiyah 2/175]

2). Dalil Hubungan Laki-laki yang haram dinikahi dari hubungan persusuan.
Al-Qur’an :
” … Juga ibu-ibumu yang menyusui kamu serta saudara perempuan sepersusuan …” (QS. An-Nisa’ : 23)

Sunnah :
Dari Abdullah Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“Diharamkan dari persusuan apa-apa yang diharamkan dari nasab.” [HR Bukhori 3/222/2645 dan lainnya]


3). Siapakah Laki-laki yang haram dinikahi wanita sebab persusuan?

Laki-laki yang haram dinikahi dari sebab persusuan seperti laki-laki yang haram dinikahi dari nasab yaitu:

[a].  Bapak persusuan (Suami ibu susu)

Termasuk juga kakek persusuan yaitu bapak dari bapak atau ibu persusuan, juga bapak-bapak mereka di atas.

[b].  Anak laki-laki dari ibu susu

Termasuk di dalamnya adalah cucu dari anak susu baik laki-laki maupun perempuan. Juga anak keturunan mereka.

[c].  Saudara laki-laki sepersusuan, baik kandung maupun sebapak, atau seibu dulu.

[d]. Keponakan sepersusuan (anak saudara persusuan), bail persusuan laki-laki atau perempuan, juga keturuanan mereka

[e]. Paman persusuan (Saudara laki-laki bapak atau ibu susu)

(Lihat Al Mufashol 3/160 dengan beberapa tambahan)

c. Laki-laki yang haram dinikahi karena mushoharoh

1). Definisi Mushoharoh

Berkata Imam Ibnu Atsir; ” Shihr adalah laki-laki yang haram dinikahi karena pernikahan.” [An Niyah 3/63]

Berkata Syaikh Abdul Karim Zaidan; ” Laki-laki yang haram dinikahi wanita yang disebabkan mushoharoh adalah orang-orang yang haram menikah dengan wanita tersebut selam-lamanya seperti ibu tiri, menantu perempuan, mertua perempuan. [Lihat Syarah Muntahal Irodah 3/7]

2).   Dalil Laki-laki yang haram dinikahi Sebab Mushaharoh
Firman Allah:

“Dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka….” (QS. An-Nur 31)

“Dan janganlah kamu gauli wanita-wanita yang telah digauli oleh ayahmu…” (QS. An-Nisa’ : 22)

“Diharamkan atas kamu (mengawini) …ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isteri kamu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya;(dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu);.(QS. An-Nisa :23)


3). Siapakah laki-laki yang haram dinikahi wanita dari sebab mushoharoh
Ada lima yakni :

[a]. Suami

Berkata Imam Ibnu Katsir ketika manafsirkan friman Allah Ta’ala surat An Nur 31:

“Adapun suami, maka semua ini (bolehnya menampakkan perhiasan, perintah menundukkan pandangan dari orang lain-pent-) memang diperuntukkan baginya. Mka seorang istri berbuat sesuatu untuk suaminya yang tidak dilakukannya dihadapan orang lain.: [Tafsir Ibnu Katsir 3/267]

[b]. Ayah Mertua (Ayah Suami)

Mencakup ayah suami datu bapak dari ayah dan ibu suami juga bapak-bapak mereka ke atas. [Lihat Tafsir sa’di hal 515, Tafsir Tahul Qodir 4/24 dan Al-Qurthubi 12/154]

[c]. Anak Tiri (Anak Suami Dari Istri Lain)

Termasuk anak tiri adalah cucu tiri baik cucu dari anak tiri laki-laki maupun perempuan, begitu juga keturunan mereka [Lihat Tafsir Tahul Qodir 4/24 dan Al-Qurthubi 12/154]

[d]. Ayah Tiri (Suami Ibu Tapi Bukan Bapak Kandungnya)

Maka haram bagi seorang wanita untuk dinikahi oleh ayah tirinya, kalau sudah berjima’ dengan ibunya. Adapun kalau belum maka hal itu dibolehkan [Lihat Tafsir Qurthubi 5/74]

