Ijma

Posted: 24/01/2011 in Ushul Fiqh
Tag:, ,

I.  PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah SWT yang Maha Pengasih tanpa pernah pilih kasih dan Yang Maha Penyayang yang menyayangi tanpa pernah meminta imbalan dari mahluk-Nya, yang atas berkat rahmat, inayah serta hidayah-Nya lah saya sebagai penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Tak lupa shalawat serta salam semoga selalu trcurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, serta, umatnya yang membela risalahnya sampai akhir jaman.

ijma’, ialah kesepakatan mujtahid ummat Islam tentang hukum syara’ dari peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah SAW meninggal duni Obyek ijma’ ialah semua peristiwa atau kejadian yang tidak ada dasarnya dalarn al-Qur’an dan al-Hadits, peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan ibadat ghairu mahdhah (ibadat yanng tidak langsung ditujukan kepada Allah SWT) bidang mu’amalat, bidang kemasyarakatan atau semua hal-hal yang berhubungan dengan urusan duniawi tetapi tidak ada dasarnya dalam al-Qur’an dan al-Hadits

pada kesempatan kali ini saya mencoba memaparkan tentang konsep ijma dilihat dari pengertian ijma, dasar hukum ijma, rukun-rukun ijma, kemungkinan terjadinya ijma, macam-macam ijma, dan objek ijma. Dan saya berharap akalah yang saya buat ini bisa bermanfaat bagi diri saya pribadi, rekan-rekan mahasiswa, dan dosen.

 

 

 

 

 

 

II.  IJMA

1. Pengertian ijma’

Ijma’ menurut bahasa Arab berarti kesepakatan atau sependapat tentang sesuatu hal, seperti perkataan seseorang yang berati “kaum itu telah sepakat (sependapat) tentang yang demikian itu.”

Menurut istilah ijma’, ialah kesepakatan mujtahid ummat Islam tentang hukum syara’ dari peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. Sebagai contoh ialah setelah Rasulullah SAW meninggal dunia diperlukan pengangkatan seorang pengganti beliau yang dinamakan khalifah. Maka kaum muslimin yang ada pada waktu itu sepakat untuk mengangkat seorang khalifah dan atas kesepakatan bersama pula diangkatlah Abu Bakar RA sebagai khalifah pertama. Sekalipun pada permulaannya ada yang kurang menyetujui pengangkatan Abu Bakar RA itu, namun kemudian semua kaum muslimin menyetujuinya. Kesepakatan yang seperti ini dapat dikatakan ijma’.

 

2. Dasar hukum ijma’

Dasar hukum ijma’ berupa aI-Qur’an, al-Hadits dan akal pikiran.

a. Al-Qur’an

Allah SWT berfirman:

 

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãè‹ÏÛr& ©!$# (#qãè‹ÏÛr&ur tAqߙ§9$# ’Í<‘ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB (  ÇÎÒÈ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu.” (an-Nisâ': 59)

Perkataan amri yang terdapat pada ayat di atas berarti hal, keadaan atau urusan yang bersifat umum meliputi urusan dunia dan urusan agama. Ulil amri dalam urusan dunia ialah raja, kepala negara, pemimpin atau penguasa, sedang ulil amri dalam urusan agama ialah para mujtahid.

Dari ayat di atas dipahami bahwa jika para ulil amri itu telah sepakat tentang sesuatu ketentuan atau hukum dari suatu peristiwa, maka kesepakatan itu hendaklah dilaksanakan dan dipatuhi oleh kaum muslimin.

Firman AIlah SWT:

(#qßJÅÁtGôã$#ur È@ö7pt¿2 «!$# $Yè‹ÏJy_ Ÿwur (#qè%§xÿs? 4 ÇÊÉÌÈ

Artinya:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Ayat ini memerintahkan kaum muslimin bersatu padu, jangan sekali-kali bercerai-berai. Termasuk dalam pengertian bersatu itu ialah berijma’ (bersepakat) dan dilarang bercerai-berai, yaitu dengan menyalahi ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh para mujtahid.

Firman Allah SWT:

`tBur È,Ï%$t±ç„ tAqߙ§9$# .`ÏB ω÷èt/ $tB tû¨üt6s? ã&s! 3“y‰ßgø9$# ôìÎ6­Ftƒur uŽöxî È@‹Î6y™ tûüÏZÏB÷sßJø9$# ¾Ï&Îk!uqçR $tB 4’¯<uqs? ¾Ï&Î#óÁçRur zN¨Yygy_ ( ôNuä!$y™ur #·ŽÅÁtB ÇÊÊÎÈ  

Artinya: “Dan barangsiapa yang menantang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukan ia ke dalam jahannam dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisâ': 115)

Pada ayat di atas terdapat perkataan sabîlil mu’minîna yang berarti jalan orang-orang yang beriman. Jalan yang disepakati orang-orang beriman dapat diartikan dengan ijma’, sehingga maksud ayat ialah: “barangsiapa yang tidak mengikuti ijma’ para mujtahidin, mereka akan sesat dan dimasukkan ke dalam neraka.”

 

b. AI-Hadits

Bila para mujtahid telah melakukan ijma’ tentang hukum syara’ dari suatu peristiwa atau kejadian, maka ijma’ itu hendaklah diikuti, karena mereka tidak mungkin melakukan kesepakatan untuk melakukan kesalahan apalagi kemaksiatan dan dusta, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:  “umatku tidak akan bersepakat untuk melakukan kesalahan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

c. Akal pikiran

Setiap ijma’ yang dilakukan atas hukum syara’, hendaklah dilakukan dan dibina atas asas-asas pokok ajaran Islam. Karena itu setiap mujtahid dalam berijtihad hendaklah mengetahui dasar-dasar pokok ajaran Islam, batas-batas yang telah ditetapkan dalam berijtihad serta hukum-hukum yang telah ditetapkan. Bila ia berijtihad dan dalam berijtihad itu ia menggunakan nash, maka ijtihadnya tidak boleh melampaui batas maksimum dari yang mungkin dipahami dari nash itu. Sebaliknya jika dalam berijtihad, ia tidak menemukan satu nashpun yang dapat dijadikan dasar ijtihadnya, maka dalam berijtihad ia tidak boleh melampaui kaidah-kaidah umum agama Islam, karena itu ia boleh menggunakan dalil-dalil yang bukan nash, seperti qiyas, istihsan dan sebagainya. Jika semua mujtahid telah melakukan seperti yang demikian itu, maka hasil ijtihad yang telah dilakukannya tidak akan jauh menyimpang atau menyalahi al-Qur’an dan al-Hadits, karena semuanya dilakukan berdasar petunjuk kedua dalil ltu. Jika seorang mujtahid boleh melakukan seperti ketentuan di atas, kemudian pendapatnya boleh diamalkan, tentulah hasil pendapat mujtahid yang banyak yang sama tentang hukum suatu peristiwa lebih utama diamalkan.

 

3. Rukun-rukun ijma’

Dari definisi dan dasar hukum ijma’ di atas, maka ulama ushul fiqh menetapkan rukun-rukun ijma’ sebagai berikut:

1.    Harus ada beberapa orang mujtahid dikala terjadinya peristiwa dan para mujtahid itulah yang melakukan kesepakatan (menetapkan hukum peristiwa itu. Seandainya tidak ada beberapa orang mujtahid di waktu terjadinya suatu peristiwa tentulah tidak akan terjadi ijma’, karena ijma’ itu harus dilakukan oleh beberapa orang.

2.    Yang melakukan kesepakatan itu hendaklah seluruh mujtahid yang ada dalam dunia Islam. Jika kesepakatan itu hanya dilakukan oleh para mujtahid yang ada pada suatu negara saja, maka kesepakatan yang demikian belum dapat dikatakan suatu ijma’.

3.    Kesepakatan itu harus dinyatakan secara tegas oleh setiap mujtahid bahwa ia sependapat dengan mujtahid-mujtahid yang lain tentang hukum (syara’) dari suatu peristiwa yang terjadi pada masa itu. Jangan sekali-kali tersirat dalam kesepakatan itu unsur-unsur paksaan, atau para mujtahid yang diharapkan kepada suatu keadaan, sehingga ia harus menerima suatu keputusan. Kesepakatan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti dengan pernyataan lisan, dengan perbuatan atau dengan suatu sikap yang menyatakan bahwa ia setuju atas suatu keputusan hukum yang telah disetujui oleh para mujtahid yang lain. Tentu saja keputusan yang terbaik ialah keputusan sebagai hasil suatu musyawarah yang dilakukan para mujtahid.

4.    Kesepakatan itu hendaklah merupakan kesepakatan yang bulat dari seluruh mujtahid. Seandainya terjadi suatu kesepakatan oleh sebahagian besar mujtahid yang ada, maka keputusan yang demikian belum pasti ke taraf ijma’. Ijma’ yang demikian belum dapat dijadikan sebagai hujjah syari’ah.

 

4. Kemungkinan terjadinya ijma’

Jika diperhatikan sejarah kaum muslimin sejak zaman Rasulullah SAW sampai sekarang, dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya ijma’, maka ijma’ dapat dibagi atas tiga periode, yaitu:

1.    Periode Rasulullah SAW;

2.    Periode Khalifah Abu Bakar Shiddiq dan Khalifah Umar bin Khattab; dan

3.    Periode sesudahnya.

Pada masa Rasulullah SAW, beliau merupakan sumber hukum. Setiap ada peristiwa atau kejadian, kaum muslimin mencari hukumnya pada al-Qur’an yang telah diturunkan dan hadits yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW. Jika mereka tidak menemukannya dalam kedua sumber itu, mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah. Rasululah adakalanya langsung menjawabnya, adakalanya menunggu ayat al-Qur’an turunkan Allah SWT. Karena itu kaum muslimin masih satu, belum nampak perbedaan pendapat yang menetapkan hukum suatu peristiwa atau kejadian yang mereka alami.

Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, kaum muslimin kehilangan tempat bertanya, namun mereka telah mempunyai pegangan yang lengkap, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Jika ada kejadian atau peristiwa yang memerlukan penetapan hukum, mereka berijtihad, tetapi belum ada bukti yang nyata bahwa mereka telah berijma’. Seandainya ada ijma’ itu, kemungkinan terjadi pada masa khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar atau sedikit kemungkinan pada masa enam tahun pertama Khalifah Utsman. Hal ini adalah karena pada masa itu kaum muslimin masih satu, belum ada perbedaan pendapat yang tajam diantara kaum muslimin, disamping daerah Islam belum begitu luas, masih mungkin mengumpulkan para sahabat atau orang yang dipandang sebagai mujtahid.

Setelah enam tahun bahagian kedua kekhalifahan Utsman, mulailah nampak gejala-gejala perpecahan di kalangan kaum muslimin. Hal ini dimulai dengan tindakan Utsman mengangkat anggota keluarganya sebagai penjabat jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan (nepotisme). Setelah Khalifah Utsman terbunuh, perpecahan di kalangan kaum muslimin semakin terjadi, seperti peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abu Sofyan, peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Aisyah yang terkenal dengan perang Jamal, timbul golongan Khawarij, golongan Syi’ah golongan Mu’awiyah dan sebagainya. Demikianlah perselisihan dan perpecahan itu terjadi pula semasa dinasti Amawiyah, semasa dinasti Abbasiyah, semasa dinasti Fathimiyah dan sebagainya, sehingga dana dan tenaga umat Islam terkuras dan habis karenanya.

Disamping itu daerah Islam semakin luas, sejak dari Asia Tengah (Rusia Selatan sekarang) sampai kebagian tengah benua Afrika, sejak ujung Afrika Barat sampai Indonesia, Tiongkok Selatan, Semenanjung Balkan dan Asia Kecil. Karena itu amat sukar melakukan ijma’ dalam keadaan dan luas daerah yang demikian.

Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1.    Ijma’ tidak diperlukan pada masa Nabi Muhammad SAW;

2.    Ijma’ mungkin terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab, dan enam tahun pertama Khalifah Utsman; dan c. Setelah masa enam tahun kedua pemerintahan Khalifah Utsman sampai saat ini tidak mungkin terjadi ijma’ sesuai dengan rukun-rukun yang telah ditetapkan di atas, mengingat keadaan kaum muslim yang tidak bersatu serta luasnya daerah yang berpenduduk Islam.

Pada masa sekarang telah banyak berdiri negara-negara Islam yang berdaulat atau suatu negara yang bukan negara Islam tetapi penduduknya mayoritas beragama Islam atau minoritas penduduknya beragama Islam. Pada negara-negara tersebut sekalipun penduduknya minoritas beragama Islam, tetapi ada peraturan atau undang-undang yang khusus bagi umat Islam. Misalnya India, mayoritas penduduknya beragama Hindu, hanya sebagian kecil yang beragama Islam. Tetapi diberlakukan undang-undang perkawinan khusus bagi umat Islam. Undang-undang itu ditetapkan oleh pemerintah dan parlemen India setelah musyawarah dengan para mujtahid kaum muslimin yang ada di India. Jika persepakatan para mujtahid India itu dapat dikatakan sebagai ijma’, maka ada kemungkinan terjadinya ijma’ pada masa setelah Khalifah Utsman sampai sekarang sekalipun ijma’ itu hanya dapat dikatakan sebagai ijma’ lokal.

Jika demikian dapat ditetapkan definisi ijma’, yaitu keputusan hukum yang diambil oleh wakil-wakil umat Islam atau para mujtahid yang mewakili segala lapisan masyarakat umat Islam. Karena dapat dikatakan sebagai ulil amri sebagaimana yang tersebut pada ayat 59 surat an-Nisâ’ atau sebagai ahlul halli wal ‘aqdi. Mereka diberi hak oleh agama Islam untuk membuat undang-undang atau peraturan-peraturan yang mengatur kepentingan-kepentingan rakyat mereka.

Hal yang demikian dibolehkan dalam agam Islam. Jika agama Islam membolehkan seorang yang memenuhi syarat-syarat mujtahid untuk berijtihad, tentu saja beberapa orang mujtahid dalam suatu negara boleh pula bersama-sama memecahkan permasalahan kaum muslimin kemudian menetapkan suatu hukum atau peraturan. Pendapat sebagai hasil usaha yang dilakukan orang banyak tentu lebih tinggi nilainya dari pendapat yang dilakukan oleh orang seorang.

5. Macam-macam ijma’

Sekalipun sukar membuktikan apakah ijma’ benar-benar terjadi, namun dalam kitab-kitab fiqh dan ushul fiqh diterangkan macam-macam ijma’. Diterangkan bahwa ijma’ itu dapat ditinjau dari beberapa segi dan tiap-tiap segi terdiri atas beberapa macam.

Ditinjau dari segi cara terjadinya, maka ijma’ terdiri atas:

1.    ljma’ bayani, yaitu para mujtahid menyatakan pendapatnya dengan jelas dan tegas, baik berupa ucapan atau tulisan. Ijma’ bayani disebut juga ijma’ shahih, ijma’ qauli atau ijma’ haqiqi;

2.    Ijma’ sukuti, yaitu para mujtahid seluruh atau sebahagian mereka tidak menyatakan pendapat dengan jelas dan tegas, tetapi mereka berdiam diri saja atau tidak memberikan reaksi terhadap suatu ketentuan hukum yang telah dikemukakan mujtahid lain yang hidup di masanya. Ijma’ seperti ini disebut juga ijma’ ‘itibari.

Ditinjau dari segi yakin atau tidaknya terjadi suatu ijma’, dapat dibagi kepada:

1.    ljma’ qath’i, yaitu hukum yang dihasilkan ijma’ itu adalah qath’i diyakini benar terjadinya, tidak ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijma’ yang dilakukan pada waktu yang lain;

2.    ljma’ dhanni, yaitu hukum yang dihasilkan ijma’ itu dhanni, masih ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijtihad orang lain atau dengan hasil ijma’ yang dilakukan pada waktu yang lain.

 

Dalam kitab-kitab fiqh terdapat pula beberapa macam ijma’ yang dihubungkan dengan masa terjadi, tempat terjadi atau orang yang melaksanakannya. Ijma’-ijma’ itu ialah:

1.    Ijma’ sahabat, yaitu ijma’ yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW;

2.    Ijma’ khulafaurrasyidin, yaitu ijma’ yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib. Tentu saja hal ini hanya dapat dilakukan pada masa ke-empat orang itu hidup, yaitu pada masa Khalifah Abu Bakar. Setelah Abu Bakar meninggal dunia ijma’ tersebut tidak dapat dilakukan lagi;

3.    Ijma’ shaikhan, yaitu ijma’ yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab;

4.    Ijma’ ahli Madinah, yaitu ijma’ yang dilakukan oleh ulama-ulama Madinah. Ijma’ ahli Madinah merupakan salah satu sumber hukum Islam menurut Madzhab Maliki, tetapi Madzhab Syafi’i tidak mengakuinya sebagai salah satu sumber hukum Islam;

5.    Ijma’ ulama Kufah, yaitu ijma’ yang dilakukan oleh ulama-ulama Kufah. Madzhab Hanafi menjadikan ijma’ ulama Kufah sebagai salah satu sumber hukum Islam.

6. Obyek ijma’

Obyek ijma’ ialah semua peristiwa atau kejadian yang tidak ada dasarnya dalarn al-Qur’an dan al-Hadits, peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan ibadat ghairu mahdhah (ibadat yanng tidak langsung ditujukan kepada Allah SWT) bidang mu’amalat, bidang kemasyarakatan atau semua hal-hal yang berhubungan dengan urusan duniawi tetapi tidak ada dasarnya dalam al-Qur’an dan al-Hadits.

 

 

 

 

 

 

 

 

III.  KESIMPULAN

 

1.    istilah ijma’, ialah kesepakatan mujtahid ummat Islam tentang hukum syara’ dari peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah SAW meninggal dunia.

2.    Dasar hukum ijma adalah al Qur’an , Hadits, dan akal pikiran.

3.    ijma’ dapat dibagi atas tiga periode, yaitu:

a.  Periode Rasulullah SAW;

b.  Periode Khalifah Abu Bakar Shiddiq dan Khalifah Umar bin Khattab; dan

c.  Periode sesudahnya.

4.    beberapa macam ijma’ yang dihubungkan dengan masa terjadi, tempat terjadi atau orang yang melaksanakannya. Ijma’-ijma’ itu ialah:

a.  Ijma’ sahabat,

b.  Ijma’ khulafaurrasyidin,

c.  Ijma’ shaikhan

d.  Ijma’ ahli Madinah,

e.  Ijma’ ulama Kufah,

5.    Obyek ijma’ ialah semua peristiwa atau kejadian yang tidak ada dasarnya dalarn al-Qur’an dan al-Hadits, peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan ibadat ghairu mahdhah (ibadat yanng tidak langsung ditujukan kepada Allah SWT) bidang mu’amalat, bidang kemasyarakatan atau semua hal-hal yang berhubungan dengan urusan duniawi tetapi tidak ada dasarnya dalam al-Qur’an dan al-Hadits.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

1.      Al Qur’anul Karim

2.      Khallaf, Abdul Wahab. 1977. Ilmu Ushul Fiqih. Kuwait : An-Nashie

3.      Bakry, Nazar, Fiqh dan Ushul Fiqh, 1996, PT. Raja Grafindo Persada.

4.      Habafie, Ushul Fiqh, 1961, Penerbit Wijaya, Jakarta. Bakry, Nazar, Fiqh dan Ushul Fiqh, 1996, PT. Raja Grafindo Persada.

5.      Habafie, Ushul Fiqh, 1961, Penerbit Wijaya, Jakarta.

6.      Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya,

7.      Abd. Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, 1972, DDII Pusat, Jakarta

 

 

 

I.  PENDAHULUAN

 

Sebagaimana maklum, Al Quran adalah sumber perundangan pertama, diikuti oleh As Sunnah (Al hadis). Sehubung dengan itu, Ijma’ ulama’ dan Al Qias juga diterima sebagai sumber perundangan yang tidak disepakati. Disamping itu, terdapat beberapa sumber lain yang bersifat dalil zanni. Diantaranya adalah kaedah istihsan. Ulama’ berselisih pendapat dengan ta’rifan istihsan ini iaitu,

 

a)      Al Hilwani dan Al Hanafi mengatakan istihsan ialah menukar perkara yang berasal dari Qias kepada Qias yang lebih kuat. Hal ini disebut Qias khafi yang tersembunyi illat nya.

b)      Menurut Imam Abu Hasan Al Karkhi Al Hanafi pula, ia merupakan penetapan hukum oleh mujtahid terhadap sesuatu masalah yang menyimpang daripada ketetapan hukum yang diterapkan pada masalah-masalah yng sama disebabkan alas an yang lebih kukuh.

c)      Jumhur ulama’ Usul menyatakan istihsan adalah menukarkan sesuatu hukum kulli kepada huklum juziyy (pengecualian)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II.  DASAR ISTIHSAN SEBAGAI SUATU SUMBER HUKUM

 

1. TAKRIF ISTIHSAN

Dari segi bahasa bermakna memandang baik sesuatu atau mencari yang lebih baik untuk diikuti. (Az-Zumar : 17)

Istihsan dari segi istilah menurut ahli hukum dibahagikan kepada dua makna iaitu:

1)      menggunakan  ijtihad dan segala buah fikiran dalam menentukan sesuatu hukum berdasarkan syara’. Contohnya hukum mut’ah yang terdapat dalam firman Allah taala (Al-Baqarah:236). Mut’ah dalam ayat ini diukur mengikut keadaan suami, kaya atau miskin menurut makruf.

2)      Dalil yang menyaingi qias atau meninggalkan qias dan menetapkan apa yang lebih manfaat bagi manusia

Para ulama hukum sependapat pada makna istihsan yang pertama. Imam Syafie menolak sumber istihsan telah berkata:

 

 

“ saya memandang sebaiknya mut’ah itu tiga puluh dirham”.

 

Mengenai istihsan pada pengertian yang kedua, ulama hukum berselisih pendapat tentang boleh atau tidak menggunakannya karena wujud pelbagai pendapat dalam mendefinisikannya. Perselisihan pendapat dalam mendefinisi istihsan wujud karena pentakrifan ini muncul sesudah terjadi perdebatan yang hangat antara yang menggunakan istihsan dan yang menolaknya. Mereka yang menolak istihsan mengatakan bahwa istihsan itu ialah menetapkan suatu hukum berdasarkan hawa nafsu (syari’u bil hawa). Pihak yang menggunakan istihsan tidak langsung mengemukakan dalil-dalil yang membuktikan bahwasanya istihsan itu adalah suatu hujjah, tetapi mereka berusaha menerangkan hakikat istihsan yang sebenar,  menyebabkan golongan yang menolaknya mengakui bahwa tidak ada istihsan yang diperselisihkan kecuali dalam beberapa masalah.

 

2.  SEJARAH PERKEMBANGAN SUMBER ISTIHSAN

Sebelum Abu Hanifah menggunakan istilah istihsan, ulama-ulama sebelumnya telah menggunakan istilah ini. Iyas ibn Mu’awiyah seorang hakim dalam pemerintahan Umaiyah  pernah berkata:

 

“tidaklah saya menemukan qadhi, melainkan apa yang dipandang baik manusia”.

 

Sesudah Abu Hanifah menjadi seorang mujtahid dan ahli falsafah dalam bidang hukum, istilah istihsan sering digunakan sehingga menyaingi qias. Umpamanya Abu Hanifah berkata:

 

“qias memutuskan bgini, sedang istihsan memutuskan begitu. Kami mengambil istihsan. Qias memutuskan begini, akan tetapi kami beristisan, andaikata tidak ada riwayat tentulah saya menggunakan qias. Kami menetapkan demikian dengan jalan istihsan, tidak bersesuaian dengan qias”.

 

Imam Abu Hanifah terkenal sebagai seorang ahli hukum yang amat pandai menggunakan sumber istihsan dan banyak merujuk masalah-masalah berdasarkan sumber istihsan. Imam Abu Hanifah hampir-hampir digelar ‘imam Istihsan’ sebagaimana beliau digelar imam ahlul ra’yi.

 

Muhammad Ibnul Hasan, salah seorang murid Imam Ab Hanifah telah berkata:

 

“adalah Abu Hnifah telah berdiskusi dengan sahabat-sahabatnya tentang qias. Mereka dapat membantahnya. Tetapi apabila Abu Hanifah mengatakan: saya beristihsan, tidak ada lagi orang yang menandinginya karena banyak dalil-dalil yang dikemukakan tentang istihsan dalam pelbagai masalah”.

 

Kemudian murid-muridnya yang mencapai darjat ijtihad mengikut jejak Abu Hanifah. Maka telah timbul banyak masalah berdasarkan istihsan sehingga mereka memberi pengertian bahwa istihsan itu merupakan satu dalil hukum dan  para mujtahid harus mengetahuinya. Muhammad Ibnul Hasan berpendapat bahwa mengetahui masalah-masalah istihsan adalah syarat untuk berijtihad.

 

#Muhammad Ibnul Hasan berkata:

 

“mengetahui masalah-masalah istihsan menurut para fuqaha adalah salah satu syarat ijtihad, sama dengan mengetahui dalil-dalil yang lain”.

 

#Imam Abu Hanifah sendiri berkata:

 

“barang siapa mengetahui Al-kitab dan As-sunnah, pendapat para sahabat Rasulullah dan apa yang diistihsankan oleh para para fuqaha, dapatlah dia berijtihad terhadap hal-hal yang dihadapinya dan dia menjalankan yang demikian itu terhadap solatnya, puasanya, hajinya dan segala yang disuruh dan yang dilarang. Maka apabila dia berijtihad dan berqias kepada yang menyerupainya dapatlah dia beramal dengan yang demikian walaupun dia salah dalam ijtihadnya”.

Abu Hanifah sendiri tidak menegaskan definisi istihsan itu, dari pendapatnya, istihsan digunakan sebagai dalil-dalil hukum yang digunakan untuk menentang qias dan menguatkan istihsan itu bila ia bertentangan dengan qias. Maksud istihsan adalah tidak terang, terkecuali pada beberapa masalah yang merupakan hadits atau atsar.

 

Dia sering berkata:

 

“Andaikata tidak ada atsar, tentulah saya berpegang pada qias. Andaikata tidak ada riwayat, tentulah saya berpegang pada qias.”

 

Apa yang ditulis oleh Abu Hanifah adalah sama sepeti yang dtulis oleh Imam Malik dan murid-muridnya. Malik pernah berkata:

 

 

“Istihsan ialah sembilan persepuluh ilmu.”

 

Asbagh, seorang murid Malik pula berkata:

 

“Istihsan dalam bidang ilmu terkadang-kadang lebih menang dari qias”

 

Kita tidak boleh mengatakan bahwa Abu Hanifah, Malik, dan sahabat-sahabat beristihsan tanpa menggunakan dalil-dalil yang syara’, tetapi sebenarnya mereka tidak menerangkan dalil-dalil yang telah mereka maksudkan, dan apa yang sebenarnya mereka kehendaki dengan pendapat itu. Hal ini tidaklah begitu mengherankan, karena masa itu belum lagi terjadi masa pentakrifan istilah-istilah baru. Masa itu adalah masa ijtihad dan mereka itu diakui oleh masyarakat sebagai ahli-ahli ijtihad. Imam Syafie menyerang dengan amat tajam bila beliau mendengar pengikut-pengikut Imam Abu Hanifah menggunakan istihsan ketika berdiskusi dengan beliau tanpa menerangkan apa yang dimaksudkan dengan istilah itu. Mungkin pendebat-pendebat Imam Abu Hanifah menggunakan istilah istihsan tanpa mengetahui sesuatu dalil karena mereka bertaklid kepada imam-imam mereka. Apabila Imam Syafie bertanya kepada mereka apa hakikat istihsan, mereka tidak dapat menjawabnya. Imam Syafie membantah orang-orang yang sering  menggunakan kata-kata ijma untuk dijadikan dalil mereka tanpa mereka menyebut dasar pegangan mereka itu. Pendapat-pendapat Imam Syafie, baik dalam Ar Risalah mahupun Al Umm tegas mengatakan bahwa istihsan tanpa dalil tidak dapat diterima bahkan haram dilakukan.

 

Dalam Ar Risalah Imam Syafie berkata:

 

“sesungguhnya haram atas seseorang menetapkan sesuatu dengan jalan istihsan, apabila istihsan itu menyalahi hadis. Dan tidak boleh lagi seseorang mengatakan: ‘saya beristihsan tidak menggunakan qias’. Andaikata kita boleh mengenepikan qias, bolehlah bagi ahli-ahli akal dari orang yang tidak mempunyai ilmu mengatakan sesuatu yang tidak ada hadis terhadapnya dengan menggunakan dasar istihsan. Istihsan itu sebenarnya hanya mencari enak saja”.

Dalam kitab Ibthalul Istihsan, Imam Syafie menerangkan dalil-dalil yang menegaskan bahwa para mufti tidak boleh berfatwa dengan istihsan, karena kalu berfatwa dengan istihsan bererti dia telah menyimpang dari Al-Quran dan Sunnah, al-ijma dan qias. Dan bererti dia mengikuti pendapatnya sendiri.

Dalam masalah ini Daud Ibn Ali menyetujui pendapat Imam Syafie, sebagaimana ulama-ulama Hanbaliyah menyetujui fahaman Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.

Dalam kitab Risalah Al Ushul, Daud berkata:

 

“Sesungguhnya menetapkan sesuatu dengan qias tidak wajib, dan menggunakan istihsan tidak boleh”.

Shafiyuddin Al Baghdadi dalam kitabnya Qawa’idul Ushul dan Ibnu Qadamah Al Maqdisi dalam kitabnya Raudhatun Nazhir menyatakan bahwa Imam Ahmad ibn Hanbal bersetuju dengan pandangan Imam Abu Hanifah dalam masalah ini.

Demikianlah perkembangan dalam fasa pertama tentang kedudukan istihsan. Satu pihak menggunakan istihsan untuk sesuatu hukum yang mereka kehendaki walaupun mereka belum dapat menernagkan hakikat sebenar istihsan dan satu pihak yang lain menolak dari menggunakan istihsan dengan alasan bahwa istihsan adalah menurut fikiran semata-mata.

Sesudah masa membuat dalil bagi dasar-dasar yang digunakan selepas zaman Imam Syafie, barulah tokoh-tokoh fiqh mazhab Hanafi membuat pentakrifan istihsan dan menerangkan hakikat yang sebenarnya yang mereka ungkapkan dari cabang-cabang hukum yang dinukilkan daripada imam. Namun demikian, pentakrifan yang telah dibuat masih tidak dapat melepaskan istihsan dari arena perselisihan. Setelah lama masa berjalan, barulah sebagian ulama Hanafiyah berupaya menggambarkan istihsan bersesuaian dengan pandangan para imam dalam menanggapi hukum-hukum furu’ (cabang) yang dinukilkan dari mereka.

Mereka berkata: istihsan itu diithlaqkan kepada dua pengertian – ithlaq khas dan ithlaq am.

 

Ithlaq khas ialah:

 

“Qias khafi yang mengimbangi qias jali”.

 

Qias jali ialah:

 

“Qias yang mudah difahami”.

Sedang qias khafi ialah:

 

 

“ Qias yang susah difahami, perlu difikirkan secara mendalam”.

 

Istihsan yang am ialah:

 

“ Segala dalil yang mengimbangi qias dan mengharuskan kita berpindah dari qias pada yang mengimbanginya lantaran ada sesuatu nas atau atsar atau ijma atau darurat”.

 

Apabila kita teliti benar-benar ternyata bahwa qias yang mengimbangi istihsan bukanlah qias menurut ulama usul, tetapi dimaksudkan dengan qias di sini adalah kaedah umum atau dalil umum. Maka menggunakan istihsan di sini bererti mengecualikan sesuatu dari umum dalil. Oleh itu seseorang tidak boleh menolak istihsan selagi dalil yang digunakan untuk mengecualikan itu adalah dalil yang benar. Mengenai istihsan yang bermakna khas itu, ia bererti suatu bentuk pertentangan dan ketika terjadi pertentangan antara dua dalil, maka dalil yang terkuat dipilih.

 

 

3.   ISTIHSAN SEBAGAI SUMBER TASYRI YANG DISEPAKATI

Dengan pengertian yang terakhir ini istihsan menjadi suatu sumber yang disepakati karena istihsan adalah suatu pengecualian dari suatu dalil dan pertentangan dua qias lalu, diambil yang terkuat daripadanya walaupun dia khafi. Hal ini dibenarkan al-quran, assunnah dan amal fuqaha sahabat.

Para ulama malikiah dengan tegas mentakrifkan istihsan dengan maksud pengecualian

Ibnu Arabi berpendapat

 

“Istihsan ialah meninggalkan sesuatu yang dikehendaki dalil dengan jaan pengecualian, karena ada sesuatu yang mengetahui di sebagian juziyyahnya”

 

Ibnu Rusyd berpendapat:

 

 

“Dan menggunakan qias mengakibatkan berlebih-lebihan dalam hukum, maka dia berpaling pada sebagian tempat tertentu karena ada sesuatu pengertian yang memberi bebas kepada hukum yang tertentu dari tempat itu saja.”

 

As Syatibi berpendapat:

 

 

“ Kaedah istihsan menurut Imam Malik ialah menggunakan maslahat juziyyah dalammenghadapi dalil yang kulli.”

 

Para sahabat banyak menggunakan prinsip ini dan merekalah menjadi ikutan kita sesudah Rasulullah s.a.w, iaitu mengecualikan sesuatu dari nas yang umum karena ada kemaslahatannya.

 

Golongan syariah sendiri mengakui adanya pengecualian dari kaedah-kaedah syariyyah dan mereka menggunakan pengecualian itu walaupun Imam Syafie menentang istihsan.

 

Di antara masalah itu, ialah membolehkan kita mengambil tumbuhan di tanah haram untuk mengumpan binatang untuk menhindarkan kesukaran bagi para haji. Ini merupakan suatu pengecualian dari umum nas padahal Rasulullah hanya membenarkan idzar saja, sebagaimana mereka membenarkan ayah ataupun abang menggadaikan harta mereka kepada mauli mereka apabila wali itu  memberi hutang kepada mereka. Demikian pula sebaliknya. Dan mereka membenarkan abang mereka mengahwinkan cucu perempuannya dengan cucu lelakinya apabila dipandang ada maslahat. Inipun merupakan suatu pengecualian dari dasar yang mereka gunakan iaitu akad itu dilakukan oleh dua orang.

 

“Tak dapat tidak sesuatu akad dari dua ibarat dari dua orang ( penjual dan pembeli.”

 

Izuddin Ibnu Abdis Salam berkata:

 

 

 

“ Apabila seseorang menjual buah kurma yang telah nyata baiknya maka wajiblah dibiarkan buah itu tinggal di batang sehingga datang waktu memetiknya dan memungkinkan si pembeli menyirami batang kurma itu dengan airnya, karena kedua syarat itu telah menjadi syarat pada uruf masyarakat. Maka menjadilah dia sebagai yang telah disyaratkan oleh kedua belah pihak. Dan hanyanya berlaku syarat ini di sini adalah karena adanya keperluan masyarakat dan keadaan itu mendorong masyarakat kepada syarat ini, maka menjadilah dia hal-hal dikecualikan dari kaedah untuk memperbolehkan kemaslahatan akad.”

 

Sesungguhnya perbedaan pendaat antara Imam As Syafie dengan pihak yang menerima istihsan bukanlah dari segi penggunaan istilah istihsan. Karena As Syafie sendiri menggunakan istilah-istilah itu seperti yang diterangkan oleh Al- Amidi dalam kitabnya Al-Ihkam.

Kalau demikian, perbedaan itu adalah karena menurut pendapat  As-Syafie bahwa istihsan yang dikehendaki golongan Hanafiah ialah menetapkan sesuatu berdasarkan akal biasa tanpa dalil, sebagai yang sering beliau dengar di masanya dari pengikut-pengikut Abu hanifah seperti Basyar Al- Miribi. Jika As-Syafie menolak istihsan dalam erti memendang baik sesuatu tanpa dalil, maka Imam Ahmad pun menolak suatu pernyataan ijmak tanpa ada dalil.

 

4.   JENIS ISTIHSAN UMUM

Istihsan umum ada beberapa jenis menurut dalil yang menetapkannya:

 

4.1     ISTIHSAN DENGAN NAS: iaitu pada tiap-tipa masalah yang ada nas sendiri yang menimbulkan suatu hukum yang berlainan dengan hukum umum yang diterapkan oleh suatu nas yang umum atau kaedah yang umum. Dan ia melengkapi segala bentuk masalah yang dikecualikan oleh syarak sendiri dari hukum-hukum yang sebandingnya iaitu seperti khiar syarak. Imam Abu Hanifah mengatakan terhadap orang yang berkuasa makan atau minum karena lupa:            “Andaikata tiada nas yang tidak membatalkan puasa lantaran makan dan minum karena lupa, tentulah saya memandang bata puasa itu karena sudah rosak satu rukun iaitu menahan diri dari segala yang merosakkan puasa”.

 

4.2  ISTIHSAN BERDASARKAN IJMAK: iaitu apabila para mujtahid berfatwa terhadap suatu masalah yang berlawanan dengan Qiyas atau dengan kehendak dari sesuatu   dalil yang umum, atau mereka berdiam diri tidak membantah sesutau uruf masyarakat yang berlawanan dengan hukum qiyas.

 

 

4.3  ISTIHSAN DALAM HAL DARURAT DAN UNTUK MENGHINDARI KESULITAN: apabila kita mnggunakan dalil yang umum menimbulkan kesulitan, maka dari dalil yang umum itu dikcualikan. Seperti apabila saksi-saksi yang telah meninggal atau yang jauh dari tempat atau karena tidak sanggup menghadiri sidang majlis, padahal menurut asal hukum kesaksian itu harus yang melihat dengan mata kepala sendiri, dibolehkan menggunakan kesaksian orang lain.

 

4.4  ISTIHSAN BERDASARKAN KEMASLAHATAN YANG BELUM SAMPAI KE BATAS DARURAT: sesuatu hukum yang dicakup oleh sesuatu nas yang umum tetapi jika dilaksanakan hukum itu, timbul kerosakan atau terhapus kemaslahatan, maka ditetapkan hukum berdasarkan kemaslahatan, seperti memberikan pusaka kepada suami yang isterinya murtad dalam keadaan sakit yang membawa kepada kematian. Ini juga merupakan suatu pengecualian dari kaedah umum, iaitu tidak ada lagi hak pusaka karena hubungan mereka suami isteri putus di waktu isteri murtad. Jalan istihsan di sini ialah melayani si wanita yang murtad itu dengan yang bertentangan dengan maksudnya. Dia memurtadkan dirinya dalam keadaan sakit yang membawa maut supaya suaminya tidak dapat menerima pusaka daripadanya.

 

 

4.5  ISTIHSAN DENGAN DASAR URUF: Muhammad ibn Al Hasan membolehkan kita mewakafkan barang bergerak. Menurut kaedah, wakaf itu harus benda yang tidak bergerak karena benda yang bergerak mudah hilang dan rosak. Seperti boleh kita menjual buah-buahan dengan syarat tetap di batangnya sampai matang padahal syarat itu tidak dikehendaki oleh akad, bahkan berlawanan dengan sabda Rasulullah yang melarang penjualan dengan memakai syarat. Tetapi karena uruf telah berlaku demikian, maka dibolehkan untuk menghindari prtengkaran. Sebab itulah Hanafiyah membenarkan segala syarat yang diterima uruf asal saja tidak membatalkan sesuatu nas syara.

 

5.   KEPENTINGAN SUMBER ISTIHSAN

Walaupun istihsan bukan suatu dalil yang berdiri sendiri, namun ia menyingkapkan jalan yang ditempuh sebagian ulama mujtahidin dalam menetapkan dalil-dalil syara dan kaedah-kaedahnya ketika dalil-dalil itu bertentangan dengan kenyataan yang berkembang dalam masyarakat. Hal ini untuk mengelakkan kesulitan dan kemudaratan serta menghasilkan kemanfaatan dengan cara menetapkan dasar-dasar syariat dan sunber-sumbernya.

Istihsan adalah suatu dalil yang terkuat menunjukkan bahwa hukum-hukum Islam adalah suatu hukum yang berkembang dalam masyarakat yang diistilahkan sebagai fiqh waq’i bukan suatu fiqh khayali yang merupakan fiqh bayangan sebagai yang digambarkan oleh sebagian oarang yang tidak mengetahui hakikat fiqh Islam atau ingin menjauhkan manusia daripadanya.

Dengan menggunakan dasar istihsan, kita dapat menghadapi masalah perbankan yang telah menjadi masalah yang sangat penting dalam masalah ekonomi.

Oleh karena dalam kebanyakan bentuknya merupakan pengecualian dari umum, maka bolehlah kita qiaskan kepadanya sesuatu yang lain apabila cukup syarat-syarat qias.

 

Para ulama ada yang tidak membenarkan sama sekali kita melakukan qias, karena tempat-tempat yang mengecualikan atas dasar darurat, atau maslahat tertentu dan harus kita ukur mudarat itu sekadar yang darurat saja. Oleh karenanya, timbullah suatu istilah dalam kalangan mereka:

 

#

“ Sesuatu yang tetap berlawanan dengan qias maka tidak boleh diqiaskan yang lain kepadanya”.

 

Ada yang membedakan antara yang diistihsankan dengan nas atau ijmak dengan yang diistihsankan dengn qias khafi. Mereka tidak membolehkan pada yang pertama, membolehkan pada yang kedua. Asy Syarakhasi dalam kitab usulnya berkata:

 

 

 

Sesungguhnya yang mustahsan dan  qias dapat melampaui hukumnya pada yang lain, dalam arti dapat diqiaskan yang lain padanya. Karena qias baik lahir maupun batin ialah  mengenakan sesuatu hukum kepada yang lain. Adapun yang diistihsankan dengan nash atau ijma’ maka hukumnya tidak melampaui pada yang lain, karena dia dipalingkan dari qias dan tidak dapat dikenakan kepada yang lain.”

Seperti pendapat sebelum ini, iaitu tidak boleh mengqiaskan sesuatu kepada yang dikecualikan itu. Kedua-dua pendapat ini tidak dapat kita pendapat ini tidak dapat kita terima. Pendapat yang dapat kita terima, ialah boleh kita qiaskan sesuatu kepada yang dikecualikan apabila cukup syarat-syaratnya, karena qias itu berkisar sekitar adanya sesuatu makna yang mngumpulkan antara yang dikecualikan itu dengan yang lainnya.

 

Jika ada makna tersebut, berlakulah qias. Jika tidak ada makna tersebut, nescaya qias tidak dapat dikecualikan, baik pengecualian itu dengan nash ataupun dengan qias. Inilah pendapat sebagian ahli tahqiq yang dipelopori oleh Al-Ghazali. Di dalam Al=Mustashfa beliau berkata:

 

” Bagian yang  kedua ialah suatu yang dikecualikan dari kaedah yang telah lalu dan datang dari pengecualian itu dari suatu makna. Ini dapat diqiaskan kepada setiap masalah yang berlaku antara yang dikecualikan dengan yang dikecualikan dan bersekutu yang dikecualikan dan bersekutu yang dikecualikan pada illat. Pengecualian umpamanya, pengecualian ‘ariyah maka dia tidak merupakan nasakh bagi kaedah riba dan tidak megubah kaedah itu. Akan tetapi ia dikecualikan karenanya kita dapat mengqiyaskan buah anggur pada kurma putih karena kita berpendapat bahwa anggur itu membawa makna kurma putih”.

 

 

” demikian pula mewajibkan segantang kurma terhadap susu binatang yang diikat tempat susunya tidak datang untuk menghapuskan pembayaran yang ada imbangannya dengan mitsilnya ( sejenisnya) akan tetap tatkala bercampur susu yang baru dengan susu yang sedia ada di dalam buah dada jika terjadi jual beli dan tidak ada jalan untuk membedakan satu sama lain, tidak ada jalan mengetahui ukurannya sedang dia berpautan dengan makanan, syara’ melepaskan orang yang berjual beli kesulitan mengetahui jumlah susu dengan jalan memberi ukuran sebatang kurma. Karena tidak salah kita mengatakan: andaikata dikembalikan binatang yang diikat pentil susu dengan cacat yang lain, bukan cacat mengikat pentil susu, nescaya dibayar susu pula dengan segantang kurma itu. Dan ini seperti penemuan pada makna pokok. Andaikata kita tidak memahami makna tersebut, tentulah kita tidak berani menghubungkan itu ( mengadakan qias)”.

Pendapat inilah yang kiranya harus kita tampung, karena  mewujudkan maksud syara’ dari pengecualian.

 

 

 

Allah swt. Dengan tegas mengatakan:

 

 

 

” Dan tidaklah Allah menjadikan kamu kesukaran dalam agama”. ( Q.S. Al- Hajj/22:78)

Pendapat Al- Ghazali sesuai dengan pendapat Ibnu Taimiyah dalam kitab Ushul Fiqhnya iaitu:

 

 

 

” Boleh qias kepada pokok yang tertentu dari antara jumlah qias, dan itulah yang dinamakan oleh golongan Hanafiah tempat istihsan, berbeda terhadap perkataan mereka tidak boleh qias kecuali qias itu ada illatnya atau ijma’ qias itu, atau ada suatu pokok yang lain yang sesuai maka bolehlah qias kepadanya. Pendapat golongan Syafi’iyah dan segolongan Hanafiah sama dengan pendapat kami. Dan pendapat golongan Malikiyah sama dengan jumlah qias dapat diqiaskan kepadanya dan dapat diqiaskan pada yang lainnya”.

Ibnu Qudamah Aln Maqdisi dal;am kitab Raudhatun Nadzir berkata:

 

 

 

” Yang dikecualikan dari kaedah qias terbahagi kepada yang dapat difahamkan  maknanya dan yang tidak dapat difahamkan maknanya. Makna yang pertama sah diqiaskan selama diperoleh illat. Di antara yang demikian ialah pengecualian ‘aliyah karena ada keperluan. Tidaklah jauh kita mengqiaskan buah anggur pada kurma putih yang telah nyata bahwa buah anggur mengandungi kurma putih. Demikianlah pula mewajibkan segantang kurma pada susu binatang yang diikat pentilnya sikecualikan dari kaedah sama semestinya kita qiaskan kepadanya apa bayng dikembalikan karena cacat yang lain. Dan itu seperti perhubungan, adapun yang tidak dapat difahamkan maknanya maka adalah seperti ditentukan Abu Burdah dengan boleh menyembelih kambing yang berbulu yang setahun umurnya untuk korban dan seperti Nabi menetapkan Khuzaimah dengan menerima kesaksiannya seorang diri. Dan hal serupa itu tidak boleh diqiaskan kepadanya”.