[e]. Menantu Laki-Laki (Suami putri kandung) [Lihat Al Mufashol 3/162]

Dan laki-laki yang haram dinikahi ini terjadi sekedar putrinya di akadkan kepada suaminya. [Lihat Tafisr Ibnu Katsir 1/417]

2. Sebab diharamkan sementara

a. Laki-laki yang sedang ihrom. tidak boleh bagi laki-laki yang sedang ihrom untuk melakukan akad nikah dengan seorang wanita sedangkan dia masih berihrom, berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW:

3. لاَ يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلاَ يُنْكَحُ وَلاَ يَخْطُبُ

”Orang yang ihrom tidak boleh menikah, dinikahi dan tidak boleh melamar” (HR. Jama’ah kecuali Bukhori)

b. Laki-Laki kafir. Tidak halal laki-laki kafir menikahi wanita muslimah, berdasarkan firman Allah:

artinya: ”dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman.” (QS. Al-Baqoroh: 221)

c. Haram bagi budak laki-laki untuk mengawini tuan perempuannya berdasarkan ijma’, karena yang demikian ini adalah saling menafikan keadaan wanita sebagai tuannya dan keadaan suaminya. Masing-masing di antara keduanya memiliki hukum tersendiri.

III. KESIMPULAN

Dalam memilih pasangan hidup kita hendaknya kita bisa memilah dan memilih pasangan kita tersebut dengan baik sesuai ketentuan syar’i bahwa ada adanya baik dari  perempuan-perempuan dan laki-laki yang haram dinikahi oleh kita. Pengharaman’ ini terbagi dua, Pertama: Tahrim Muabbad (pengharaman yang berlaku selama-lamanya), yaitu seorang perempuan tidak boleh menjadi isteri seorang laki-laki di segenap waktu. Sebab-sebab tahrim muaqqad (pengharaman selamanya) ada tiga: pertama karena nasab, kedua haram mushaharah (ikatan perkawinan) dan ketiga karena penyusuan. Dan yang kedua: Tahrim Muaqqat (pengharaman yang bersifat sementara), jika nanti keadaan berubah, gugurlah tahrim itu dan  menjadi halal untuk kita nikahi. Dan semoga kita bisa membina keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah sesuai dengan ketentuan dari syar’i yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sabiq, Sayid, Fiqh Sunnah, Bandung : Al-Ma’arif, 1990.

2. Uwaidah, Kamil Muhammad, Fiqh Wanita, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2007.

3. Admin, http://www.kaskus.us/showthread.php?p=229964743, , diakses pada 29 September 2010 pukul 19.45 WIB.

4. Hasan, Izul,  http://izulhasan.bebasonline.com/2010/02/09/11/50/mahram-dalam-nikah-wanita-yang-haram-dinikahi.islam, diakses pada 29 September 2010 pukul 19.30 WIB.

5. Maiza, natasia, http://munajahcinta.com/hukum-nikah-perempuan-yang-haram-dinikahi/hukum-nikah/03/2009/, diakses pada 29 September 2010 pukul 19.40 WIB.


[1] Sabiq, Sayid, Fiqh Sunnah, Bandung : Al-Ma’arif, 1990, hal. 93.

[2] Termasuk di sini adalah bibinya bapak kita, bibinya kakek dan seterusnya ke atas.

[3] Termasuk di sini adalah bibinya ibu kita, bibinya nenek dan seterusnya ke atas

[5] Maiza, natasia, http://munajahcinta.com/hukum-nikah-perempuan-yang-haram-dinikahi/hukum-nikah/03/2009/, diakses pada 29 September 2010 pukul 19.40 WIB.

[6] Sabiq, Sayid, Fiqh Sunnah, Bandung : Al-Ma’arif, 1990, hal. 98.

[7] Uwaidah, Kamil Muhammad, Fiqh Wanita, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2007, Hal. 392

[8] ibid

[10] Admin, http://www.kaskus.us/showthread.php?p=229964743, , diakses pada 29 September 2010 pukul 19.45 WIB.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s