 

Mengikut apa yang diterangkan, maka istihsan dalam kebanyakann bentuknya, adalah pengecualian dari hal-hal yang diharamkan dengan menghalalkan sesuatu dan pengecualian dari hal-hal yang mewajiban dengan menghilangkan kewajibannya, karena pengecualian itu tidaklah terbatas dalam daerahnya saja, tetapi melampaui daerah lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III.  KESIMPULAN

  1. Dari segi bahasa bermakna memandang baik sesuatu atau mencari yang lebih baik untuk diikuti. (Az-Zumar : 17)Istihsan dari segi istilah menurut ahli hukum  iaitu:menggunakan  ijtihad dan segala buah fikiran dalam menentukan sesuatu hukum berdasarkan syara’.
  2. Dari apa yang dikemukakan diatas maka saya sebagai penulis mengambil kesimpulan bahwa  Kita tidak boleh mengatakan bahwa Abu Hanifah, Malik, dan sahabat-sahabat beristihsan tanpa menggunakan dalil-dalil yang syara’, tetapi sebenarnya mereka tidak menerangkan dalil-dalil yang telah mereka maksudkan, dan apa yang sebenarnya mereka kehendaki dengan pendapat itu. Hal ini tidaklah begitu mengherankan, karena masa itu belum lagi terjadi masa pentakrifan istilah-istilah baru. Masa itu adalah masa ijtihad dan mereka itu diakui oleh masyarakat sebagai ahli-ahli ijtihad. Imam Syafie menyerang dengan amat tajam bila beliau mendengar pengikut-pengikut Imam Abu Hanifah menggunakan istihsan ketika berdiskusi dengan beliau tanpa menerangkan apa yang dimaksudkan dengan istilah itu.. Apabila Imam Syafie bertanya kepada mereka apa hakikat istihsan, mereka tidak dapat menjawabnya. Imam Syafie membantah orang-orang yang sering  menggunakan kata-kata ijma untuk dijadikan dalil mereka tanpa mereka menyebut dasar pegangan mereka itu. Pendapat-pendapat Imam Syafie, baik dalam Ar Risalah mahupun Al Umm tegas mengatakan bahwa istihsan tanpa dalil tidak dapat diterima bahkan haram dilakukan.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.  Hasbi, Tengku Muhammad, Falsafah Hukum Islam, 1987,

PT. Pustaka Rizki Putra

2.  Muda, Abd. Latif, Ustazah Rosmawati Ali, Perbahasan Usul Fiqh; 2001,

Ilham Abati Enterprise

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I.  PENDAHULUAN

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena kami sebagai penulis telah menyelesaikan makalah mengenai “ Ijtihad“. Dan tak lupa Shalawat beserta Salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Junjungan kita Nabi besar  Muhammad SAW, kepada keluarga, Sahabat dan semoga pula sampai kepada kita semua selaku umat-Nya yang tetap menjalankan Syariat-Nya sampai akhir jaman.

Bagi sebagian mahasiswa Muamalat Ekonomi Perbankan Islam (MEPI) mungkin istilah ijtihad itu sendiri masih belum populer atau dalam artian masih belum banyak mahasiswa yang mengetahui istilah tersebut ? hal itu disadari karena memang istilah tersebut banyak dipakai dalam pelajaran Fiqh dan Ulumul Qur’an.

Untuk itu kami sebagai penulis ingin mencoba menjelaskan mengenai ijtihad ini baik dari segi pengertian ijtihad, Cara berijtihad, orang yang layak melakukan ijtihad sendiri sehingga diharapkan mahasiswa bisa memahami ilmu ijtihad itu sendiri. Dan harapan kami sebagai penulis semoga makalah yang kami susun ini bisa bermanfaat bagi rekan-rekan mahasiswa, dosen, dan terutama bagi kami sendiri sebagai penulis pada tentunya.

II.  IJTIHAD

A.  Pengertian Ijtihad

Menurut bahasa, ijtihad berarti (bahasa Arab اجتهاد) Al-jahd atau al-juhd yang berarti la-masyaqat (kesulitan dan kesusahan) dan akth-thaqat (kesanggupan dan kemampuan). Dalam al-quran disebutkan:

“..walladzi lam yajidu illa juhdahum..” (at-taubah:79)

artinya: “… Dan (mencela) orang yang tidak memperoleh (sesuatu untuk disedekahkan) selain kesanggupan”(at-taubah:79)

Kata al-jahd beserta serluruh turunan katanya menunjukkan pekerjaan yang dilakukan lebih dari biasa dan sulit untuk dilaksanakan atau disenangi.

Dalam pengertian inila Nabi mengungkapkan kata-kata:

“Shallu ‘alayya wajtahiduu fiddua’”

artinya:”Bacalah salawat kepadaku dan bersungguh-sungguhlah dalam dua”

Demikian dengan kata Ijtihad “pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit.” Atas dasar ini maka tidak tepat apabila kata “ijtihad” dipergunakan untuk melakukan sesuatu yang mudah/ringan.

Pengertian ijtihad menurut bahasa ini ada relevansinya dengan pengertian ijtihad menurut istilah, dimana untuk melakukannya diperlukan beberapa persyaratan yang karenanya tidak mungkin pekerjaan itu (ijtihad) dilakukan sembarang orang.

Dan di sisi lain ada pengertian ijthad yang telah digunakan para sahabat Nabi. Mereka memberikan batasan bahwa ijtihad adalah “penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat pada Kitab-u ‘l-Lah dan Sunnah Rasul, baik yang terdekat itu diperoleh dari nash -yang terkenal dengan qiyas (ma’qul nash), atau yang terdekat itu diperoleh dari maksud dan tujuan umum dari hikmah syari’ah- yang terkenal dengan “mashlahat.”

Dalam kaitan pengertan ijtihad menurut istilah, ada dua kelompok ahli ushul flqh (ushuliyyin) -kelompok mayoritas dan kelompok minoritas- yang mengemukakan rumusan definisi. Dalam tulisan ini hanya akan diungkapkan pengertian ijtihad menurut rumusan ushuliyyin dari kelompok mayoritas.

Menurut mereka, ijtihad adalah pengerahan segenap kesanggupan dari seorang ahli fxqih atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat dhann terhadap sesuatu hukum syara’ (hukum Islam).

Dari definisi tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam (faqih), bukan yang lain.

2. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar’i, yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan perbuatan orang-orang dewasa, bukan hukum i’tiqadi atau hukum khuluqi,

3. Status hukum syar’i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah dhanni.

Jadi apabila kita konsisten dengan definisi ijtihad diatas maka dapat kita tegaskan bahwa ijtihad sepanjang pengertian istilah hanyalah monopoli dunia hukum. Dalam hubungan ini komentator Jam’u ‘l-Jawami’ (Jalaluddin al-Mahally) menegaskan, “yang dimaksud ijtihad adalah bila dimutlakkan maka ijtihad itu bidang hukum fiqih/hukum furu’. (Jam’u ‘l-Jawami’, Juz II, hal. 379).

Atas dasar itu ada kekeliruan pendapat sementara pihak yang mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. Pendapat yang nyeleneh atau syadz ini dipelopori al-Jahidh, salah seorang tokoh mu’tazilah. Dia mengatakan bahwa ijtihad

juga berlaku di bidang aqidah. Pendapat ini bukan saja menunjukkan inkonsistensi terhadap suatu disiplin ilmu (ushul fiqh), tetapi juga akan membawa konsekuensi pembenaran terhadap aqidah non Islam yang dlalal. Lantaran itulah Jumhur ‘ulama’ telah bersepakat bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum (hukum Islam) dengan

B. Cara ber-Ijtihad

Dalam melaksanakan ijtihad, para ulama telah membuat methode-methode antara lain sebagai berikut :

a. Qiyas = reasoning by analogy. Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu hal yang belum diterangkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan dianalogikan kepada hukum sesuatu yang sudah diterangkan hukumnya oleh al-Qur’an / as-Sunnah, karena ada sebab yang sama. Contoh : Menurut al-Qur’an surat al-Jum’ah 9; seseorang dilarang jual beli pada saat mendengar adzan Jum’at. Bagaimana hukumnya perbuatan-perbuatan lain ( selain jual beli ) yang dilakukan pada saat mendengar adzan Jum’at ?  Dalam al-Qur’an maupun al-Hadits tidak dijelaskan. Maka hendaknya kita berijtihad dengan jalan analogi. Yaitu : kalau jual beli karena dapat mengganggu shalat Jum’at dilarang, maka demikian pula halnya perbuatan-perbuatan lain, yang dapat mengganggu shalat Jum’at, juga dilarang. Contoh lain : Menurut surat al-Isra’ 23; seseorang tidak boleh berkata uf ( cis ) kepada orang tua. Maka hukum memukul, menyakiti dan lain-lain terhadap orang tua juga dilarang, atas dasar analogi terhadap hukum cis tadi. Karena sama-sama menyakiti orang tua. Pada zaman Rasulullah saw pernah diberikan contoh dalam menentukan hukum dengan dasar Qiyas tersebut. Yaitu ketika ‘ Umar bin Khathabb berkata kepada Rasulullah saw : Hari ini saya telah melakukan suatu pelanggaran, saya telah mencium istri, padahal saya sedang dalam keadaan berpuasa. Tanya Rasul : Bagaimana kalau kamu berkumur pada waktu sedang berpuasa ? Jawab ‘Umar : tidak apa-apa. Sabda Rasul : Kalau begitu teruskanlah puasamu.

b. Ijma’ = konsensus = ijtihad kolektif. Yaitu persepakatan ulama-ulama Islam dalam menentukan sesuatu masalah ijtihadiyah. Ketika ‘Ali bin Abi Thalib mengemukakan kepada Rasulullah tentang kemungkinan adanya sesuatu masalah yang tidak dibicarakan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, maka Rasulullah mengatakan : ” Kumpulkan orang-orang yang berilmu kemudian jadikan persoalan itu sebagai bahan musyawarah “. Yang menjadi persoalan untuk saat sekarang ini adalah tentang kemungkinan dapat dicapai atau tidaknya ijma tersebut, karena ummat Islam sudah begitu besar dan berada diseluruh pelosok bumi termasuk para ulamanya.

c. Istihsan = preference. Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah atas dasar prinsip-prinsip umum ajaran Islam seperti keadilan, kasih sayang dan lain-lain. Oleh para ulama istihsan disebut sebagai Qiyas Khofi ( analogi samar-samar ) atau disebut sebagai pengalihan hukum yang diperoleh dengan Qiyas kepada hukum lain atas pertimbangan kemaslahatan umum. Apabila kita dihadapkan dengan keharusan memilih salah satu diantara dua persoalan yang sama-sama jelek maka kita harus mengambil yang lebih ringan kejelekannya. Dasar istihsan antara lain surat az-Sumar 18.

d.      Mashalihul Mursalah = utility, yaitu menetapkan hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah atas pertimbangan kegunaan dan kemanfaatan yang sesuai dengan tujuan syari’at. Perbedaan antara istihsan dan mashalihul mursalah ialah : istihsan mempertimbangkan dasar kemaslahan ( kebaikan ) itu dengan disertai dalil al-Qur’an / al-Hadits yang umum, sedang mashalihul mursalah mempertimbangkan dasar kepentingan dan kegunaan dengan tanpa adanya dalil yang secara tertulis exsplisit dalam al-Qur’an / al-Hadits.

 

C.  Syarat Orang Yang Ijtihad

Orang yang melakukan iitihad dipersyaratkan beberapa hal, di antaranya:
1. Mengetahui dalil-dalil syar’i yang dibutuhkan dalam berijtihad seperti ayat-ayat hukum dan hadits-haditsnya.

2. Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan keshahihan hadits dan kedhaifannya, seperti mengetahui sanad dan para periwayat hadits dan lain-lain.

3. Mengetahui nasikh-mansukh dan perkara-perkara yang telah menjadi ijma’ (kesepakatan ulama), sehingga dia tidak berhukum dengan apa yang telah mansukh (dihapus nya) atau menyelisihi ijma’.

4. Mengetahui dalil-dalil yang sifatnya takhsis, taqyid atau yang semisalnya, lalu bisa menyelaraskannya dengan ketentuan asal yang menjadi pokok permasalahan.
5. Mengetahui ilmu bahasa, ushul fikih, dalil-dalil yang mempunyai hubungan umum-khusus, mutlak-muqayyad, mujmal-mubayyan, dan yang semisalnya sehingga akurat dalam menetapkan hukum.

6. Mempunyai kemampuan beristimbat (mengambil kesimpulan) hukum-hukum dari dalil-dalilnya.

Ijtihad terus berlaku sampai kapan pun dan keberadaannya termasuk dalam bagian ilmu atau pembahasan masalah ilmiah. Perlu dicatat bahwa seorang mujtahid harus berusaha mengerahkan kesungguhannya dalam mencari kebenaran untuk kemudian berhukum dengannya. Seseorang yang berijtihad kalau benar mendapatkan dua pahala; pahala karena dia telah berijtihad dan pahala atas kebenaran ijtihadnya, karena ketika dia benar ijtihadnya berarti telah memperlihatkan kebenaran itu dan memungkinkan orang mengamalkannya, dan kalau dia salah, maka dia mendapat satu pahala dan kesalahan ijtihadnya itu diampuni, karena sabda Nabi: Apabila seorang hakim menetapkan hukum dengan cara berijitihad dan temyata benar, maka dia mendapat dua pahala dan apabila dia ternyata salah, maka dia mendapat satu pahala. (HR. Bukhari dan Muslim)

III.   KESIMPULAN

1.      ijtihad adalah pengerahan segenap kesanggupan dari seorang ahli fIqih atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat dhann terhadap sesuatu hukum syara’ (hukum Islam).

2.      Dalam melaksanakan ijtihad, para ulama telah membuat methode-methode antara lain sebagai berikut :

a.  ijma

b.  qiyas

c.  istihsan

d.  maslahat al murasalah

3.      seorang mujtahid harus berusaha mengerahkan kesungguhannya dalam mencari kebenaran untuk kemudian berhukum dengannya. Seseorang yang berijtihad kalau benar mendapatkan dua pahala; pahala karena dia telah berijtihad dan pahala atas kebenaran ijtihadnya, karena ketika dia benar ijtihadnya berarti telah memperlihatkan kebenaran itu dan memungkinkan orang mengamalkannya, dan kalau dia salah, maka dia mendapat satu pahala dan kesalahan ijtihadnya itu diampuni

 

DAFTAR PUSTAKA

1.      Al Qur’anul Karim

2.      Khallaf, Abdul Wahab. 1977. Ilmu Ushul Fiqih. Kuwait : An-Nashie

3.      Bakry, Nazar, Fiqh dan Ushul Fiqh, 1996, PT. Raja Grafindo Persada.

4.      Habafie, Ushul Fiqh, 1961, Penerbit Wijaya, Jakarta. Bakry, Nazar, Fiqh dan Ushul Fiqh, 1996, PT. Raja Grafindo Persada.

5.      Habafie, Ushul Fiqh, 1961, Penerbit Wijaya, Jakarta.

6.      Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya,

7.      Abd. Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, 1972, DDII Pusat, Jakarta

 

 

Ijtihad

Posted: 24/01/2011 in Ushul Fiqh
Tag:, ,

BAB I.  PENDAHULUAN

 

Nash/teks Al-Qur’an dan Hadits dalam teori terbagi dua, qoth’i (pasti) dan dhonni (dugaan). Itu dipandang dari segi dalalah dan wurud (penunjukan makna dan datangnya) nash. Sedang nash qoth’i itu sendiri bisa digolongkan menjadi tiga: Kalamiyyah, Ushuliyyah, dan Fiqhiyyah.

Yang dimaksud kalamiyyah ialah naqliyah semata, dan dalam hal ini yang benar hanya satu. Maka barangsiapa yang melakukan kesalahan terhadap hal ini, ia berdosa. Nash jenis ini di antaranya tentang kejadian alam dan penetapan wajib adanya Allah dan sifat-sifatNya, diutusnya para rasul, mempercayai mereka dan mu’jizat-mu’jizatnya dan sebagainya. Kemudian apabila kesalahan seseorang itu mengenai keimanan kepada Allah dan rasul-Nya maka yang bersalah itu kafir, kalau tidak maka ia berdosa dari segi bahwa ia menyimpang dari kebenaran dan tersesat.

Adapun ushuliyyah adalah seperti keadaan ijma’ dan qiyas serta khabar ahad sebagai hujjah, maka masalah-masalah ini dalil-dalilnya adalah qoth’iyyah. Orang yang menyalahinya adalah berdosa.

Mengenai masalah fiqhiyyah yang termasuk qoth’i yaitu shalat 5 waktu, zakat, puasa, pengharaman zina, pembunuhan, pencurian, minun khamar/ arak dan semua yang diketahui secara pasti dari agama Allah. Maka yang benar dari masalah-masalah itu adalah satu, dan itulah yang diketahui. Sedang orang yang menyalahinya adalah berdosa.

Setelah kita mengetahui yang qoth’i seperti tersebut, maka bisa ditarik garis sebagai berikut:

- Apabila seseorang menyelisihi hal-hal yang diketahui secara dhoruri dari maksud al-Syari’ (hal-hal yang setiap Muslim wajib tahu), maka ia adalah kafir, karena pengingkarannya tidak timbul kecuali dari orang yang mendustakan syara’. (Misalnya orang mengingkari keesaan Allah, mengingkari wajibnya shalat 5 waktu, wajib puasa Ramadhan dsb, maka pengingkarnya itu adalah kafir).

- Apabila masalahnya mengenai hal yang diketahui secara pasti, dengan jalan penyelidikan, seperti hukum-hukum yang dikenal dengan ijma’, maka pengingkarnya bukan kafir, tetapi ia bersalah dan berdosa. (Contohnya, mengingkari tidak bolehnya perempuan mengimami shalat lelaki, maka pengingkarnya adalah berdosa).

- Adapun masalah fiqhiyyah yang dhonni, yang tidak mempunyai dalil pasti, maka masalah ini jadi tempat ijtihad dan tidak ada dosa atas mujtahid dalam masalah itu menurut orang yang berpendapat bahwa yang tepat adalah satu, dan tidak (berdosa) pula menurut orang yang mengatakan setiap mujtahid adalah tepat.

Dalam masalah terakhir ini Syekh Hudhori Biek berpendapat bahwa pendapat yang rajih/ kuat adalah bahwa Allah mempunyai hukum tertentu dalam setiap perkara dan terdapat dalil atasnya. Maka barangsiapa berhasil mendapatkannya, ia pun telah bertindak tepat. Dan barangsiapa yang melakukan kesalahan sesudah mencurahkan tenaga, maka iapun dianggap salah, hanya saja ia diberi pahala untuk ijtihadnya, dan dibebaskan darinya dosa dan kesalahannya (itu).

Oleh karena itu mujtahid yang tepat dalam syari’at adalah satu, dan hal itu karena dalil-dalil syari’at bisa berupa nash-nash dan bisa berupa qiyas yang berasal dari nash-nash itu; dan perbedaan yang terjadi adalah karena pentakwilannya.

Adapun pentakwilan dan perbedaan di dalamnya, maka kita mengetahui dengan spontan bahwa As-Syari’ (Allah) tidak menetapkan suatu nash/ teks kecuali Ia menginginkan suatu makna tertentu. Hal ini kadang-kadang berhasil didapatkan oleh sebagian mujtahidin, maka ia dianggap tepat. Sedang yang menyimpang berarti ia berbuat kesalahan.

 

BAB II.  IJTIHAD

 

A.  Pengertian Ijtihad

Ijtihad menurut bahasa adalah berasal dari kata jahada (ÌåÏ) yang artinya: mencurahkan segala kemampuan, atau menanggung beban kesulitan. Jadi arti ijtihad menurut bahasa adalah mencurahkan semua kemampuan dalam segala perbuatan.

Kata ijtihad ini tidak dipergunakan kecuali pada hal-hal yang mengandung kesulitan dan memerlukan banyak tenaga. Seperti dalam kalimat:

“Dia bersungguh-sungguh mencurahkan tenaga untuk mengangkat batu penggilingan.”

Kata ijtihad ini tidak boleh dipergunakan seperti pada kalimat:

“Dia mencurahkan tenaga untuk mengangkat sebuah biji sawi.”

Ijtihad menurut istilah ushul fiqh sebagaimana dikemukakan Imam As-Syaukani adalah:

“Mencurahkan kemampuan untuk memperoleh hukum syara’ yang bersifat ‘amali/ praktis dengan jalan istinbath (mengeluarkan/ menyimpulkan hukum).”

Definisi itu kemudian dijelaskan oleh As-Syaukani:

1. Badzlul wus’i (mencurahkan kemampuan), ini mengecualikan hukum-hukum yang didapat tanpa pencurahan kemampuan. Sedangkan arti badzlul wus’i adalah sampai dirinya merasa sudah tidak mampu lagi untuk menambah usahanya.

2. Hukum syara’ itu mengecualikan hukum bahasa, akal, dan hukum indera. Oleh karenanya orang yang mencurahkan kemampuannya dalam bidang hukum (bahasa, akal, dan indera) tadi tidak disebut mujtahid menurut istilah ushul fiqh.

3. Demikian pula pencurahan kemampuan untuk mendapatkan hukum ilmiah tidak disebut ijtihad menurut fuqoha’, walaupun menurut mutakallimin dinamakan ijtihad.

4. Dengan jalan istinbath itu mengecualikan pengambilan hukum dari nash yang dhahir atau menghafal masalah-masalah, atau menanyakan kepada mufti atau dengan cara menyingkap masalah-masalahnya dari buku-buku ilmu. Karena hal-hal tersebut walaupun benar mencurahkan kemampuan menurut segi bahasa, namun tidak benar berijtihad menurut istilah.

Sebagian ahli ushul menambah definisi itu dengan kata-kata faqih (seorang ahli fiqh), maka jadinya “pencurahan kemampuan oleh seorang faqih”. Itu mesti dalam hal ini, karena pencurahan kemampuan oleh yang bukan faqih (ahli fiqh) itu bukan dinamakan ijtihad menurut istilah.

 

B.  Ijtihad Istinbahi dan Ijtihad Tathbiqi

Al-Imam Abu Zuhroh mengemukakan bahwa sebagian ulama menta’rifkan: Ijtihad dalam istilah ushuliyyin (ahli ushul fiqh) adalah mencurahkan upaya keras (juhd) dan mengorbankan kemampuan maksimal, baik dalam istinbath (mengeluarkan/ menyimpulkan) hukum-hukum syar’i maupun tathbiq/ penerapannya.

Ijtihad dengan ta’rif ini maka terbagi dua:

1. Khusus istinbath hukum dan menjelaskannya.

2. Khusus tathbiq/ penerapannya.

Bagian pertama, Ijtihad Istinbathi yaitu ijtihad yang sempurna, dan itu khusus bagi golongan ulama’ yang mengarah pada pengenalan hukum-hukum furu’ (cabang) yang ‘amali (praktis/ operasional) dari dalil-dalilnya yang terinci. Sebagian ulama mengatakan, ijtihad (isthinbathi) ini termasuk ijtihad khusus, kadang terputus pada suatu masa. Hal itu menurut pendapat Jumhur (mayoritas ulama), atau paling kurang sebagian banyak dari ulama. Sedangkan ulama Hanabilah (ulama Hanbali) berpendapat bahwa jenis ini (Ijtihad Isthinbathi) harus tidak pernah lowong pada setiap masa, mesti harus ada mujtahid yang mencapai tingkatan ini.

Bagian kedua, (Ijtihad Tathbiqi), para ulama bersepakat bahwa tidak boleh kosong suatu masa pun dari adanya (mujtahid tathbiqi). Mereka itu adalah ulama takhrij dan taathbiq (mengeluarkan dan menerapkan) ‘illat-illat yang diistinbatkan atas perbuatan-perbuatan juz’iyah. Maka pelaksanaan mereka atas hal ini adalah penerapan apa yang telah diistinbatkan para ulama yang dulu. Dan dengan tathbiq/ penerapan ini terjelaskanlah hukum-hukum permasalahan yang belum dikenalkan oleh ulama-ulama terdahulu yang memiliki derajat ijtihad mengenai hal itu. Dan sesungguhnya upaya yang dilakukan pemilik derajat kedua (mujtahid tathbiqi) adalah apa yang dinamakan tahqiqul manath (mengeluarkan ‘illat-illat, sebab-sebab terjadinya hukum).

C.  Lapangan Ijtihad

Secara ringkas lapangan ijtihad ada dua:

1. Perkara syari’ah yang tidak ada nashnya sama sekali.

2. Perkara syari’ah yang ada nashnya tetapi tidak qath’i wurud ataupun dalalahnya (tidak pasti penunjukan maknanya).

Kalau di dalam lapangan ijtihad itu kemudian ada ijtihad dalam suatu perkara, lantas hasil ijtihad itu menjadi undang-undang, kalau dikaitkan dengan wewenang qodhi/ hakim, maka wewenang hakim hanya terbatas pada pemberian keputusan berdasarkan undang-undang, bukan untuk mengadili undang-undang itu sendiri.

Qodhi tidak berhak menghakimi undang-undang, karena wewenangnya hanya menerapkan undang-undang atau memutuskan perkara berdasarkan undang-undang. Hal itu sebagaimana mujtahid pun tidak berhak untuk mengijtihadi perkara-perkara yang sudah ada nashnya yang qoth’i (teksnya yang sudah pasti penunjukan maknanya)..

Bila ada yang nekat melakukan “ijtihad” terhadap yang sudah ada nash qoth’inya, dan hasil “ijtihadnya” itu menyelisihi nash, maka bukan sekadar ijtihadnya itu tidak berlaku, tetapi berarti menentang nash. Sebagaimana hakim memutuskan perkara dengan sengaja menyelisihi undang-undang, maka bukan hanya batal keputusannya itu, namun bahkan sengaja melanggar undang-undang.

Ijtihad Terhadap Hukum yang Sudah Ada Nash Qath’inya Itu Dilarang

Contohnya, tidak bolehnya berijtihad tentang kewajiban puasa atas umat Islam, larangan khamr, larangan makan daging babi, larangan makan riba, kewajiban memotong tangan pencuri –bila tidak ada keraguan dan telah memenuhi syarat untuk dipotong–. Juga tentang hukum pembagian harta waris mayit di antara anak-anaknya, di mana bagian seorang laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan, dan hukum-hukum lainnya yang telah ditetapkan dalil Al-Qur’an yang pasti atau dalil hadits yang pasti, yang telah disepakati umat Islam dan telah diketahui dari ajaran agama dengan pasti sehingga telah menjadi sendi pemikiran dan perilaku umat Islam.

Hendaknya kita jangan sampai terbawa arus orang-orang yang hendak mempermainkan agama, yang ingin mengubah nash-nash muhkamat menjadi mutasyabihat dan hukum-hukum qath’i dianggap sebagai hukum-hukum yang dzanni, yang bisa digunakan dan bisa juga ditolak atau bisa dilepas atau bisa diikat. Karena pada pokoknya nash yang muhkam merupakan tempat kembalinya nash yang mutasyabihat, dan hukum-hukum yang qath’i merupakan tempat rujukan hukum-hukum yang dzanni. Sehingga hukum qath’ilah yang menjadi pegangan hukum dan ukuran ketika terdapat suatu pertentangan. Maka apabila hukum-hukum qath’i ini dijadikan hukum yang tidak qath’i dan masih dianggap sebagai letak perselisihan dan pertentangan, berarti sudah tidak ada lagi di sana hukum yang dijadikan tempat rujukan dan dijadikan sandaran, serta tidak ada pula ukuran yang dijadikan landasan hukum.

 

D.  Syarat-syarat Ijtihad

Untuk melakukan ijtihad diperlukan syarat-syarat. Syarat kecakapan berijtihad itu menurut Abdul Wahab Khalaf ada 4:

1. Hendaknya seseorang mempunyai pengetahuan bahasa Arab, dari segi sintaksis dan filologinya. Mempunyai rasa bahasa dalam memahami gaya bahasa yang ia peroleh dari upaya mempelajari ilmu bahasa Arab dan cabang-cabangnya. Mempunyai cakrawala luas dalam ilmu sastra dan unsur-unsur yang mempengaruhi kefasihannya, puisi maupun prosanya, dan lain-lainnya. Karena orientasi pertama seorang mujtahid adalah nash-nash dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta berupaya memahaminya. Seperti orang Arab karena kondisi bahasanya yang Arab, maka mereka mampu memahami nash-nash yang datang dengan bahasa mereka. Dan mampu menerapkan kaidah-kaidah pokok bahasa untuk menyimpulkan arti dan ungkapan atau phrase dan sinonim-sinonimnya.

2. Hendaknya seseorang mempunyai pengetahuan tentang Al-Qur’an. Yang dimaksud ialah seseorang itu mengerti hukum-hukum syara’ yang dikandung oleh Al-Qur’an, ayat-ayat yang menjadi nash hukum dan metoda menemukan hukum-hukum itu dari ayat-ayat tertentu. Sekiranya ia dapat, dengan mudah menghadirkan semua ayat hukum Al-Qur’an yang berhubungan dengan topik peristiwa, serta sebab-sebab turun setiap ayat secara benar, juga atsar sebagai tafsir atau ta’wil ayat-ayat itu.Dari pengetahuan semua itu dapat ditemukan hukum suatu peristiwa. Ayat-ayat hukum dalam Al-Qur’an tidaklah banyak. Sebagian ulama tafsir telah mengelompokkan ayat-ayat dalam kitab tafsir yang khusus, sehingga memungkinkan jika ayat-ayat yang berhubungan satu topik, satu dengan yang lainnya dihimpun. Maka seseorang dengan mudah mengecek kembali ayat Al-Qur’an yang mengandung hukum-hukum mengenai thalaq, perkawinan, pewarisan, harta pusaka, pidana, mu’amalah dan macam-macam hukum Al-Qur’an lainnya. Terlebih lagi jika setiap ayat disebutkan keterangan yang benar tentang sebab-sebab turun ayat, hadits-hadits yang menjelaskan keglobalannya, dan hadits-hadits yang menafsirinya. Dengan demikian, himpunan undang-undang dalam Al-Qur’an itu menjadi mudah untuk dikembalikan sebagai reference ketika ada keperluan, dan mudah membandingkan pasal-pasal atau topik yang satu dengan yang lainnya. Setiap pasal dapat dipahami menurut keterangan topok-topiknya, karena Al-Qur’an itu sebagiannya menafsiri kepada sebagian yang lain. Suatu kesalahan jika ayat dari topik itu dipahami bahwa ia adalah kesatuan yang terpisah yang berdiri sendiri.

3. Hendaknya seseorang mempunyai pengetahuan Al-Sunnah. Artinya mengerti hukum-hukum syara’ yang ada dalam Al-Sunnah Nabawiyah, sehingga ia mampu menghadirkan hukum-hukum setiap bagian dari bagian-bagian perbuatan mukallaf yang ada dalam Al-Sunnah, dan mengerti tingkatan sanad sunnah itu dari segi keshahihan atau kelemahan riwayatnya. Para ulama telah mempunyai andil besar dalam penyusunan Sunnah Nabawiyah. Mereka mencurahkan perhatiannya untuk meneliti sanad-sanad dan para rawi setiap hadits Al-Sunnah itu. Sehingga ulama’ sesudah mereka, cukup mengadakan penelitian tentang sanad-sanadnya, sampai setiap hadits itu dikenal sebagai hadits mutawatir, masyhur, shahih, hasan, atau dho’if. Para ulama’ juga menaruh perhatian untuk menghimpun hadits-hadits hukum dan menyusunnya menurut bab-bab fiqh dan perbuatan mukallaf, sehingga manusia mudah kembali kepada keterangan yang ada dalam hadits shahih yang berupa hukum-hukum jual beli, thalaq, perkawinan, pidana dan lain-lainnya. Juga dapat kembali kepada ayat-ayat dan hadits-hadits yang membicarakan satu topik di antara topik-topik hukum. Dari penjelasan ayat-ayat dan hadits-hadits itu, diharapkan dapatlah dipahami hukum syara’. Di antara kitab-kitab yang paling baik untuk dijadikan marja’ (reference) dalam masalah ini, ialah kitab “Nailul Authar” karangan imam Asy Syaukani.

4. Hendaknya ia mengerti segi-segi qiyas. Yaitu mengerti ’illat dan hikmah pembentukan syari’at yang dengan itu disyari’atkan beberapa hukum. Mengerti hikmah syari’ah yang dibuat oleh Syari’ untuk mengetahui ‘illat-’illat hukum, dan memahami peristiwa kemanusiaan mu’amalah, sehingga orang itu mengerti sesuatu yang menjadi realisasi ‘illat hukum yang berupa peristiwa yang tidak ada nash, memahami kepentingan dan kebiasaan manusia, dan hal-hal yang menjadi sarana kebaikan juga kejahatan baginya. Sehingga apabila melalui qias seorang mujtahid tidak menemukan jalan untuk mengetahui hukum suatu peristiwa, dia mampu menempuh jalan lain yang telah dirintis oleh syari’at Islam, supaya dapat menemukan hukum dari peristiwa yang tidak ada nash (dalil ayat atau haditsnya) itu.

 

E.  Jenis-jenis Ijtihad Dilihat dari Tingkatannya

Untuk mengemukakan mana yang ijtihad istinbathi dan mana yang ijtihad tathbiqi, Al-Imam Muhammad Abu Zahroh mengemukakan martabat atau tingkatan mujtahid, sebagai berikut:

 

1. Al-Mujtahidun fis syar’i, yaitu mujtahid mutlak. Ini tingkatan pertama (tertinggi). Mereka itu memenuhi persyaratan-persyaratan ijtihad. Mereka mengeluarkan hukum-hukum dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, menjalani seluruh jalan untuk mencari dalil tanpa mengikut orang lain, dan mereka menentukan manhaj (pola) untuk diri mereka sendiri, dan menentukan furu’nya/ cabang-cabangnya. Mereka itu adalah para fuqoha’ sahabat semuanya, fuqoha’ tabi’in seperti Sa’id bin al-Musayyib, dan Ibrahim An-Nakha’i; para fuqoha’ Mujtahidin seperti: Ja’far Shodiq dan ayahnya (Muhammad Al-Baqir), Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad, Al-Auza’i, Al-Laits bin Sa’id, Sufyan Ats-Tsauri, Abu Tsaur dan banyak lagi yang lainnya. Walaupun pendapat-pendapat mereka tidak sampai kepada kita secara kumpulan yang dibukukan, tetapi dalam pujian-pujian kitab-kitab berbagai fuqoha’ terdapat pendapat-pendapat mereka yang dinukil/ dikutip dengan riwayat yang tidak ada bukti kebohongannya dan bisa dipercaya kebenarannya.

2. Mujtahid Muntasib yaitu mujtahid pada tingkatan kedua. Mereka adalah mujtahid yang memilih perkataan-perkataan imamnya mengenai perkara yang pokok-pokok (ushul), dan mereka menyelisihi imamnya dalam perkara yang furu’ (cabang-cabang). Tingkatan yang kedua ini jelas terikat dengan manhaj, dan berijtihad dalam hal yang telah diijtihadi imam, baik menyepakatinya atau menyelisihinya. Yaitu berijtihad terhadap hal-hal (baru) yang belum dikemukakan.

3. Mujtahid dalam Madzhab. Mereka ini pada tingkatan ketiga. Mereka mengikuti imam baik mengenai ushul maupun furu’ dalam keadaan berhenti padanya. Pekerjaan mereka hanyalah dalam mengistinbathkan hukum-hukum masalah-masalah yang tidak ada riwayat (pengeluaran hukumnya) dari imam. Dan mereka itulah yang menurut pengikut Maliki bahwa tidak ada masa yang kosong dari keberadaan mujtahid jenis ini. Yaitu orang-orang yang mengatakan bahwa upaya mereka dalam ijtihad adalah tahqiqul manath, artinya tathbiqul ‘ilal fiqhiyyah (menerapkan illat fiqih) yang telah dikeluarkan oleh (mujtahid) pendahulu-pendahu mereka dalam masalah-masalah yang belum dibentangkan para pendahulu. Dan mereka tidak berijtihad dalam masalah-masalah yang telah dinashkan dalam madzhabnya kecuali dalam skup tertentu. Istinbath pendahulu mereka itu terbina dalam materi-materi ungkapan yang belum mencakup adanya kebiasaan di masa belakangan. Sekiranya para pendahulu itu melihat apa yang dilihat orang sekarang maka mereka pasti mengemukakan apa yang mereka katakan. Upaya mereka pada hakekatnya ada dua unsur: Pertama, mencari kesimpulan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan imam-imam terdahulu, dan seluruh penerapan/ ketetapan fiqh umum yang terdiri dari illat-illat yang dikeluarkan oleh para imam yang kenamaan. Kedua, mengistinbathkan hukum-hukum yang belum dinashkan dengan membangunnya di atas kaidah-kaidah. Tingkatan ini adalah yang membebaskan fiqh madzhab, meletakkan dasar-dasar untuk pertumbuhan madzhab-madzhab, mentakhrijnya dan membinanya, dan meletakkan dasar-dasar tarjih, perbandingan antar pendapat-pendapat untuk menshahihkan sebagian dan melemahkan sebagian lainnya. Dan tingkatan inilah yang memberi ciri keberadaan fiqh setiap madzhab.

4. Mujtahidun dan Murjihun. Ini tingkatan keempat yaitu mereka tidak mengistinbathkan hukum furu’ yang belum diijtihadi para pendahulu dan belum diketahui hukumnya. Dan juga mereka tidak mengistinbathkan hukum masalah-masalah yang belum diketahui hukumnya, tetapi mereka mentarjih antara pendapat-pendapat yang diriwayatkan, dengan sarana tarjih yang telah diterapkan oleh para pendahulu terhadap mereka. Maka mereka menetapkan tarjih sebagian pendapat atas sebagian lainnya dengan (berdasarkan) kuatnya dalil atau kemaslahatan, untuk diterapkan sesuai keadaan masa dan semacamnya yang tidak termasuk istinbath baru secara mutlak ataupun mengikuti (yang lalu). Imam Nawawi dalam muqaddimah kitab Majmu’nya menyamakan tingkatan mujtahid keempat ini dengan tingkatan yang ketiga dalam satu tingkat.

5. Tingkatan muhafidhin, mereka tidak mentarjih tetapi mengetahui apa yang rajih/ kuat, dan menyusun derajat tarjih sesuai dengan yang telah ditarjih oleh para pentarjih. Mereka ini berhak berfatwa sebagaimana para pendahulu, tetapi skupnya sempit.

 

Abu Zuhrah mengemukakan, tingkatan satu sampai 4 itu adalah mujtahid, sedang tingkatan selanjutnya adalah muqollid dan tidak bisa naik ke tingkat ijtihad.

Pada tingkatan yang lalu itu, walaupun satu sampai 4 itu adalah tingkatan mujtahid, tetapi penjelasannya sebagai berikut:

Pertama: Tingkatan pertama itu adalah yang memiliki tingkatan ijtihad al-kamil almaufur/ sempurna lagi mumpuni.

Kedua; tingkatan ijtihad dalam masalah furu’ mutlaq (hanya masalah-masalah cabang), tidak ada baginya ijtihad dalam masalah ushul (pokok).

Ketiga: tingkat ketiga dan termasuk pula yang keempat yaitu yang berhak ijtihad dalam hal mengeluarkan Illat (sebab) dan manath hukum, dan menyatakan manath itu dalam masalah-masalah yang timbul padanya.

 

F. Ijtihad Tathbiqi

Setelah diketahui adanya tingkatan-tingkatan mujtahid, maka bisa disimpulkan, ijtihad isthinbathi adalah yang dilakukan oleh mujtahid muthlaq dan mujtahid muntasib. Yaitu memang mereka mengeluarkan hukum dengan istinbath (penyimpulan), tanpa ada yang mengistinbathkannya sebelumnya.

Berbeda dengan itu adalah ijtihad tathbiqi, yaitu mengeluarkan hukum sejenis dari yang telah dikeluarkan oleh para pendahulu, hanya saja kasusnya belum ada di masa pendahulu.

Di samping ijtihad tathbiqi itu bermakna seperti itu, masih pula ada yang berkaitan dengan tugas, misalnya sebagai khalifah ataupun qadhi, maka di antara tugasnya adalah menentukan peraturan perundang-undangan atau memutuskan perkara.

Kita lihat tugas khalifah, dalam hal ini kita jadikan acuan bahwa mereka bertugas menentukan hal-hal yang sifatnya ijtihadi dan mengikat. Ijtihadi dan sifatnya mengikat itulah tathbiqi. Sedang ijtihad istinbathi sifatnya tidak mengikat, boleh dilaksanakan boleh tidak.

Al-Mawardi mengemukakan tugas-tugas khalifah, dan ia menjadikan tugas nomor satu khalifah adalah:

Melindungi keutuhan agama sesuai dengan prinsip-prinsipnya yang telah ditetapkan, dan hal-hal yang disepakati oleh salaful ummah (generasi awal Islam). Apabila muncul pembuat bid’ah, atau orang sesat yang membuat syubhat tentang agama, ia menjelaskan hujjah kepadanya, menerangkan yang benar kepadanya, dan menindaknya sesuai dengan hak-hak dan hukum yang berlaku, agar agama tetap terlindungi dari segala penyimpangan, dan ummat terlindungi dari usaha penyesatan.

Di samping tugas utama seperti itu masih ada 9 tugas lagi bagi imam/ khalifah yaitu:

1. Menerapkan hukum kepada dua pihak yang berperkara.

2. Melindungi wilayah negara dan tempat-tempat suci.

3. Menegakkan hukum.

4. Melindungi daerah-daerah perbatasan.

5. Memerangi orang yang menentang Islam.

6. Mengambil fai’ dan sedekah (termasuk zakat).

7. Menentukan gaji dan keperluan baitul mal.

8. Mengangkat orang-orang terlatih untuk menjalankan tugas-tugas, dan orang-orang yang jujur untuk mengurusi keuangan, agar tugas-tugas dikerjakan oleh orang-orang ahli, sedang keuangan oleh orang-orang yang jujur.

9. Terjun langsung menangani aneka persoalan, memeriksa keadaan, agar ia sendiri yang memimpin umat dan melindungi agama.

Dari 10 tugas itu ada beberapa tugas yang memerlukan ijtihad yang sifatnya adalah tathbiqi (penerapan). Di antaranya menghukum orang yang sesat. Penentuan hukum dari khalifah tidak cukup hanya ditentukan, namun harus diterapkan; maka penerapan itulah namanya tathbiqi. Kalau hukumnya itu belum ada dan kemudian ia berijtihad, maka ijtihad di sini adalah istinbathi. Kemudian hasil ijtihadnya itu diterapkan ataupun jadi undang-undang maka itu tathbiqi.

Menentukan dan menghukumi pendapat orang sebagai pendapat yang sesat itu adalah ijtihad istinbathi bila belum pernah ada mujtahid yang mengistinbathkan sebelumnya. Kalau sudah pernah ada, hanya saja kasusnya berbeda tetapi ‘illatnya sama, lalu dikemukakan ‘illat itu untuk menentukan hukumnya, maka itu adalah ijtihad tathbiqi. Dan juga penerapan hukumnya itu adalah tathbiqi.

Contoh ijtihad istinbathi dan langsung tathbiqi/ diterapkan sebagai berikut:

Ada dua orang yang sedang berselisih. Lalu kedua orang tadi pergi menghadap Rasulullah saw meminta pengadilan. Rasulullah saw pun menyelesaikan perselisihan kedua orang tadi. Namun salah seorang dari mereka merasa kurang puas terhadap keputusan Rasulullah, kemudian ia mengatakan kepada lawannya: “Kalau begitu kita adukan ke Umar.”

Kedua orang tadi menghadap ke Umar dan menceritakan permasalahannya. Seusai mendengarkan masalahnya, Umar bangkit dari tempat duduknya sambil mengatakan:

“Diamlah kalian di tempat.” Umar masuk untuk mengambil pedangnya, kemudian keluar dan langsung mengayunkannya ke arah orang yang tidak puas tadi hingga akhirnya orang itu mati.

Kemudian peristiwa itu diberitahukan kepada Rasulullah saw. Beliau pun bersabda: “Saya kira tidak mungkin Umar memberanikan diri untuk membunuh seorang mukmin.”

Kemudian menurunkan ayat dalam surat An-Nisaa’ ayat 65 sebagai pernyataan untuk mengokohkan kebenaran pendapat Umar:

“Maka demi Tuhanmu mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An-Nisa’: 65).

Rasulullah pun menghalalkan darah orang yang terbunuh itu dan Umar terbebas dari segala sanksi hukum.

Dalam hal ini Umar beranggapan bahwa perbuatan orang yang dibunuhnya menyebabkannya halal dibunuh.

 

BAB III.  KESIMPULAN

1. Ijtihad Istinbathi adalah ijtihad untuk mengeluarkan hukum mengenai masalah yang tidak ada nashnya atau ada nashnya tetapi dhanni (tidak bermakna pasti), dan hal yang diijtihadi itu belum ada pendahulu yang mengijtihadinya.

2. Ijtihad tathbiqi adalah ijtihad mengenai hal yang sudah tercakup dalam ijtihad pendahulu, namun kasusnya belum disebut oleh pendahulu sebab belum ada. Seandainya ada maka disebut pula. Maka ijtihad tathbiqi itu hanyalah mengeluarkan illat-illat atau tahqiqul manath disesuaikan dengan ijtihad pendahulu.

3. Ijtihad tathbiqi secara bahasa adalah menerapkan hasil ijtihad yang sudah ada, sehingga hasil ijtihad yang sifatnya tidak mengikat kalau dijadikan undang-undang maka sifatnya jadi mengikat. Pembuatan undang-undang ataupun penetapan keputusan untuk diekskusikan itu bisa disebut tathbiq. Dalam hal ini kalau baru berupa fatwa (sifatnya tidak mengikat) maka masih berupa istinbathi, tetapi kalau sudah jadi undang-undang atau dipakai oleh hakim untuk memutuskan perkara maka sifatnya mengikat untuk diterapkan, di sinilah bisa disebut tathbiq

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Bakry, Nazar, Fiqh dan Ushul Fiqh, 1996, PT. Raja Grafindo Persada.

2.      Habafie, Ushul Fiqh, 1961, Penerbit Wijaya, Jakarta.

  1. Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya,

4.      Abd. Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, 1972, DDII Pusat, Jakarta.

5.      Haki, Abdul Hamid, Al Bayan, 1955, Bukittinggi, Sumatera

 

ABSTRAK

Seorang lelaki (pemimpin) terkadang berbanding seratus, bahkan seribu orang. Dan seorang pemimpin pilihan kadang kala imbangannya adalah satu bangsa, sehingga dikatakan: Seorang pemimpin  yang punya cita-cita besar bisa menghidupkan satu kaum (bangsa). (Wise Word)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I.   PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Keadaaan dari konsisi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAIN Cirebon kini sedang dipertanyakan eksistensinya. Karena banyak sekali civitas akademika di STAIN Cirebon berpendapat bahwa ada atau tiadanya BEM adalah sama saja. Atau ada ypendapat yang lebih miris lagi bahwa BEM STAIN Cirebon hanya mementingkan golongan tertentu saja dan tidak mewakili aspirasi seluruh mahasiswa.

Jika kita berbicara mengenai suatu organisasi baik itu BEM, DPM, BEMJ, HMPS, UKM, dan yang lainnya. Maka yang menjadi peran sentral utama dalam organisasi tersebut adalah pemimpin dari organisasi tersebut. Apakah pemimpin tersebut memimpin dengan gaya demokratis, otoriter, maupun dengan gaya Islam.

Penulis sendiri berpendapat bahwa peran seorang pemimpin ini sangatlah urgen karena dari seorang pemimpin inilah akan dilihat kemajuan atau kemunduran atau bahakn kahancuran dari sebauah organisasi. Dan untuk memimpin organsisasi baik dalam skala yang kecil maupun dalam skala yang besar sesungghunya Islam telah mengatur hal tersebut.

Dan untuk mengetahui seharusnya bagaimana seorang pemimpin melaksanakan kepemimpinnanya dalam gaya Islami maka penulis akan memaparkannya dalam karya ilmiah berikut ini.

 

B.  Perumusan Masalah

Dengan melihat latar belakang yang telah diemukakan, maka beberapa masalah yang dapat penulis rumuskan dab akan dibahas dalam karya ilmiah ini adalah

  1. Apa definisi dari pemimpin/ kepemimpinan ?
  2. Bagaimana Islam mengatur cara kepemimpinan seseorang ?
  3. Bagaimana ciri-ciri, karakteristik, prinsip-prinsip yang harus dimilki pemimpin dalam pandangan Islam ?

C.  Tujuan Penulisan Karya Ilmiah

Tujuan penulisan dari karya ilmiah ini adalah untuk memenuhi persyaratan Calon Presiden Mahasiswa (Capresma) /  Calon Wakil Presiden Mahasiswa (Cawapresma) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAIN Cirebon periode 2009 -2010.

 

D.  Metode Penulisan Karya Ilmiah

Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, penulis mempergunakan metode kepustakaan. Yakni pada metode ini, penulis membaca buku-buku dan literatur yang berhubungan dengan penulisan karya ilmiah atau teknik penulisan karya ilmiah dan yang berkaitan dengan pandangan Islam terhadap pemimpin sebagai informasi tambahan.

 

E.  Sistematika Penulisan

Pada karya ilmiah ini, penulis akan menjelaskan dimulai dari bab pendahuluan. Bab ini meliputi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Bab berikutnya, penulsi akan menggambarkan tentang pemimpin dalam pandangan Islam.

Pada bab ketiga merupakan bab penutup dalam karya ilmiah ini. Pada bagian ini penulis akan menyimpulakn dari uraian-uraian sebelumnya mengenai pemimpin dalam pandangan Islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II.   PEMBAHASAN

2.1   Definisi Kepemimpinan

Kepemimpinan diartikan sebagai :

  • Orang yang memiliki kemampuan mempengaruhi (karena wibawa, pengetahuan atau dapat melakukan komunikasi)
  • Dan mengkoordinasikan untuk mengarahkan orang-orang yang dipimpinnya
  • Untuk mencapai tujuan

Kepemimpinan adalah :

Ø  mengetahui apa tindakan berikutnya

Ø  mengetahui mengapa tindakan itu penting

Ø  mengetahui bagaimana menggunakan sumber-sumber yang ada

(Maka seorang pemimpin adalah orang yang bisa menjawab itu semua)

 

2.2    Pemimpin dan Pengikut

Pemimpin yang baik menyadari bahwa mereka juga harus menjadi pengikut yang baik. Boleh dikatakan, pemimpin juga harus melapor kepada seseorang atau kelompok. Oleh sebab itu mereja juga harus menjadi pengikut yang baik. Pengikut yang baik harus menghindari persaingan dengan pemimpin, bertindak dengan setia, dan menanggapi ide, nilai dan tingkah laku pemimpin secara konstruktif.

Pemimpin adalah seseorang yang mau dipimpin.Pemimpin harus senantiasa memberi perhatian pada kesejahteraan anggotanya.

 

2.3  Ciri-ciri Pemimpin Islam

A.    Setia

Pemimpin dan orang yang dipimpin terikat kesetiaan kepada Allah

B.     Tujuan Islam secara Menyeluruh

Pemimpin melihat tujuan organisasi bukan saja berdasarkan kepentingan kelompok, tetapi juga dalam ruang lingkup tujuan Islam yang luas

C.     Berpegang pada Syariat dan Akhlak Islam

Pemimpin terikat dengan peraturan Islam, dan boleh menjadi pemimpin selama ia berpegang pada perintah Syariat Waktu mengendalikan urusannya ia harus patuh kepada adab-adab Islam

D.    Pengemban Amanat

Pemimpin menerima kekuasaan sebagai amanah dari Allah yang disertai oleh tanggungjawab yang besar. Qur’an memerintahkan pemimpin melaksanakan tugasnya untuk Allah dan menunjukkan sikap baik kepada pengikutnya. (22:41)

2.4   Jenis-jenis Kepemimpinan

Dalam pelaksanaan, gaya kepemimpinan bervariasi :

Otokrat :

  • Kurang mempercayai anggota kelompoknya
  • Hanya mempercayai bahwa imbalan materi sajalah yang mendorong orang untuk bertindak
  • Perintah yang dikeluarkan harus dilaksanakan tanpa pertanyaan

Otokrat yang baik :

  • Memberikan perhatian kepada pengikut-pengikutnya
  • Memberi kesan seperti yang demokratis
  • Senantiasa membuat keputusan sendiri

Demokratis :

  • Membuat keputusan bersama dengan anggota kelompok
  • Menerangkan sebab-sebab keputusan yang dibuat sendiri kepada kelompok
  • Menyampaikan kritikan dan pujian secara obyektif

Laissez Faire :

  • Tidak mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya
  • Tidak menetapkan tujuan untuk kelompok
  • Memperkecil komunikasi dan hubungan kelompok

 

2.5   Karakteristik Gaya Kepemimpinan

A.    PEMAKSA

a.       Senang menghukum tapi tidak suka memberi penghargaan

b.      Berpendapat bahwa orang-orang pada dasarnya malas dan harus di”paksa” untuk bekerja

c.       Tidak suka menerima umpan balik dari bawahannya atau orang-orang sekitanya

B.     PENDOBRAK

a.       Punya motivasi prestasi (achievement) yang tinggi

b.      Melakukan segala-galanya sendirian

c.       Tidak suka mendelegasikan wewenang dan tanggung-jawabnya

d.      Tidak menaruh perhatian pada orang-orang disekitarnya

e.       Punya standar mutu kerja yang tinggi, tapi tidak memiliki sifat sebagai pemimpin yang baik

C.     PENGUASA

a.       Usul-usul atau pendapatnya diajukan secara halus dan terselubung hingga kurang jelas bagi orang lain

b.      Memberikan hukuman tapi juga suka memberi penghargaan

c.       Suka mendengar umpan balik dari bawahan dan orang-orang sekitarnya, tetapi hanya untuk kepentingan sendiri

D.    PENYAYANG

a.       Suka memanjakan anggota atau bawahannya

b.      Nyaris tidak punya rencana kerja

c.       Selalu memberi penghargaan, tidak suka menghukum

d.      Nyaris tak bisa mengatur pekerjaannya sendiri

E.     DEMOKRAT

a.       Selalu punya rencana kerja terperinci

b.      Banyak menaruh perhatian pada orang-orang sekitarnya

c.       Suka menanyakan pendapat setiap orang

d.      Memberi penghargaan, tidak suka memberi hukuman

F.      PEMBINA

a.       Menetapkan tujuan dengan jelas, memberikan tantangan tetapi moderat resikonya

b.      Suka menerima dan memberikan umpan-balik terperinci

c.       Memberi penghargaan, tapi juga memberi hukuman

d.      Mendelegasikan wewenang dan memberi bantuan kepada anggota atau bawahannya

e.       Bawahan mempercayai dan menghormatinya

2.6   Apakah Pemimpin mengekor Pengikut ?

Sebagian pemimpin kadang-kadang mengikuti pengikutnya. Mereka melepaskan fungsi kepemimpinan ketika tindakan mereka hanya sekedar cerminan kehendak atau perilaku pengikutnya. Mereka tidak lagi menentukan arah yang seharusnya diikuti dan dilaksanakan. Para pengikut mereka membuat penilaian yang salah bahwa tindakan pemimpin tersebut sebagai keputusan yang popular. Lambat laun para pengikut itu menyadari bahwa mereka mampu bekerja tanpa pemimpin.

Barisan sedang melewati suatu jalan, tiba-tiba terdengar teriakan di tengah massa yang menonton barisan itu :

“Berhati-hatilah. Kalian bergerak ke arah yang salah. Ini jalan buntu.”

Orang yang berbaris itu berhenti …. cemas …. “ Mungkinkah hal ini terjadi?”. Mereka bepikir, dan melihat, lalu menuju ke depan, tinggi dan megah, pemimpin mereka yang gagah terus berjalan.

Pasti ia menuju ke jalan yang benar, pikir mereka. “Lihatlah, bagaimana ia melangkah! Betapa tingginya ia berdiri. Sudah pasti itu benar!”

…. dan merekapun terus berjalan.

Pemimpin yang gagah itu berhenti sebentar … cemas … “Tetapi apakah ini mungkin?” sambil berpikir ia menoleh ke belakang.

“Saya pasti menuju ke jalan yang benar,” ia berpikir sebentar, lalu: “Lihat betapa banyaknya pengikut saya. Saya pastilah berada di jalan yang benar.”

…. dan dia terus berjalan ……

 

2.7   Yang Harus Dimiliki seorang Pemimpin :

Motivation

Pengendalian, tenaga, inisiatif, keberanian dan kesanggupan “memulai dari diri sendiri” dan pendirian yang tetap serta keinginan yang kuat untuk mencapai sesuatu.

Power of 4 kinds

 

1. Leader Power

Inside [skill] :

o   Decision making

Dalam melaksanakan pengambilan keputusan dapat dilakukan berbagai macam pendekatan salah satunya adalah :

1.      Definisikan masalah

2.      Tentukan batasan untuk masalah

3.      Tentukan prosedur untuk pemecahan masalah

4.      Tentukan siapa yang harus memecahkan masalah

5.      Mendapatkan pemecahan masalah (Diterima / Dikembalikan)

6.      Tentukan siapa yang harus melaksanakan pemecahan masalah dan kapan

7.      Tentukan siapa yang mengkontrol pelaksanaan pemecahan masalah

8.      Terima hasil pengkontrolan pelaksanaan

9.      Bila pemecahan masalah tidak berhasil cari solusi terbaik lainnya dan lanjutkan dari langkah 6

o   Bersikap adil

o   Bertanggung jawab

o   Dapat dipercaya

o   Aligning (mampu mengorganisir dengan rapi)

2. Goal Power [vision]

Visi adalah pandangan yang menggambarkan :

  • Kemana anda akan menuju
  • Bagaimana
  • Dan apa yang akan anda lakukan

Parameter visi

  • Focus
  • Jelas, lugas
  • Mudah dicapai [bukan berarti tanpa tantangan]

Langkah pencapaian visi adalah dengan menetapkan sasaran

Parameter sasaran : SMART

Dalam mencapai visi kita maka visi tersebut harus permanen [sehingga arahnya tidak berubah ubah] sedangkan sasarannya dapat berubah-ubah [“Banyak jalan menuju Roma”]

Tugas : minta setiap peserta membuat contoh visi dan sasarannya masing-masing jika mereka mendapat jabatan kepemimpinan tertentu (ketua bidang atau ketua kepanitiaan misalnya)

 

3. Follower Power

Needs of followers [based on Maslow’s need hierarchy] :

a.       physical needs [house, food, clothes]

b.      safety [security]

c.       social [has friends, accepted]

d.      ego [has status, is viewed with esteem]

e.       self actualization [opportunity to realize full potential]

Untuk mendapatkan pengikut maka pemimpin harus dapat menarik perhatian mereka. Hal yang menarik perhatian pengikut antara lain :

(1) confidence [rasa percaya diri seorang pemimpin]

(2)   creativity [kreativitas yang tinggi dari seorang pemimpin dalam penentuan langkah]

(3)   caring [tidak ada orang yang tidak penting]

(4)   consideration [memperlakukan orang sesuai dengan apa yang orang tersebut harapkan dan seorang pemimpin membantunya menjadi sesuatu yang ia capable didalamnya]

Managerial leadership power adalah keadaan termotivasi secara personal untuk mempengaruhi orang lain dalam rangka mencapai suatu tujuan:

o   Bagaimana cara mendapatkannya

§  Dengan kreasi motivasi dari dalam dirinya

§  Dengan inspirasi yang berasal dari luar dirinya

o   Tujuannya

Untuk membakar rasa enthusiasm diantara orang-orang dalam organisasi dan mempengaruhi mereka untuk menjadi tertarik dengan kontribusi personal mereka dalam pencapaian tujuan organisasi

 

4. Communicatioin Power

“a leader must be able to get his message across to those who would follow”

Communication skill

a.       dapat menjelaskan secara jelas tujuan ataupun visi mereka kepada pengikut mereka

b.      empowering [memaksimalkan potensi, bakat dan energi serta kontribusi pengikut]

c.       modeling [membangun rasa kepercayaan diantara pengikut dan semua]

d.      dapat memecahkan problem yang terjadi

 

2.8   Prinsip-prinsip dasar operasional kepemimpinan Islam

  1. Musyawarah

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan-nya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari Rezki yang Kami Berikan kepada mereka.” (QS. Asy Syu’ara 42:38)

 

Pelaksanaan musyawarah memungkinkan anggota turut serta dalam proses pembuatan keputusan. Pada saat yang sama musyawarah berfungsi sebagai tempat mengawasi tingkah laku pemimpin jika menyimpang dari tujuan umum kelompok.

Tentu saja pemimpin tidak wajib melakukan musyawarah untuk setiap masalah. Masalah rutin hendaknya ditanggulangi secara ber-beda dengan masalah yang menyangkut pembuatan kebijaksanaan. Apa yang rutin dan apa yang tidak harus dirumuskan oleh masing-masing kelompok sesuai dengan ukuran, kebutuhan, sumber daya manusia dan lingkungan yang ada. Secara umum, petunjuk berikut ini dapat membantu untuk menjelaskan lingkup musyawarah :

  • Urusan-urusan administratif dan eksekutif diserahkan kepada pemimpin
  • Persoalan yang membutuhkan keputusan segera harus ditangani oleh pemimpin dan disajikan kepada kelompok untuk ditinjau dalam pertemuan berikutnya
  • Anggota kelompok atau wakil mereka harus mampu memeriksa ulang dan menanyakan tindakan pemimpin secara bebas tanpa rasa segan dan malu
  • Kebijaksanaan yang hendak diambil, sasaran jangka panjang yang direncanakan dan keputusan penting yang harus diambil para wakil terpilih diputuskan dengan cara musyawarah. Masalah ini tidak boleh diputuskan oleh pemimpin seorang diri.
  1. Adil

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menunaikan (mengembalikan) amanat kepada yang berhak (ahlinya).” (QS. An-Nisa’ 4:58)

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berbuat yang tidak adi. Beraku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah itu Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah 5:8)

  1. Kebebasan Berpikir

Pemimpin Islam hendaklah memberikan ruang dan mengundang anggota kelompok untuk dapat mengemukakan kritiknya secara konstruktif, menciptakan suasana kebebasan berpikir dan pertuka-ran gagasan yang sehat dan bebas, saling menasehati satu sama lain sedemikian rupa, sehingga para pengikutnya merasa senang mendiskusikan persoalan yang menjadi kepentingan bersama.

Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh kepemimpinan :

Pertama : Mengenal dakwah

Pemimpin harus memahami dengan baik seluk beluknya yang bersifat ideology, doktrin dan organisasi serta menekuni kegiatan-kegiatannya dan menghayati segala aktivitas dan sepak terjangnya.

Pertanggungjawaban kepemimpinan sungguh menuntut dari tokohnya hubungan yang terus menerus dengan bawahan serta mengenal berbagai pandangan dan problema mereka termasuk penghayatan dan mempelajari pengalaman yang berguna bagi kedua belah pihak.

Kedua : Mengenal diri sendiri

Yaitu mengenal titik-titik kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya sendiri.

Oleh sebab itu, ia harus :

  • Mengakui & menyadari titik-titik kelemahan yang ada padanya serta berusaha memperkuatnya.
  • Menemukan titik-titik kekuatan yang ada padanya serta berusaha pula memanfaatkan dan mengembangkannya.
  • Berambisi mengembangkan pengetahuan umum dan menelaah berbagai obyek, pandangan dan pemikiran-pemikiran politik, social, ekonomi, dst.
  • Mempunyai perhatian untuk mengkaji dan mempelajari berbagai tokoh pemimpin kaum Muslimin dan lainnya serta mengenal berbagai metode dan gaya kepeimpinan mereka demikian juga berbagai sarana dan factor kesuksesan dan kegagalan mereka.

Ketiga : Pengayoman yang kontinu/ Perhatian penuh

Keterlibatan seorang pemimpin dalam mengawasi aktifitas individu-individu mengenal mereka dengan baik, menghayati ihwal dan kedudukan mereka secara khusus ataupun secara umum, kebersamaan dalam suka duka dan berusaha memecahkan segala problema mereka… Semua itu membantu memantapkan mereka dan memperteguh kepercayaan mereka, selanjutnya dapat memanfaatkan tenaga mereka dengan baik.

Keempat : Teladan yang baik

Tingkah laku, kegiatan vitalitas dan mobilitas, akhlak, perkataan dan aktifitas-aktifitas serta karya seorang pemimpin mempunyai dampak aktif terhadap seluruh jama’ahnya.

Kelima : Pandangan yang tajam

Kemampuan seorang pemimpin melakukan penilaian dengan cepat dan tepat bagi berbagai keadaan dan memberikan keputusan yang tepat dalam bermacam-macam ihwal dan situasi kondisi, niscaya akan mengokohkan kepercayaan dan penghargaan para individu.

Keragu-raguan, ketertutupan, kebingungan dan kerancuan dapat pula menciptakan kevakuman dan kelemahan kepercayaan serta melenyapkan disiplin.

Keenam : Kemauan yang kuat

Dimana dengan itu ia dapat mengatasi kesulitan dan menyelesaikan problema serta melewati liku-liku perjalanan.

Ketujuh : Kharisma kepribadian yang fitrah

Hal ini adalah sifat karakteristik bakat yang jika terdapat pada seorang pemimpin, ia akan mampu mempesona hati tanpa kesulitan. Unsur ini termasuk unsur yang paling kuat dalam membentuk pribadi pemimpin.

Kedelapan : Optimisme

Seorang pemimpin sepatutnya selalu diliputi cita-cita dan jiwa yang bersih serta lapang dada; tanpa memalingkannya dari sikap mawas diri.

Keputus-asaan merupakan salah satu factor yang berbahaya diantara faktor-faktor penyebab keruntuhan dan kehancuran dalam kehidupan individu dan jama’ah.

Jika pemimpin menjadi kendor dan putus asa, barisannya pun akan mengalami kekendoran dan keputus-saan. Jika pemimpin tangguh dihadapan berbagai tantangan, maka jiwa optimis dan maju akan meresap ke dalam setiap individu dan pasukan.

Di antara contoh kelemahan pemimpin adalah peristiwa dimana seorang penanggung jawab dari salah satu jamaah Islam merasa kecil hati terhadap para pasukan (anggotanya) jika mereka dirasa sudah melampauinya di bidang ilmu pengetahuan, kualifikasi organisasi, pendidikan, atau lain sebagainya. Hal demikian berakhir dengan melepaskan mereka, dan amal keislaman mereka dicukupkan dengan mendidik para pemula saja tiada lain.

BAB IV.   KESIMPULAN

Dari pembahasan dalam karya ilmiah ini, kesimpulan penulis adalah sebagai berikut :

1)      Kepemimpinan diartikan sebagai Orang yang memiliki kemampuan mempengaruhi (karena wibawa, pengetahuan atau dapat melakukan komunikasi), Dan mengkoordinasikan untuk mengarahkan orang-orang yang dipimpinnya Untuk mencapai tujuan.

2)      Ciri-ciri Pemimpin Islam : Setia, Tujuan Islam secara Menyeluruh, Berpegang pada Syariat dan Akhlak Islam, Pengemban Amanat.

3)      Yang Harus Dimiliki seorang Pemimpin : Motivation dan Power of 4 kinds (Leader Power, Goal Power [vision], Follower Power, and Communicatioin Power)

4)      Prinsip-prinsip dasar operasional kepemimpinan Islam : Musyawarah, Adil, Kebebasan Berpikir.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Kartono, Dr Kartini. Pemimpin dan kepemimpinan. PT Raja Grafindo Persada. 1994. Jakarta.
  • Winardi, Dr, SE. Kepemimpinan dan Manajemen. PT. Rineka Cipta. 1990. Jakarta.
  • Mar’at, Pemimpin dan kepemimpinan. Ghalia. 1985. Jakarta.
  • Allah SWT, Al-Qur’an dan Terjemahnya. CV. Diponegoro. 2003. Bandung.
  • Abi Abdullah Muhammad bin Ismail (Al Bukhari). Shahih Bukhari. Darul Fikri,tt. Istanbul.
  • Sardar, Zainuddin. Masa Depan Islam. Pustaka. 1987. Bandung.
  • Matta, Anis. Dari Gerakan ke Negara. Fitrah Rabbani. 2006. Jakarta.

Kata Mutiara

” Pahlawan sejati adalah orang yang dapat memanfaatkan setiap momentum kepahlawanan “(Anis Matta)

” Barang siapa yang tidak menyibukan diri dalam kebaikan niscaya ia akan disibukan dalam keburukan “

” Kegagalan adalah jalan menuju kebesaran “

” Kreatifitas, kegigihan dan keuletan dalam melakukan percepatan diri adalah kunci sukses karya besar orang-orang biasa dalam meluarbiasakan dirinya ” (Solikhin Abu Izzudin, ZERO to HERO)

” Para pemenang berfikir tentang apa yang dapat mereka lakukan, orang yang gagal berfikir terus tentang apa yang tidak dapat mereka dan seharusnya mereka lakukan ” (Trutsco, p.81)

” Barang siapa memelihara ketaatan kepada Allah dimasa muda dan masa kuatnya, maka Allah akan memelihara kekuatannya disaat tua dan saat kekuatannya melemah. Ia akan tetap diberikan kekuatan pendengaran, penglihatan, kemampuan berfikir dan kekuatan akal ” (Ibnu Rajab)

” Rahasia kesuksesan adalah kesiapan menghadapi kesempatan anda, bila ia datang “

” Barang siapa mengenal dirinya maka sungguh dia akan mengenal Tuhannya ” (Ali bin Abi Thalib r.a.)

” Haqaa-iqul yaumi ahlaamul amsi, wa ahlaamul yaumi haqaa-iqul ghadi. Kenyataan hari ini adalam mimpi hari kemarin, dan mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari ” (Hasan Al Banna)

” Manusia dinilai berdasarkan perbuatan mereka. Kebesaran jiwa mereka yang menentukan karya besar mereka memang besar. Di mata orang-orang kerdil, masalah-masalah sepele menjadi besar, bagi yang berjiwa besar masalah-masalah besar terlihat kecil ” (Al Mutanabbi, Gatra. 4 Maret 1995)

” Orang yang melewati satu hari dalam hidupnya tanpa ada satu hak yang ia tunaikan atau suatu fardhu yang ia lakukan atau kemuliaan yang ia wariskan atau kebaikan yang ia tanamkan atau ilmu yang ia dapatkan, maka ia telah durhaka pada harinya dan menganiaya terhadap dirinya ” (Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Al Waktu fi Hayatil Muslim, hal. 13)

” Berapa banyak amal yang remeh menjadi besar gara-gara niat, dan berapa banyak amal yang besar menjadi remeh gara-gara niat.” (Abdullah bin Mubarak)

” Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki sesuatu, tetapi kita akan terlambat jika kita merasa terlambat untuk memperbaiki sesuatu itu.” (Galih Rakasiwi)

” Tahun ibarat pohon, bulan-bulan laksana cabangnya, hari-hari sebagai rantingnya, jam-jam sebagai daunnya dan nafas kita sebagau buahnya. Barang siapa yang nafasnya selalu dalam ketaatan, maka orang itu telah menanam pohon yang baik.” (Ibnul Qayyim, Al Fawaid, hal. 164)

” Visi membuat kita bergairah dengan pemahaman akan sumbangan khas yang dapat kita buat.” (Stephen Re Covey)

” Hari-hari adalah lembaran baru untuk goresan amal perbuatan, jadikanlah hari-harimu sarat dengan amalan yang terbaik, kesempatan itu akan segera lenyap secepat perjalanan awan, dan menunda-nunda pekerjaan adalah tanda orang yang merugi, dan barang siapa bersampan kemalasan, ia akan tenggelam bersamanya.” (Ibnul Jauzy, Al Muhdisy, hlm. 382)

” Siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin maka ia abukan merupakan bagian dari mereka ” (Anis Matta)

” Mimpi sebenarnya adalah ruang yang selalu mendahului kenyataan dan tidak ada satu kenyataan yang terbentuk dalam diri seseorang diluar mimpi-mimpinya ” (Anis Matta)

” Misi yang ideal adalah misi yang terkait bagaimana kelak kita akan bertemu dengan Allah swt. Itulah tujuan hidup yang sesungguhnya ” (Anis Matta)

” Kemauan adalah tenaga jiwa. Karena merupakan tenaga jiwa, kemauan tidak dapat berdiri sendiri. Tenaga jiwa akan kuat apabila selalu dipupuk dengan baik seperti halnya tenaga fisik kita. Tenaga fisik kita akan kuat jika dipelihara dan dibangun dengan baik ” (Anis Matta)

” Cinta adalah dorongan yang paling kuat “

” Akar yang paling dalam dari kepribadian seseorang ada pada pikirannya. pikiran itu seperti tanah. Bibit yang anda tanam didalamnya adalah motivasi dan yang tumbuh dari bibit tersebut adalah perilaku. Anda tidak dapat menanam sembarang bibit pada sembarang tanah. Anda harus mengapeling terlebih dahulu tanahnya dan mengetahui tanaman apa yang cocok untuk pikiran seperti itu ” (Anis Matta)

” Orang yang cerdas adalah mereka yang inovatif yang mampu mengelola informasi. Kemampuan inovasi atau mencipta adalah perpaduan antara kemampuan otak, akal dan imajinasi ” (Anis Matta)

” Jika Anda merasa pintar, ketahuilah bahwa Anda akan berhenti pada jalan pengetahuan Anda ” (Anis Matta)

” Ilmu itu seperti bangunan, jika pondasi yang anda bangun hanya cocok untuk membangun bangunan dua lantai, Anda tidak dapat membangun menjadi tiga lantai ” (Anis Matta)

” Jalan keluar tidak selalu berarti mukjizat, tetapi kemampuan menciptakan alternatif ” (Anis Matta)

” Yang membuat kita gagal dalam hidup bukanlah karena faktor otak, tetapi faktor emosi dan akal. Faktor emosi dan akal inilah yang membuat otak dapat bekerja dengan baik ” (Anis Matta)

” Tetaplah berpegang pada iman, tanpa meminta garansi keberhasilan. Inilah tanda kebesaran jiwa seseorang” (Brian Tracy)

” Kegagalan hanyalah kesempatan lain untuk memulai lagi dengan lebih pandai ” (Henry Ford)

” Bukanlah kegagalan itu sendiri menahan Anda, tapi ketakutan akan kegagalanlah yang melumpuhkan Anda ” (Brian Tracy)

” Ada pasang surut dalam keadaan manusia dimana justru terjadi banjir keberuntungan datang ” (William Shakespeare)

“ Orang yang percaya diri mencari alasan untuk berbuat, orang yang tidak percaya diri mencari alas an untuk tidak berbuat ”

“ Tidak ada istilah terlambat bagi orang yang sudah terlambat”

“ Jangan menjadi manusia biasa-biasa saja, tapi jadilah manusia luar biasa”

“ Siapa yang kehilangan semangat berarti kehilangan masa depan”

“ Hindarilah alasanm karena sebagian besar alasan adalah fiktif belaka”

“ Hidup ini adalah pilihan-pilihan, memilih dan gagal lebih baik dari sekedar memilih-milih tanpa melangkah”

“ Kejenuhan muncul ketika kita tidak kreatif”

“Balas dendam itu buruk, kecuali “balas dendam” mengejar ketertinggalan anda”

“ Sukses bukanlah hasil sukses adalah proses menuju keberhasilan”

“ Jangan percaya pada keberuntungan anda, tapi percayalah pada usaha anda”

“ Kunci sukses itu sebenarnya ada 2; percaya diri dan kreatif”

“ Jangan tunggu termotifasi baru berbuat, berbuatlah! Niscaya anda termotifasi”

“ Hidup adalah petualangan yang bertanggungjawab”

“ Agar semangat, mulailah hari anda dengan doa dan keceriaan”

“ Anda tidak akan bahagia jika anda belum mengembangkan potensi yang anda miliki”

“ Orang yang paling gila sesungguhnya adalah orang yang paling meremehkan Tuhannya”

“ Nyaman dalam zona perasaan adalah tipuan, nyaman yang sejati ada pada zona keyakinan”

“ Jika anda ingin melihat Tuhan, kekanglah hawa nafsu anda”

“ Jika hidup anda hanya untuk makan dan bersenang-senang, jangan tersinggung jika ada yang mengatakan anda binatang”

“ Tak ada yang dapat membuat anda kecewa, kecuali diri anda sendiri”

“ Tantangan dan hidup bagaikan 2 sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.”

“ Tak ada kesuksesan jika tak dapat masuk surga”

“ Jangan terjebak dengan rutinitas, “terjebaklah” pada kreatifitas.”

“ Orang sukses berkata,”Saya lebih baik dari yang saya kira.”Orang yang gagal berkata,”Saya lebih buruk dari yang saya kira.”

“ Warisan berharga untuk anak cucu kita bukanlah harta, tapi nilai-nilai luhur”

“Tidak ada namanya sukses jika anda masuk neraka”

“ Nikmatilah dengan bekerja, bukan bekerjalah dengan nikmat”

“ Jika anda bersaing dengan orang lain, anda akan lelah. Jika anda bersaing dengan diri anda sendiri, anda akan bergairah.”

“ Hilangkan rasa takut dengan cara menghadapinya”

“ Hiduplah dengan cinta, matilah dengan meninggalkan warisan bermakna.”

“ Jika anda ingin mengetahui apakah seseorang itu sukses atau tidak, lihatlah pada akhir hidupnya”

“ Sukses akan dating jika sebelumnya anda yakin akan sukses”

“ Anda tidak dapat menikmati hidup jika anda bertumpu pada hasil, bukan proses.”

“ Tiga hal yang tidak perlu anda ucapkan, walau di dalam hati; saya tidak bisa, saya tidak mau, saya tidak layak.”

“ Andalah yang membatasi kehebatan anda sendiri.”

“ Jika anda ingin hidup seribu tahun, tinggalkan dunia ini dengan warisan yang bermakna.”

“ Sukses bagai pedang bermata dua, dia dapat membuat anda mati mulia atau mati nista.”

“ Jangan menganggap sukses, orang yang hidupnya bertumpu pada penampilan dan gengsi.”

“ Nilai anda sesungguhnya diukur dari kedekatan anda pada Tuhan.”

“ Jika anda ingin sukses, jadilah seperti elang, berani sendirian dan terbang lebih tinggi dari burung lain.”

“ Nurani tak bisa dibohongi, yang bisa dibohongi adalah nafsu.”

“ Lebih baik terlambat memulai dari pada menyesal karena tak pernah memulai.”

“ 90% “saham” kesuksesan dimiliki oleh ketekunan.”

“ Sukses berawal dari keyakinan, dan keraguan awal dari kegagalan.”

“ Bagianmu yang sesungguhnya dari dunia ini adalah yang membuatmu bermanfaat bagi orang lain.”

“ Orang sukses mati untuk hidup, orang gagal hidup untuk mati.”

“ Hak untuk memimpin diberikan pada mereka yang hidupnya sederhana.”

“ Anda adalah “pelayan” bagi orang lain.”

“ Keberadaan anda di dunia ini sesungguhnya untuk melayani bukan untuk dilayani.”

“ Kebahagiaan bukan dating ketika anda menerima, tapi ketika anda memberi.”

“ Anda celaka, jika masih menyimpan sifat egoisme anda.”

“ Resep kebahagiaan sebenarnya adalah banyak memberi, semakin banyak memberi makin bahagia anda.”

“ Kesuksesan anda tergantung dari sejauh mana anda mendisiplinkan diri sendiri.”

“ Ketekunan adalah berfikir besar, melangkah kecil. Bukan berfikir kecil, melangkah besar.”

“ Tekun itu menikmati proses menuju tujuan.”

“ Produktivitas mesin terbatas, produktivitas manusia tak terbatas.”

“ Air yang mengalir lebih baik dari pada air yang diam.”

“ Jika anda yakin sedang memperjuangkan kebenaran, maka anda akan merasa nyaman walau ada dalam kesulitan.”

“ Musuh terbesar anda adalah egoisme dalam diri anda.”

“ Anda tertipu jika anda berjuang untuk membebaskan keinginan anda, bukan untuk membebaskan nurani anda.”

“ Jika ingin betil-betul bebas, takutlah hanya kepada Allah.”

“ Semua kemenangan berasal dari berani memulai.”

“ Kebebasan tanpa sikap bijak akan membuat anda meluncur kejurang kenistaan.”

 

Kata Mutiara Kahlil Gibran

Posted: 22/01/2011 in Tak Berkategori
Tag:, , , ,

Mutiara Kata Khalil Gibran

 

PERPISAHAN

Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan – seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.

 

KATA TERINDAH

Kata yang paling indah di bibir umat manusia adalah kata ‘Ibu’, dan panggilan paling indah adalah ‘Ibuku’. Ini adalah kata penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati.

 

SAHABAT SEJATI

Tidak ada sahabat sejati yang ada hanya kepentingan.

 

PERSAHABATAN

Persahabatan itu adalah tanggungjawaban yang manis, bukannya peluang.

 

SULUH HIDUP

Tuhan telah memasang suluh dalam hati kita yang menyinarkan pengetahuan dan keindahan;berdosalah mereka yang mematikan suluh itu dan menguburkannya ke dalam abu.

 

PENYAIR

Penyair adalah orang yang tidak bahagia, kerana betapa pun tinggi jiwa mereka, mereka tetap diselubungi airmata.

 

Penyair adalah adunan kegembiraan dan kepedihan dan ketakjuban, dengan sedikit kamus.

 

Penyair adalah raja yang tak bertakhta, yang duduk di dalam abu istananya dan cuba membangun khayalan daripada abu itu.

 

Penyair adalah burung yang membawa keajaiban. Dia lari dari kerajaan syurga lalu tiba di dunia ini untuk berkicau semerdu-merdunya dengan suara bergetar. Bila kita tidak memahaminya dengan cinta di hati, dia akan kembali mengepakkan sayapnya lalu terbang kembali ke negeri asalnya.

 

SUARA KEHIDUPANKU

Suara kehidupanku memang tak akan mampu menjangkau telinga kehidupanmu; tapi marilah kita cuba saling bicara barangkali kita dapat mengusir kesepian dan tidak merasa jemu.

 

KEINDAHAN KEHIDUPAN

Keindahan adalah kehidupan itu sendiri saat ia membuka tabir penutup wajahnya. Dan kalian  adalah kehidupannya itu, kalianlah cadar itu. Keindahan adalah keabadian yag termangu di depan cermin. Dan kalian; adalah keabadian itu, kalianlah cermin itu.

 

RUMAH

Rumahmu tak akan menjadi sebuah sangkar, melainkan tiang utama sebuah kapal layar.

 

 

PUISI

Puisi bukanlah pendapat yang dinyatakan. Ia adalah lagu yang muncul daripada luka yang berdarah atau mulut yang tersenyum.

 

NILAI

Nilai dari seseorang itu di tentukan dari keberaniannya memikul tanggungjawab, mencintai hidup dan pekerjaannya.

 

PENDERITAAN

Penderitaan yang menyakitkan adalah koyaknya kulit pembungkus kesedaran- seperti pecahnya kulit buah supaya intinya terbuka merekah bagi sinar matahari yang tercurah.

 

Kalian memiliki takdir kepastian untuk merasakan penderitaan dan kepedihan. Jika hati kalian masih tergetar oleh rasa takjub menyaksikan keajaiban yang terjadi dalam kehidupan, maka pedihnya penderitaan tidak kalah menakjubkan daripada kesenangan.

 

Banyak di antara yang kalian menderita adalah pilihan kalian sendiri – ubat pahit kehidupan agar manusia sembuh dari luka hati dan penyakit jiwa. Percayalah tabib kehidupan dan teguk habis ramuan pahit itu dengan cekal dan tanpa bicara.

 

SAHABAT

Sahabat adalah keperluan jiwa yang mesti dipenuhi.

Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau subur dengan penuh rasa terima kasih.

Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu. Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa memerlukan kedamaian.

 

SIKAP MANUSIA

Jauhkan aku dari manusia yang tidak mahu menyatakan kebenaran kecuali jika ia berniat menyakiti hati, dan dari manusia yang bersikap baik tapi berniat buruk, dan dari manusia yang mendapatkan penghargaan dengan jalan memperlihatkan kesalahan orang lain.

 

DUA HATI

Orang yang berjiwa besar memiliki dua hati; satu hati menangis dan yang satu lagi bersabar.

 

HUTANG KEHIDUPAN

Periksalah buku kenanganmu semalam, dan engkau akan tahu bahwa engkau masih berhutang kepada manusia dan kehidupan.

 

INSPIRASI

Inspirasi akan selalu bernyanyi; kerana inspirasi tidak pernah menjelaskan.

 

POHON

Pohon adalah syair yang ditulis bumi pada langit. Kita tebang pohon itu dan menjadikannya kertas, dan di atasnya kita tulis kehampaan kita.

 

 

 

 

FALSAFAH HIDUP

Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat -keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan . Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta

 

KERJA

Bekerja dengan rasa cinta, bererti menyatukan diri dengan diri kalian sendiri,dengan diri orang lain dan kepada Tuhan.

 

Tapi bagaimanakah bekerja dengan rasa cinta itu ? Bagaikan menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu yang akan memakainya kelak.

 

LAGU GEMBIRA

Alangkah mulianya hati yang sedih tetapi dapat menyanyikan lagu kegembiraan bersama hati-hati yang gembira.

 

KEBEBASAN

Ada orang mengatakan padaku, “Jika engkau melihat ada hamba tertidur, jangan dibangunkan, barangkali ia sedang bermimpi akan kebebasan.”

Kujawab,”Jika engkau melihat ada hamba tertidur, bangunkan dia dan ajaklah berbicara tentang kebebasan.”

 

ORANG TERPUJI

Sungguh terpuji orang yang malu bila menerima pujian, dan tetap diam bila tertimpa fitnah.

 

BERJALAN SEIRINGAN

Aku akan berjalan bersama mereka yang berjalan. Kerana aku tidak akan berdiri diam sebagai penonton yang menyaksikan perarakan berlalu.

 

DOA

Doa adalah lagu hati yang membimbing ke arah singgahsana Tuhan meskipun ditingkah oleh suara ribuan orang yang sedang meratap.

 

PENYIKSAAN

Penyiksaan tidak membuat manusia tak bersalah jadi menderita: penindasan pun tak dapat menghancurkan manusia yang berada di pihak Kebenaran: Socrates tersenyum ketika disuruh minum racun, dan Stephen tersenyum ketika dihujani dengan lemparan batu. Yang benar-benar menyakitkan hati ialah kesedaran kita yang menentang penyiksaan dan penindasan itu, dan terasa pedih bila kita mengkhianatinya.

 

KATA-KATA

Kata-kata tidak mengenal waktu. Kamu harus mengucapkannya atau menuliskannya dengan menyedari akan keabadiannya.

 

BICARA WANITA

Bila dua orang wanita berbicara, mereka tidak mengatakan apa-apa; tetapi jika seorang saja yang berbicara, dia akan membuka semua tabir kehidupannya.

 

 

KESEDARAN

Aku tidak mengetahui kebenaran mutlak. Tetapi aku menyedari kebodohanku itu, dan di situlah terletak kehormatan dan pahalaku.

 

ILMU DAN AGAMA

Ilmu dan agama itu selalu sepakat, tetapi ilmu dan iman selalu bertengkar.

 

NILAI BURUK

Alangkah buruknya nilai kasih sayang yang meletakkan batu di satu sisi bangunan dan menghancurkan dinding di sisi lainnya.

 

MENUAI CINTA

Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan, dan yang mampu membuka fikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan.

 

KEHIDUPAN

Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa lampau.

 

KERJA

Kerja adalah wujud nyata cinta. Bila kita tidak dapat bekerja dengan kecintaan, tapi hanya dengan kebencian, lebih baik tinggalkan pekerjaan itu. Lalu, duduklah di gerbang rumah ibadat dan terimalah derma dari mereka yang bekerja dengan penuh suka cita.

 

SELAMATKAN AKU

Selamatkan aku dari dia yang tidak mengatakan kebenaran kecuali kalau kebenaran itu menyakiti; dan dari orang yang berperilaku baik tetapi berniat buruk; dan dari dia yang memperoleh nilai dirinya dengan mencela orang lain.

 

CINTA

Salahlah bagi orang yang mengira bahwa cinta itu datang kerana pergaulan yang lama dan rayuan yang terus menerus.

 

Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan abad.

 

CINTA

Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dakaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu.

 

CINTA

Cinta tidak menyedari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan pun tiba. Dan saat tangan laki-laki menyentuh tangan seorang perempuan mereka berdua telah menyentuh hati keabadian.

 

CINTA

Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia kerana cinta itu membangkitkan semangat- hukum-hukum kemanusiaan dan gejala alami pun tak mampu mengubah perjalanannya.

 

CINTA

Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang

 

ATAS NAMA CINTA

Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.

 

CINTA YANG BERLALU

Cinta berlalu di depan kita, terbalut dalam kerendahan hati; tetapi kita lari daripadanya dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam kegelapan; atau yang lain mengejarnya, untuk berbuat jahat atas namanya.

 

CINTA LELAKI

Setiap lelaki mencintai dua orang perempuan, yang pertama adalah imaginasinya dan yang kedua adalah yang belum dilahirkan.

 

TAKDIR CINTA

Aku mencintaimu kekasihku, sebelum kita berdekatan, sejak pertama kulihat engkau.

Aku tahu ini adalah takdir. Kita akan selalu bersama dan tidak akan ada yang memisahkan kita.

 

CINTA PERTAMA

Setiap orang muda pasti teringat cinta pertamanya dan mencuba menangkap kembali hari-hari asing itu, yang kenangannya mengubah perasaan direlung hatinya dan membuatnya begitu bahagia di sebalik, kepahitan yang penuh misteri.

 

LAFAZ CINTA

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

 

LAFAZ CINTA

Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, kerana kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan.

 

KALIMAH CINTA

Apa yang telah kucintai laksana seorang anak yang tak henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, kerana cinta ialah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya

 

CINTA DAN AIRMATA

Cinta yang dibasuh oleh airmata akan tetap murni dan indah sentiasa.

 

 

 

 

 

WANITA

Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah suatu kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita fahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan.

BANGSA

Manusia terbahagi dalam bangsa, negara dan segala perbatasan. Tanah airku adalah alam semesta. Aku warganegara dunia kemanusiaan.

 

KESENANGAN

Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka bekasnya. Tawa dan airmata datang dari sumber yang sama.

Semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan;

 

WARISAN

Manusia yang memperoleh kekayaannya oleh kerana warisan, membangun istananya dengan yang orang-orang miskin yang lemah.

 

RESAH HATI

Jika manusia kehilangan sahabatnya, dia akan melihat sekitarnya dan akan melihat sahabat-sahabatnya datang dan menghiburkannya. Akan tetapi apabila hati manusia kehilangan kedamaiannya, dimanakah dia akan menemukannya, bagaimanakah dia akan bisa

memperolehinya kembali?

 

JIWA

Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan kerana alasan duniawi dan dipisahkan di hujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup… sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan.

 

LUAHAN

Setitiss airmata menyatukanku dengan mereka yang patah hati; seulas senyum menjadi sebuah tanda kebahagiaanku dalam kewujudan… Aku merasa lebih baik jika aku mati dalam hasrat dan kerinduan…dari aku hidup menjemukan dan putus asa.

 

LAGU KEINDAHAN

Jika kamu menyanyikan lagu tentang keindahan, walau sendirian di puncak gurun, kamu akan didengari.

 

DIRI

Dirimu terdiri dari dua; satu membayangkan ia mengetahui dirinya dan yang satu lagi membayangkan bahawa orang lain mengetahui ia.

 

TEMAN MENANGIS

Kamu mungkin akan melupakan orang yang tertawa denganmu, tetapi tidak mungkin melupakan orang yang pernah menangis denganmu.

 

 

 

 

PEMAHAMAN DIRI

Orang-orang berkata, jika ada yang dapat memahami dirinya sendiri, ia akan dapat memahami semua orang. Tapi aku berkata, jika ada yang mencintai orang lain, ia dapat mempelajari sesuatu tentang dirinya sendiri.

 

 

HATI LELAKI

Ramai wanita yang meminjam hati laki-laki; tapi sangat sedikit yang mampu memilikinya.

 

PENULIS

Kebanyakan penulis menampal fikiran-fikiran mereka yang tidak karuan dengan bahan tampalan daripada kamus.

 

HARTA BENDA

Harta benda yang tak punya batas, membunuh manusia perlahan dengan kepuasan yang berbisa. Kasih sayang membangunkannya dan pedih peri nestapa membuka jiwanya.

 

OBOR HATI

Tuhan telah menyalakan obor dalam hatimu yang memancarkan cahaya pengetahuan dan keindahan; sungguh berdosa jika kita memadamkannya dan mencampakkannya dalam abu.

 

KESEPIAN

Kesepianku lahir ketika orang-orang memuji kelemahan-kelemahanku yang ramah dan menyalahkan kebajikan-kebajikanku yang pendiam.

 

KEABADIAN PANTAI

Aku berjalan selalu di pantai ini. Antara pasir dan buih, Air pasang bakal menghapus jejakku. Dan angin kencang menyembur hilang buih putih. Namun lautan dan pantai akan tinggal abadi

 

MEMAHAMI TEMAN

Jika kamu tidak memahami teman kamu dalam semua keadaan, maka kamu tidak akan pernah memahaminya sampai bila-bila.

 

MANUSIA SAMA

Jika di dunia ini ada dua orang yang sama, maka dunia tidak akan cukup besar untuk menampung mereka.

 

MENCINTAI

Kekuatan untuk mencintai adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia, sebab kekuatan itu tidak akan pernah direnggut dari manusia penuh berkat yang mencinta.

 

CERMIN DIRI

Ketika aku berdiri bagaikan sebuah cermin jernih di hadapanmu,

kamu memandang ke dalam diriku dan melihat bayanganmu. Kemudian kamu berkata,

Aku cinta kamu.

Tetapi sebenarnya, kamu mencintai dirimu dalam diriku

 

 

 

KEBIJAKSANAAN

Kebijaksanaan tidak lagi merupakan kebijaksanaan apabila ia menjadi terlalu angkuh untuk menangis, terlalu serius untuk tertawa, dan terlalu egois untuk melihat yang lain kecuali dirinya sendiri.

 

KEBENARAN

Diperlukan dua orang untuk menemui kebenaran; satu untuk mengucapkannya dan satu lagi untuk memahaminya.

 

NYANYIAN PANTAI

Apakah nyanyian laut berakhir di pantai atau dalam hati-hati mereka yang mendengarnya?

 

(Mutiara Kata Khalil Gibran)

 

 

Mutiara Kata

 

Dalam hidup, seringkali kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Dan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, akhirnya kita tahu bahawa apa yang kita inginkan terkadang tidak dapat membuat hidup kita menjadi lebih bahagia.

 

Seandainya kita tidak mampu untuk mengutuskan secebis kesenangan kepada orang lain, berusahalah supaya kita tidak mengirimkan walau sezarah kesusahan kepada orang lain.

 

Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.

 

Kemaafan mungkin amat berat untuk diberikan kepada orang yang pernah melukai hati kita. Tetapi hanya dengan memberi kemaafan sahajalah kita akan dapat mengubati hati yang telah terluka.

 

Seseorang manusia harus cukup rendah hati untuk mengakui kesilapannya ,cukup bijak untuk mengambil manfaat daripada kegagalannya dan cukup berani untuk membetulkan kesilapannya

 

Jadikan dirimu bagai pohon yang rendang di mana insan dapat berteduh. Jangan seperti pohon kering tempat sang pungguk melepas rindu dan hanya layak dibuat kayu api.

 

Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi.  Jadilah seperti yang kamu inginkan, kerna kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.

 

Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu sampai kamu melupakan kegagalan kamu dan rasa sakit hati.

 

Doa memberikan kekuatan pada orang yang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian pada orang yang ketakutan

 

Janganlah berputus asa. Tetapi kalau anda sampai berada dalam keadaan putus asa, berjuanglah terus meskipun dalam keadaan putus asa.

 

Dunia ini umpama lautan yg luas. Kita adalah kapal yg belayar dilautan telah ramai kapal karam didalamnya..andai muatan kita adalah iman,dan layarnya takwa,nescaya kita akan selamat dari tersesat di lautan hidup ini.

 

Dalam masyarakat manusia ada binatang jalang tetapi dalam masyarakat binatang tidak ada satu pun manusia jalang -Aristotle

 

Sahabat sejati adalah mereka yang sanggup berada disisimu ketika kamu memerlukan sokongan walaupun saat itu mereka sepatutnya berada di tempat lain yang lebih menyeronokkan.

 

Hati yang terluka umpama besi bengkok walau diketuk sukar kembali kepada bentuk asalnya.

 

Setitik dakwat mampu membuat sejuta manusia berfikir tentangnya.

 

Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum.

Jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.

 

Tanda-tanda orang yang budiman ialah dia akan berasa gembira jika dapat berbuat kebaikan kepada orang lain, dan dia akan berasa malu jika menerima kebaikan daripada orang lain.

 

Semulia-mulia manusia ialah orang yang mempunyai adab yang merendah diri ketika berkedudukan tinggi, memaaf ketika berdaya membalas dan bersikap adil ketika kuat -Khalifah Abdul Malik Marwan

 

Supaya engkau beroleh sahabat, hendaklah diri engkau sendiri sanggup menyempurnakan menjadi sahabat orang -Hamka

 

Sebaik-baik manusia ialah yang diharapkan kebaikannya dan terlindung dari kejahatannya.

 

Hiduplah seperti lilin menerangi orang lain, janganlah hidup seperti duri mencucuk diri dan menyakiti orang lain

 

Fikirkan tentang dirimu. Jika satu bangsa telah mula berfikir, tidak ada satu kekuatan pun yang boleh menghentikannya -Voltaire

 

Semoga kamu mendapat cukup kebahagiaan untuk membuat kamu bahagia, cukup cubaan untuk membuat kamu kuat, cukup penderitaan untuk membuat kamu menjadi manusia yang sesungguhnya, dan cukup harapan untuk membuat kamu positif terhadap kehidupan.

 

Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, kerana kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

 

Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita dapat mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Untuk berupaya mengumpulkan pujian dan kritikan dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.

 

Kita lahir dengan otak di dalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin mana pun kita, kita tetap kaya. Kerana tidak akan ada seorang pun yang dapat mencuri otak kita, fikiran kita dan idea kita. Dan apa yang anda fikirkan dalam otak anda jauh lebih berharga daripada emas dan perhiasan.

 

Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Kerana mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa menggoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.

 

Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh di dalam diri kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.

 

Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemui cinta yang jauh lebih indah.

 

Yang memimpin wanita bukan akalnya, melainkan hatinya.

 

Pengecut mati banyak kali sebelum kematiannya. Yang berani mati hanya sekali.

 

Amat mudah untuk memadamkan api yang sedang marak, tetapi sukar untuk meredakan api kemarahan dalam diri.

 

Kata-kata itu sebenarnya tidak mempunyai makna untuk menjelaskan perasaan. Manusia boleh membentuk seribu kata-kata, seribu bahasa.Tapi kata-kata bukan bukti unggulnya perasaan

 

Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun ,  dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya.

 

Lombong emas dalam diri kamu adalah fikiran kamu. Kamu dapat menggalinya sedalam-dalamnya dan sepuas-puas yang kamu inginkan -Abdullah Mansur M.H

 

Mahkota kemanusiaan ialah rendah hati.

 

Setiap jiwa yang dilahirkan telah tertanam dengan benih untuk mencapai keunggulan hidup. Tetapi benih itu tidak akan tumbuh seandainya tidak dibajai dengan keberanian

 

Sahabat yang tidak jujur ibarat dapur yang berhampiran. Jikalau pun kamu tidak terkena jelaganya sudah pasti akan terkena asapnya.

 

Kalau kita dapat membuka dan menutup telinga dengan mudah sebagaimana membuka dan menutup mata,  pasti kita akan terhindar dari mendengarkan banyak kebatilan.

 

Jika keadilan ditegakkan, keberanian tidak diperlukan lagi.

 

Tiada siapa yang paling pandai dan paling bodoh di dunia ini kerana setiap yang pandai itu boleh menjadi bodoh dan setiap yang bodoh itu boleh menjadi pandai

 

Akal itu menteri yang menasihati, Hati itu ialah raja yang menentukan, Harta itu satu tamu yang akan berangkat, kesenangan itu satu masa yang ditinggalkan

 

Barangsiapa memusuhi orang yang di bawahnya, hilang kewibawaannya.

 

Hidup biarlah berbakti, walaupun tidak dipuji

 

Seorang boleh menipu seseorang sekali-sekala tetapi orang yang sama tidak boleh menipu semua orang pada masa yang sama

 

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam di atas batu yang hitam di malam yang amat kelam.  Ianya wujud tapi amat sukar dilihat.

 

Kamu dapat mengenal lebih banyak tentang diri seseorang itu dari adab dan pertanyaannya, bukan dari jawapan-jawapannya -Voltaire

 

Setiap orang dapat mencapai kejayaan dalam hal apa saja, asalkan ia sangat menyukai pekerjaan yang dilakukan.

 

Hari ini bila ia datang, jangan biarkan ia berlalu pergi. Esok kalau ia masih bertandang, jangan harap ia akan datang kembali

 

Lebih baik tidur dengan perut yang lapar daripada bangun tidur dengan banyak hutang -Anonim

 

Orang cerdik yang mengenal dunia, terungkap baginya musuh yang berbaju kawan.

 

Pengumpul harta belum tentu memanfaatkannya, dan yang memanfaatkan harta belum tentu yang mengumpulkannya.

 

Sesuatu yang baik, belum tentu benar. Sesuatu yang benar, belum tentu baik. Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga. Sesuatu yang berharga/berguna, belum tentu bagus.

 

Jangan abaikan permintaan orang, kalau tidak mahu permintaan kamu diabaikan orang.

 

Agama menjadi sendi hidup, pengaruh menjadi penjaganya. Kalau tidak bersendi, runtuhlah hidup dan kalau tidak berpenjaga, binasalah hayat. Orang yang terhormat itu kehormatannya sendiri melarangnya berbuat jahat. -Pepatah Arab

 

Barangsiapa membawa berita tentang orang lain kepadamu, maka dia akan membawa berita tentang dirimu kepada orang lain.

 

Nikmat itu kadang-kadang tidak disedari, hanya apabila ia telah hilang barulah manusia benar-benar terasa

 

Emas diuji dengan api, wanita diuji dengan emas dan lelaki diuji dengan wanita.

 

Orang yang berbohong itu sentiasa ingin melarikan diri sedangkan tiada seorang pun yang mengejarnya namun orang yang benar itu berani seperti singa -Goethe

 

Mengetahui sesuatu dan memahami segala sesuatu adalah lebih baik daripada mengetahui segala sesuatu, tetapi tidak memahami sesuatu.

 

Kawan sejati ialah orang yang mencintaimu meskipun telah mengenalmu dengan sebenar-benarnya iaitu baik dan burukmu.

 

Sabar adalah jalan keluar bagi orang yang tidak bisa menemukan jalan keluar.

 

Kepala yang tidak mempunyai fikiran sama halnya dengan sesebuah benteng yang tidak dibela -Napoleon Bonaparte

 

Jika dunia ini persinggahan, mengapa tidak kita banyakkan bekalan untuk meneruskan perjalanan? Kerana kita cuma ada satu persinggahan.

 

Apabila bicara itu perak, diam adalah emas.

 

Jagalah dirimu baik-baik, usahakanlah kemuliaannya, kerana engkau dipandang manusia bukan kerana rupa tetapi kesempurnaan budi dan adab -Nabi SAW

 

Setiap yang kita lakukan biarlah jujur kerana kejujuran itu telalu penting dalam sebuah kehidupan. Tanpa kejujuran hidup sentiasa menjadi mainan orang.

 

Menghairankan sekali, orang yang mencuci wajahnya berkali-kali dalam sehari, tetapi tidak mencuci hatinya walaupun sekali setahun.

 

Barangsiapa menyebarluaskan berita-berita kekejian yang didengarnya, maka dia seperti pelakunya.

 

Keikhlasan mempunyai kilauan dan sinar, meskipun ribuan mata tidak melihatnya.

 

Jangan tertarik kepada seseorang kerna parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya kerna kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, kerna hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah.

 

Jangan memberi makanan kepada orang lain yang anda sendiri tidak suka memakannya.

 

Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya,  tetapi sungguh benar pula bahawa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.

 

Musibah dalam harta lebih ringan daripada musibah dalam kehormatan.

 

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika bertemu seseorang yang sangat bererti  dan mendapati pada akhirnya bahawa tidak demikian adanya dan harus melepaskannya pergi.

 

Beritahukan kepadaku apa bacaan-bacaanmu, nescaya aku akan beritahu siapa diri kamu ini.

 

Masa depan yang cerah selalu tergantung pada masa lalu yang dilupakan. Kita tidak dapat meneruskan hidup  dengan baik jika tidak dapat melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.

 

Hidup tanpa pegangan ibarat buih-buih sabun. Bila-bila masa ia akan pecah.

 

Keutamaan akal ialah hikmah kebijaksanaan, dan keutamaan hati ialah keberanian.

 

Barangsiapa yang hari ini sama dengan kelmarin, maka tertipulah dia, dan barangsiapa hari ini lebih jahat dari kelmarin, maka terkutuklah dia.

 

Kesempatan yang kecil seringkali merupakan permulaan daripada usaha yang besar.

 

Agama tidak pernah mengecewakan manusia. Tetapi manusia yang selalu mengecewakan agama.

 

Tidak lurus keimanan seseorang kecuali jika hatinya lurus, dan tidak lurus hati seseorang kecuali jika lurus lidahnya

 

Sesiapa yang tidak berfikir panjang, kesusahan telah bersedia di mukanya -Khong Hu Cu

 

Orang bijaksana tidak sesekali duduk meratapi kegagalannya, tapi dengan lapang hati mencari jalan bagaimana memulihkan kembali kerugian yang dideritainya.

 

Yang telah berlalu biarkan ia berlalu, yang mendatang hadapi dengan cemerlang.

 

Jangan menyalakan api untuk membakar musuh anda sedemikian panas, sehingga anda sendiri hangus kerananya.

 

Bukti akal fikiran seseorang ialah perbuatannya, dan bukti ilmunya ialah ucapannya.

 

Berdiam diri adalah unsur terbesar untuk membentuk perkara-perkara besar.

 

Pandanglah segala sesuatu dari kacamata oranglain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hari orang lain pula.

 

 

Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan. Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahsia dari masa muda yang abadi. Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan. Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan. Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan. Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan. Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati. Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa bererti. Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan. Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.

 

Orang yang hebat bertindak sebelum berkata dan dia berkata selaras dengan tindakannya.

 

Tidak penting bagimu mengetahui harganya, tetapi penting mengetahui nilainya.

 

Kehidupan ini dipenuhi dengan seribu macam kemanisan tetapi untuk mencapainya perlu seribu macam pengorbanan

 

Sekali anda terjatuh, jangan jatuh untuk berkali-kali

 

Menikmati kehidupan itu adalah lebih baik dari hanya sekadar memerhati kehidupan

 

Tidak ada insan suci yang tidak mempunyai masa lampau dan tidak ada insan yang berdosa yang tidak mempunyai masa depan.

 

Orang yang paling mampu menguasai dirinya ialah yang paling mampu menguasai rahsianya.

 

Tiap-tiap sesuatu, apabila banyak menjadi murah melainkan akal, bertambah banyak lagi berharga

 

Orang yang mengikuti emosinya, akan kehilangan adabnya.

 

Sekalipun tidak pernah menjadi kaya-raya, kita masih beruntung tidak juga papa kedana

 

Manusia tidak merancang untuk gagal, mereka gagal untuk merancang. ~ William J. Siegel

 

Setiap bunga mawar pasti ada durinya.

 

Dari kesusahan itu akan diperolehi kesenangan dan kebahagiaan, seperti durian berduri kerana sedap isinya, kulit manggis pahit sebab manis di dalamnya dan bunga ros berduri kerana harum baunya

 

Jangan sesekali menyalahkan kesilapan diri sendiri kepada orang lain kerana orang yang tidak mengakui kelemahan diri sukar untuk berjaya.

 

Mungkin diam itu suatu jawapan yang baik atau mungkin pula teguran dan nasihat yang baik.

 

Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.

 

Barangsiapa menanam, dia yang akan menuai.

 

Jangan menghina barang yang kecil kerana jarum yang kecil itu kadang-kadang menumpahkan darah.

 

Fikirkan permusuhan kita akan dimusuhi, fikirkan kebencian, kita akan dibenci. Tetapi sekiranya kita fikirkan kasih maka kita akan dikasihi. Ini adalah undang-undang alam. Kita menjadi seperti apa yang kita fikirkan

 

Seekor burung di tangan lebih baik daripada sepuluh ekor di atas pohon.

 

Hidup ini adalah warna-warni yang terlakar pada kanvas, walaupun tidak cantik ia tetap mempunyai sejuta makna

 

Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian, janganlah menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.

 

Jika anda mahu membuat sesuatu, anda akan cari jalan. Jika anda tidak mahu membuat sesuatu, anda akan cari alasan. – Peribahasa Arab

 

Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah perangai yang serendah-rendahnya. Membalas kejahatan dengan kejahatan,bukanlah perikemanusiaan. Membalas kebaikan dengan kebaikan adalah hal biasa. Membalas kejahatan dengan kebaikan adalah cita-cita kemanusiaan yang setingginya. Kita harus sanggup hidup untuk memberi cita-cita itu bertumbuh.

 

Berkhianat dalam ilmu lebih jahat daripada berkhianat dalam harta.

 

Sebuah pedang diketahui keampuhannya sesudah memotong.

 

Kejayaan tidak datang kepada manusia yang leka. – Charles Cahier

 

Seseorang yang bijak melahirkan kata-kata selalunya disanjung sehingga ia mula bercakap kosong

 

Permulaan sabar adalah pahit, tetapi manis akhirnya.

 

Memang amat tinggi letaknya kebahagiaan. Namun kita harus menuju ke sana. Ada orang yang berputus asa berjalan ke arahnya lantaran disangkanya jalan ke sana amat sukar. Padahal mudah, kerana ia dimulai daripada dirinya sendiri -Said Mustafa

 

Setiap kali tersadung, ingatlah kita tidak mahu terjatuh lagi

 

Jadikan sebagai aturan hidup untuk melakukan yang terbaik dalam apa jua yang dilakukan, pasti akan menghasil kecemerlangan.

 

Sebelum memberi nasihat kepada manusia dengan ucapanmu, berilah mereka nasihat dengan perbuatanmu.

 

Andai hidup punca perpisahan, biarlah mati menyambungnya semula. Namun seandainya mati punca perpisahan, biarlah hidup ini membawa erti yang nyata.

 

Orang mulia menyalahkan dirinya, orang bodoh menyalahkan orang lain

 

Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat mewujudkan perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkati.

 

Menyimpang seinci, rugi seribu batu. – Peribahasa Cina

 

Kebanyakan orang membuang banyak masa dan tenaga untuk memikirkan masalah dan bukan cuba untuk menyelesaikannya

 

Harta yang paling menguntungkan ialah SABAR. Teman yang paling akrab adalah AMAL. Pengawal peribadi yang paling waspada DIAM. Bahasa yang paling manis SENYUM. Dan ibadah yang paling indah tentunya KHUSYUK.

 

Tiada siapa yang paling pandai dan paling bodoh di dunia ini kerana setiap yang pandai itu boleh menjadi bodoh dan setiap yang bodoh itu boleh menjadi pandai

 

Apabila kepercayaan telah hilang lenyap, kehormatan telah musnah, maka matilah orang itu -Whittier

 

Selalu bayangkan diri anda di dalam kasut seseorang. Jika anda rasa ianya menyakitkan, fikirlah ia mungkin menyakitkan orang lain juga

 

Setiap jiwa yang dilahirkan telah tertanam dengan benih untuk mencapai keunggulan hidup. Tetapi benih itu tidak akan tumbuh seandainya tidak dibajai dengan keberanian

 

Kecemerlangan sebenar adalah apabila anda dihentam sehingga bertekuk lutut, tetapi mampu melantun kembali.

 

Wanita yang cantik tanpa peribadi yang mulia ,umpama kaca mata  yang bersinar-bersinar, tetapi tidak melihat apa-apa

 

Jangan sekali-kali kita meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya sekadar senyuman.

 

Anda bukan apa yang anda fikirkan tentang anda, tetapi apa yang anda fikirkan itulah anda

 

Hidup tak selalunya indah tapi yang indah itu tetap hidup dalam kenangan.

 

Biarpun jalan itu panjang, kita akan merintisnya perlahan-lahan.

 

Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa. Dalam kesempitan hidup ada kekuasaan ilmu.

 

Kurang semangat mengakibatkan lebih banyak kegagalan berbanding kurangnya kebijaksanaan atau kemahiran.

~ Flower A. Newhouse

 

Kebenaran itu pabila dijemur di bawah cahaya mentari, ia tidak akan lekang-lekang. Biarpun ditinggalkan dalam hujan lebat, ia tidak akan busuk.

 

Tawadhu ialah bila setiap kali seseorang berjumpa dengan seorang muslim, ia menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya.

 

Sebaik-baik orang yang diberi nasihat ialah penguasa.

 

Kekuatan itu tidak terbina di atas bilangan yang ramai, tetapi kekuatan itu terbina di atas keyakinan dan optimis seseorang dan keserasian berkumpulan.

 

Kegagalan dalam kemuliaan lebih baik daripada kejayaan dalam kehinaan.Memberi sedikit dengan ikhlas pula lebih mulia dari memberi dengan banyak tapi diiringi dengan riak.

 

Berfikir sejenak, merenung masa lalu adalah permulaan yang baik untuk bertindak

 

Kata-kata yang lembut dapat melembutkan hati yang lebih keras dari batu. Tetapi kata-kata yang kasar dapat mengasarkan hati yang lunak seperti sutera.

 

Seburuk-buruk buta adalah buta hati.

 

Lidah yang panjangnya tiga inci boleh membunuh manusia yang tingginya enam kaki.

 

Sebuah kebenaran kadangkala mengandungi kesilapan.

 

Kalau rumahmu dari kaca, janganlah melempari orang lain dengan batu.

 

Nilai hidup harus diukur dengan garis yang lebih mulia, iaitu kerja dan bukannya usia. ~Richard Brinsley Sheridan

 

Nafsu mengatakan perempuan itu cantik atas dasar rupanya. Akal mengatakan perempuan itu cantik atas dasar ilmu dan kepintarannya. Dan hati mengatakan perempuan itu cantik atas dasar akhlaknya.

 

Berita tidak selalu sama dengan kenyataan.

 

Seseorang yang melakukan kesalahan dan tidak membetulkannya telah melakukan satu kesalahan lagi. ~ Confucius

 

Memulai belajar sejak kecil seperti memahat di atas batu dan memulainya sesudah tua seperti menulis di air.

 

Hidup memerlukan pengorbananan. Pengorbanan memerlukan perjuangan. Perjuangan memerlukan ketabahan.  Ketabahan memerlukan keyakinan. Keyakinan pula menentukan kejayaan. Kejayaan pula akan menentukan kebahagiaan.

 

Kekayaan boleh mengaburkan jalan yang jujur

 

Harta akan habis digunakan tanpa ilmu tetapi sebaliknya  ilmu akan berkembang jika ianya digunakan.

 

Kekayaan bukanlah satu dosa dan kecantikan bukanlah satu kesalahan. Oleh itu jika anda memiliki kedua-duanya janganlah anda lupa pada Yang Maha Berkuasa.

 

Sampan tidak akan dapat  belayar di padang pasir betapa pun jua empuknya pasir itu ~Pepatah Arab

 

Perjalanan seribu batu bermula dari satu langkah.~ Lao Tze

 

Awal mula pohon ialah benih.

 

Kalaulah anda tidak mampu untuk menggembirakan orang lain, janganlah pula anda menambah dukanya.

 

Orang yang mengetahui harga dirinya tidak akan binasa.

 

Mengapa manusia gemar mencetuskan pertelingkahan sedangkan manusia itu sendiri dilahirkan dari sebuah kemesraan.

 

Kita sentiasa muda untuk melakukan dosa tetapi tidak pernah tua untuk bertaubat.

 

Gantungkan azam dan semangatmu setinggi bintang di langit dan rendahkan hatimu serendah mutiara di lautan.

 

Setiap mata yang tertutup belum bererti ia tidur. Setiap mata terbuka belum bererti ia melihat.

 

Saya percaya, esok sudah tidak boleh mengubah apa yang berlaku hari ini, tetapi hari ini masih boleh mengubah apa yang akan terjadi pada hari esok.

 

Menulis sepuluh jilid buku mengenai falsafah lebih mudah daripada melaksanakan sepotong pesanan.

 

Kegembiraan ibarat semburan pewangi, pabila kita memakainya semua akan dapat merasa keharumannya. Oleh itu berikanlah walau secebis kegembiraan yang anda miliki itu kepada teman anda.

 

Esok pasti ada tetapi esok belum pasti untuk kita. Beringat-ingatlah untuk menghadapi esok yang pastikan mendatang.

 

Reaksi emosi jangan dituruti kerana implikasinya tidak seperti yang diimaginasi.

 

Jangan dipaksa anak berbuat kebaikan, jikalau orang tuanya tidak pernah menyembah Tuhannya

 

Sahabat yang beriman ibarat mentari yang menyinar.

 

Lazatnya memberi maaf lebih baik daripada lazatnya membalas dendam.

 

Orang yang bahagia itu akan selalu menyediakan waktu untuk membaca  kerana membaca itu sumber hikmah  menyediakan waktu tertawa kerana tertawa  itu muziknya jiwa, menyediakan waktu untuk berfikir kerana berfikir itu  pokok kemajuan, menyediakan waktu untuk beramal kerana beramal itu  pangkal kejayaan, menyediakan waktu untuk bersenda kerana bersenda itu akan  membuat muda selalu dan menyediakan waktu beribadat kerana beribadat itu adalah ibu dari segala ketenangan jiwa.

 

Masa depan itu dibeli oleh masa sekarang.~ Samuel Johnson

 

Seseorang yang jujur diterima ucapannya oleh musuh.

 

Kadangkala menyembunyikan sesuatu perkara dari pengetahuan orang lain lebih baik dari jika diberitahu pun tidak dihiraukan.

 

Penglihatan itu sebagai panah iblis yang berbisa, maka  siapa yang mengelakkannya kerana takut padaKu, maka Aku akan  menggantikannya dengan iman yang dirasakan manisnya dalam hati…

 

Harta yang didatangkan oleh angin akan terbawa pergi oleh taufan.

 

Kekecewaan mengajar kita erti kehidupan.Teruskan perjuangan kita  walaupun  terpaksa menghadapi rintangan demi rintangan dalam hidup

 

Kebaikan seorang pemimpin adalah lebih baik daripada kebaikan zaman.

 

Kemarahan tidak boleh berumur panjang di dada seorang yang berhati baik, kebaikan tidak boleh berakar di hati seseorang yang berdasar buruk.

 

Kemaafan mungkin amat berat untuk diberikan kepada orang yang pernah melukai hati kita. Tetapi hanya dengan memberi kemaafan sahajalah kita akan dapat mengubati hati yang telah terluka. Kemaafan yang diberi secara ikhlas umpama pisau bedah yang boleh membuang segala parut luka emosi

 

Segala hal yang lahir akan mati, tetapi cahaya kehidupan yang dipancarkan akan selalu bersinar buat selamanya.

 

Hidup ini ibarat meniti seutas tali, kadang kala kita jatuh sakit dan terluka, dan itulah yang kita rasai saat ini.

 

Dua orang bersaudara ibarat dua buah tangan, yang satu membersihkan yang lainnya.

 

Manusia tak akan tahu semua perkara, justeru tahu banyak perkara lebih baik dari tidak suka mengambil tahu walaupun satu perkara

 

Orang yang meminta-minta kepada Tuhan tidak akan kecewa.

 

Jika kejahatan di balas kejahatan, maka itu adalah dendam. Jika kebaikan dibalas kebaikan itu adalah perkara biasa. Jika kebaikan dibalas kejahatan, itu adalah zalim. Tapi jika kejahatan dibalas kebaikan, itu adalah mulia dan terpuji. (La Roche)

 

Manusia yang tidak berharap untuk menang telah sedia kalah.

 

Hidup umpama aiskrim. Nikmatilah ia sebelum cair.

 

Kita mesti pastikan hari ini adalah milik kita kerana kita belum pasti adakah hari esok kita masih diberi peluang.

 

Hidup tidak boleh berpandukan perasaan hati yg kadangkala boleh menjahanamkan diri sendiri. Perkara utama harus kita fikirkan ialah menerimasesuatu atau membuat sesuatu dgn baik berlandaskan kenyataan.

 

Selalu bayangkan diri anda di dalam kasut seseorang. Jika anda rasa ianya menyakitkan, fikirlah ia mungkin menyakitkan orang lain juga

 

Nilai manusia adalah semahal nilai matlamatnya. ~ Marcus Aurelius

 

Kasihkan manusia lepaskan dia kepada pilihan dan keputusannya kerana di situ tanda kita gembira melihat insan yang kita sayangi beroleh bahagia

 

Orang yang berkhianat selalu terhina.

 

Kebahagiaan adalah haruman yang tidak boleh kamu semburkan kepada orang lain tanpa kamu sendiri mendapat beberapa titisan daripadanya ~ Emerson

 

Orang yang berani tidak akan membabi-buta melompat masuk ke dalam jurang, melainkan masuk dengan perlahan-lahan dan dengan mata yang terbuka setelah mengukur dalamnya -Stahl P.J

 

Hari yang mendatang tidak akan memberikan sebarang makna jika kegagalan semalam tidak dijadikan teladan.

 

Hidup adalah gabungan antara bahagia dan derita. Ia adalah menguji keteguhan iman seseorang. Malangnya bagi mereka yg hanya mengikut kehendak hati tidak sanggup menerima penderitaan. ( Harieta Wahab)

 

Kegagalan ialah satu-satunya yang dapat diraih tanpa pengerahan tenaga sedikit pun.

 

Sekiranya seorang manusia dipanggil sebagai seorang penyapu sampah, dia harus menyapu sama sepertimana

Michelangelo melukis atau Beethoven memainkan muziknya, ataupun Shakespeare menulis puisinya. Dia harus menyapu dengan begitu baik sekali sehingga semua yang terdapat di syurga dan dunia akan berhenti dan berkata disinilah tempat tinggal seorang penyapu sampah yang paling hebat, yang telah melakukan kerjanya dengan baik sekali.

 

Cara terbaik menghukum orang yang telah melakukan kesalahan terhadap kita ialah dengan berbuat baik kepadanya.

 

Orang yang cekal dan mempunyai keyakinan diri yang tinggi, tidak pernah merasa terancam dengan perkataan atau perbuatan yang remeh dan tidak disengajakan. Sebaliknya mereka akan menumpukan perhatian ke arah mencapai matlamatnya

 

Batu yang bergerak tidak bisa ditumbuhi tanaman.

 

Berbahagialah orang yang dapat menjadi tuan untuk dirinya, menjadi pemandu untuk nafsunya dan menjadi kapten untuk bahtera hidupnya ~ Saidina Ali

 

Jika kamu berhasrat untuk berjaya, jangan hanya memandang ke tangga tetapi belajarlah untuk menaiki tangga tersebut.

 

Ada dua cara seseorang itu tidak boleh berjaya iaitu orang yang hanya mengerjakan apa yang disuruh dan orang yang tidak mahu mengerjakan apa yang disuruh.

 

Tidak ada manusia yang hidup untuk gagal, tetapi tidak merancang adalah merancang untuk gagal.

 

Apabila kepercayaan telah hilang lenyap, kehormatan telah musnah, maka matilah orang itu.. ~Whittier

 

Keberanian yang sebenar ibarat layang-layang. Sentakan angin yang menentangnya bukan melemparkannya ke bawah, sebaliknya menaikkannya -John Petitsenn

 

Usah sangka kereta jenama paling mahal tidak memberikan masalah. Ada kalanya meragam juga. Usah sangka orang yang serba kekurangan itu tidak membahagiakan, ada kalanya dia lebih mengerti

 

Kesusahan dan kesulitan adalah laksana musim dingin, basah dan lembab, tidak disukai insan. tetapi sesudah musim sejuk itulah tumbuh bunga-bunga yang harum dan buah-buahan yang subur.

 

Seekor singa yang ganas lebih mudah ditentang daripada seorang pemerintah yang kejam, dan pemerintah yang kejam lebih mudah dihadapi daripada angkara fitnah yang berkekalan.

 

Tiada manusia yang berjaya dalam semua yang dilakukannya dan kewujudan kita ini sebenarnya mesti menempuh kegagalan. Yang penting ialah kita tidak menjadi lemah semasa kegagalan itu terjadi dan kekalkan usaha hingga ke akhir hayat. – Joseph Conrad

 

Usah sangka apa yang belum kita miliki janji pada kebahagiaan kita. Ada kalanya setelah kita miliki itulah punca masalah kita. Jangan sangka semua yang cerah kekal cerah sampai bila-bila, ada kalanya menjadi hitam dan menyusahkan

 

Selalu kita menyangka yang di tangan orang indah dan menawan; apa yang di tangan sendiri sentiasa kedam. Selalu kita meletakkan impian yang muluk-muluk pada kepunyaan orang sedangkan orang turut terliur dengan apa yang kita miliki

 

Reputasi anda ialah apa yang orang lain fikirkan tentang diri anda; sikap peribadi anda ialah tingkah laku anda.

 

Jangan mudah membuang, tambah-tambah lagi jika ia bukan barang tapi orang

 

Sifat peribadi yang kukuh adalah aset kita yang paling hebat kerana ia kuasa yang membolehkan kita berhadapan dengan kecemasan.

 

Apa yang anda fikirkan mengenai diri anda, akan mempengaruhi diri anda sendiri.

 

Sesetengah orang menggunakan jam yang murah. Jam seperti ini tidak boleh diharap.

 

Jangan serahkan sesuatu yang penting seperti sifat peribadi anda kepada nasib.

 

Antara nasib dan takdir adalah suatu yang lebih kurang sama. Mereka akan berubah hanya dengan doa kita dan dengan keizinanNya.

 

Kemahiran dan ilmu semakin diguna semakin banyak.

 

Setiap hari kita adalah manusia yang berbeza. Semalam kanak-kanak. Hari ini remaja. Dan esok, hari tua. Semuanya menjadikan kita dan masa sungguh bermakna…

 

Jaga-jagalah bergurau, kerana ia membawa kepada keburukan dan menimbulkan rasa dendam.

 

Hidup memerlukan pengorbanan. pengorbanan memerlukan perjuangan. perjuangan memerlukan ketabahan. ketabahan memerlukan keyakinan. keyakinan pula menentukan kejayaan. kejayaan pula akan menentukan kebahagiaan.

 

Jika anda menyayangi seseorang itu kerana Allah, maka janganlah bertengkar dan berbalah dengannya, janganlah menanyakan sesiapa tentangnya, kerana orang yang ditanya itu mungkin memberitahu anda perkara yang mengelirukan yang boleh menghalang perhubungan anda dengan orang itu.

 

Perbezaan antara orang yang berjaya dengan orang yang gagal terletak pada rohaninya. apa yang dapat difikirkan menentukan apa yang akan dicapai.

 

Bukti yang paling jelas tentang ketajaman akal fikiran seseorang ialah apabila ia dapat mempernyatakan apa yang ia mahu dengan secara ringkas.

 

Orang yang terakhir tertawanya, tentu lebih banyak tertawa.

 

Berfikir secara rasional tanpa dipengaruhi oleh naluri atau emosi merupakan satu cara menyelesaikan masalah yg paling berkesan

 

Apakah diharapkan hujan tanpa awan.

 

Sesiapa yang tidak pernah merasai kepahitan tidak akan mengenal kemanisan.

 

Dunia ini ibarat pentas. Kita adalah pelakonnya. Maka berlumba-lumbalah beramal supaya hidup bahagia di dunia dan akhirat.

 

Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak boleh mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg mensia-siakan sahabat yg telah dicari ( Saidina Ali)

 

Sahabat yang setia bagai pewangi yang mengharumkan. Sahabat sejati menjadi pendorong impian. Sahabat berhati mulia membawa kita ke jalan Allah.

 

Jadilah cahaya suram yang kekal abadi sinarannya dan elakkan daripada menjadi cahaya terang yang bersifat seketika cuma.

 

Cakap sahabat yang jujur lebih besar harganya daripada harta benda yg diwarisi dari nenek moyang (Saidina Ali)

 

Air mata wanita adalah senjata yang membuahkan kemenangan.

 

Berfikir itu cahaya, kelalaian itu kegelapan, kejahilan itu kesesatan dan manusia yang paling hina ialah orang yang menganiaya orang bawahannya.

 

Kepapaan membuat seseorang yang petah bercakap menjadi pendiam dan menyebabkan seseorang yang bijak menjadi bodoh.

 

Ingatlah, sabar itu iman, duit bukan kawan, dunia hanya pinjaman dan mati tak berteman..

 

Kaya jiwa lebih baik daripada kaya harta.

 

Lidahmu adalah bentengmu, jika engkau menjaganya maka ia akan menjagamu, dan jika engkau  membiarkannya maka ia tidak akan mempedulikanmu

 

Jangan sesekali menggadai prinsip, demi untuk mendapat dunia yang  mengiurkan

 

Orang yg paling berkuasa adalah orang yg dapat menguasai dirinya sendiri

 

Setiap manusia adalah arkitek kehidupannya sendiri. Dia membinanya seperti mana yang dikehendakinya namun

selepas dia membina apa yang dikehendakinya, kadang kala dia mendapati bahawa dia tidak menyukai apa yang

telah dibinanya dan mencari seseorang atau sesuatu untuk dipersalahkan daripada mencuba untuk menukar dirinya sendiri.

 

Jangan lakukan semua yang kamu ketahui, jangan berbelanja semua yang kamu miliki, jangan percaya semua yang kamu dengar dan jangan memberitahu semua yang kamu dengar.

 

Seseorang menganggap sekatan sebagai batu penghalang, Sedangkan orang lain menganggapnya sebagai batu lonjatan.

 

Kalau kita melakukan semua yang kita upaya lakukan, sesungguhnya kita akan terkejut dengan hasilnya.

 

Kita selalu lupa atau jarang ingat apa yang kita miliki, tetapi kita sering kali ingat apa yang orang lain ada.

 

Apa yang diperolehi dalam hidup ini, adalah sepenuhnya daripada apa yang kita berikan padanya.

 

Semulia-mulia manusia ialah siapa yang mempunyai adab, merendahkan diri ketika berkedudukan tinggi,

memaafkan ketika berdaya membalas dan bersikap adil ketika kuat ~ Khalifah Abdul Malik bin Marwan

 

Adalah tidak mustahil orang yang paling kita benci sekarang adalah kawan karib kita suatu waktu dahulu.

 

Jika kita melakukan sesuatu dengan keikhlasan, nescaya ganjaran yang kita terima juga setanding dengan apa yang kita usahakan.

 

Dalam kepala kaum wanita ada kekurangan, tetapi dalam hati mereka ada kelebihan.

 

Gerobak kosong lebih banyak bisingnya (suara ributnya) daripada gerobak yang penuh muatan.

 

Sekiranya anda meletakan satu nilai kecil ke atas diri anda sendiri, ketahuilah bahawa dunia tidak akan meningkatkan harga anda itu

 

Kalau tidak kerana semalam kita telah berusaha, bersungguh, bersabar dan berdoa, belum tentu hari ini kita akan berada di sini

 

Fikirkan hal-hal yang paling hebat,Dan engkau akan menjadi terhebat. Tetapkan akal pada hal tertinggi, Dan engkau akan mencapai yang tertinggi.

 

Dunia ini tiada jaminan melainkan satu peluang.

 

Kehidupan kita di dunia ini tidak menjanjikan satu jaminan yang berkekalan. Apa yang ada hanyalah percubaan, cabaran dan pelbagai peluang. Jaminan yang kekal abadi hanya dapat ditemui apabila kita kembali semula kepada Ilahi.

 

Pemimpin yang berjaya ialah orang yang boleh mengawal komunikasi dengan orang yang lebih atas daripadanya

dan boleh mengawal komunikasi dengan orang yang lebih bawah daripadanya.

 

Kebijaksanaan menjanjikan kejayaan dan kebahagiaan tetapi jika disalahgunakan akan mewujudkan penderitaan

 

Didiklah anak-anakmu itu berlainan dengan keadaan kamu sekarang  kerana mereka telah dijadikan Tuhan untuk zaman yang bukan zaman engkau -Saidina Umar Al-Khattab

 

Diam adalah suatu hikmah, tetapi sedikit sekali pelakunya.

 

Adab dan akhlak adalah ibarat pokok dan kemasyhuran adalah seperti bayang-bayang. Tetapi malangnya, kebiasaan orang lebih melihat bayang-bayang daripada pokoknya.

 

Kata kata yang sering diucap biarlah selari dengan apa yang dirasakan kerna selalunya apa yang terungkap tidak sama seperti apa yang diungkap

 

Lebih baik menjadi pendengar yang bijak daripada menjadi pemerhati yang kaku dan tidak tahu apa-apa.

 

Rahsia kejayaan hidup adalah persediaan manusia untuk menyambut kesempatan yang menjelma.

 

Anda tidak boleh mencipta pengalaman. Anda mesti menghadapinya.~ Albert Camus

 

Harta tidak akan berkurang kerana sedekah dan melakukan amal.

 

Sahabat sejati umpama pohon rendang tempat kita berteduh.

 

Manusia biasanya lebih menghargai sesuatu yang sukar diperoleh tetapi sering melupakan nikmat yang telah tersedia.

 

Kekuatan tidak datang dari kemampuan fizikal,tetapi ianya datang dari semangat yang tidak pernah mengalah.

 

Mengetahui perkara yang betul tidak memadai dan bermakna jika tidak melakukan perkara yang betul.

 

Kecemerlangan adalah hasil daripada sikap yang ingin sentiasa melakukan yang terbaik.

 

Manusia tidak perlu dihukum kerana lupa, tetapi manusia perlu dihukum kerana sengaja lupa.

 

Barangsiapa mempertimbangkan keselamatan dalam tindakannya, maka tenanglah batinnya.

 

Orang yang berjaya dalam hidup adalah orang yang nampak tujuannya dengan jelas dan menjurus kepadanya tanpa menyimpang. ~ Cecil B. DeMille

 

Jangan biarkan perahu hanyut tak berpenghuni nanti hanyutnya tidak singgah ke pelabuhan

 

Ukuran yang paling tinggi tentang adab seseorang itu, ia wajib menaruh perasaan malu akan dirinya terlebih dahulu ~ Aflatun

 

Jambatan menjadi penghubung antara dua buah kampung, perkahwinan menjadi penghubung antara dua insan dan anak menjadi penghubung antara ibu dan ayah

 

Tiada manusia yang bergembira sepanjang masa tetapi ianya bukanlah suatu alasan untuk hidup sengsara

 

Kesempatan yang kecil seringkali merupakan permulaan kepada usaha yang besar.

 

Menyesal tidak berbicara lebih baik daripada menyesal berbicara.

 

Sesungguhnya orang yang berakal itu menyembunyikan rahsianya, dan orang yang jahil membuka keaibannya.

 

Anda akan mempunyai ramai kenalan jika anda meminati mereka dan bukannya cuba membuat mereka meminati anda

 

Jangan memandang ke bawah (untuk mengetahui kekuatan tanah yang dipijak) sebelum memulakan langkah .Hanya

mereka yang menetapkan pandangan mereka ke arah horizon yang jauh dihadapan sahaja yang akan menemui jalan sebenar.

 

Jangan mengukur kebijaksanaan seseorang hanya kerana kepandaiannya berkata-kata tetapi juga perlu dinilai buah fikiran serta tingkah lakunya.

 

Sesungguhnya apa yang kita lihat serupa sebenarnya tidak semestinya sama.

 

Akhlak yang buruk itu ibarat tembikar yang pecah. Tidak dapat dilekatkan lagi dan tidak dapat dikembalikan menjadi tanah -Wahab B Munabin

 

Sahabat sejati dan setia adalah lebih bernilai dari semua emas di dunia ini.

 

Peperangan hanya boleh menjanjikan kemenangan selepas kemusnahan dan kematian.

 

Adalah mudah menukarkan status seorang sahabat menjadi kekasih daripada (bekas) kekasih menjadi sahabat.

 

Bangsa penakut tidak boleh merdeka dan tidak berhak merdeka. Ketakutan adalah penasihat yang sangat curang untuk kemerdekaan ~Andre Colin

 

Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai sesuatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa merdeka -Soekarno

 

Semiskin-miskin orang ialah orang yang kekurangan adab dan budi pekerti ~Hukama

 

Ciri orang yang beradab ialah dia sangat rajin dan suka belajar, dia tidak malu belajar daripada orang yang berkedudukan lebih rendah darinya   ~ Confucius

 

Jangan tanya apa yang dibuat oleh negara untukmu, tapi tanyalah apa yang boleh kamu buat untuk negara -Abraham Lincoln

 

Jangan mengharapkan kebaikan dari orang yang tidak mengharapkan kebaikan dari kamu.

 

Hidup biar beradab, bukan hidup untuk biadap -Al-Ghazali Bayruni

 

Rakyat itu akar bangsa. Jika akarnya sihat, pokoknya pun sihat -Beng Tju

 

Agama tanpa ilmu adalah buta. Ilmu tanpa agama adalah lumpuh -Albert Einstein

 

Teman manusia yang sebenar ialah akal dan musuhnya yang celaka ialah jahil

 

Memohon doa kepada Tuhan adalah laksana samudera yang dapat mencapai setiap sudut pantai keperluan hidup manusia

 

Sesuatu khayalan kadang-kadang menjadi realiti

 

Jika manusia masih tetap jahat dengan adanya agama, bagaimana lagi jika tiada agama? ~ Benjamin Franklin

 

Jika kamu mendapat kesusahan, ingatlah menyimpan kesabaran ~ Horatius

 

Menghitung orang-orang gila di suatu negeri lebih sulit daripada menghitung orang-orang yang berakal.

 

Orang yang paling tidak bahagia ialah mereka yang paling takut pada perubahan ~ Mognon Me Lauhlin

 

Nilai hidup harus diukur dengan garis yang lebih mulia, iaitu kerja dan bukannya usia. ~Richard Brinsley Sheridan

 

Kecantikan hanya sedalam kulit, tetapi masuk ke dalam tulang ~ Pepatah inggeris

 

Kita patut berkorban supaya orang lain juga merasai kemanisan hidup.

 

Keruntuhan keluarga telah melahirkan generasi yang lemah ~ Rahmohan Ghandi

 

Rahsia untuk berjaya ialah menghormati orang lain

 

Ikhlaslah menjadi diri sendiri agar hidup penuh dengan ketenangan dan keamanan

 

Kecemerlangan sebenar adalah apabila kamu dihentam sehingga bertekuk lutut, tetapi mampu melantun kembali.

 

Di sebalik keindahan rumah tersergam, disebalik senyum dan tawa, seseorang insan itu mungkin dilanda kepahitan dan kekecewaan yang tidak diketahui orang lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

WAKTU

 

Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?….

Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.

 

Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.

Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.

 

Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi,

Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan.

 

 

Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.

 

 

Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya?

Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke tindakan kasih yang lain?

 

Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.

 

 

PERSAHABATAN

 

Dan jika berkata, berkatalah kepada aku tentang kebenaran persahabatan?..Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi.

Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.

 

Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.

Karena kau menghampirinya saat hati lapa dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “ya”.

 

 

Dan bilamana ia diam, hatimu tiada ‘kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan.

 

Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita; Karena yang paling kaukasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

 

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.

Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.

Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?

Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!

Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.

Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria berbagi kebahagiaan.

Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar jati dan gairah segar kehidupan.

 

 

CINTA

AKU bicara perihal Cinta????…

 

Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,

Walau jalannya sukar dan curam.

Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya.

Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu.

Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.

Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu bagai angin utara mengobrak-abrik taman.

Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia

kan menyalibmu.

 

Sebagaimana dia ada untuk pertumbuhanmu, demikian pula dia ada untuk pemanakasanmu.

 

Sebagaimana dia mendaki kepuncakmu dan membelai mesra ranting-rantingmu nan paling lembut yang bergetar dalam cahaya matahari.

Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu dan mengguncang-guncangnya di dalam cengkeraman mereka kepada kami.

Laksana ikatan-ikatan dia menghimpun engkau pada dirinya sendiri.

 

Dia menebah engkau hingga engkau telanjang.

Dia mengetam engkau demi membebaskan engkau dari kulit arimu.

Dia menggosok-gosokkan engkau sampai putih bersih.

Dia merembas engkau hingga kau menjadi liar;

Dan kemudian dia mengangkat engkau ke api sucinya.

 

Sehingga engkau bisa menjadi roti suci untuk pesta kudus Tuhan.

 

Semua ini akan ditunaikan padamu oleh Sang Cinta, supaya bisa kaupahami rahasia hatimu, dan di dalam pemahaman dia menjadi sekeping hati Kehidupan.

 

Namun pabila dalam ketakutanmu kau hanya akan mencari kedamaian dan kenikmatan cinta.Maka lebih baiklah bagimu kalau kaututupi ketelanjanganmu dan menyingkir dari lantai-penebah cinta.

 

Memasuki dunia tanpa musim tempat kaudapat tertawa, tapi tak seluruh gelak tawamu, dan menangis, tapi tak sehabis semua airmatamu.

 

Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.

Cinta tiada memiliki, pun tiada ingin dimiliki; Karena cinta telah cukup bagi cinta.

 

Pabila kau mencintai kau takkan berkata, “Tuhan ada di dalam hatiku,” tapi sebaliknya, “Aku berada di dalam hati Tuhan”.

 

Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta, sebab cinta, pabila dia menilaimu memang pantas, mengarahkan jalanmu.

 

Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya. Namun pabila kau mencintai dan terpaksa memiliki berbagai keinginan, biarlah ini menjadi aneka keinginanmu: Meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.

 

Mengenali penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh.

Merasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tenung cinta;

Dan meneteskan darah dengan ikhlas dan gembira.

Terjaga di kala fajar dengan hati seringan awan dan mensyukuri hari haru penuh cahaya kasih;

 

Istirah di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta yang meluap-luap;Kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur;

 

Dan lalu tertidur dengan doa bagi kekasih di dalam hatimu dan sebuah gita puji pada bibirmu.