Fatwa DSN LC Ekspor

Posted: 05/05/2010 in Fatwa DSN
Tag:, , ,

FATWA

DEWAN SYARIAH NASIONAL

Nomor: 35/DSN-MUI/IX/2002

Tentang

LETTER OF CREDIT (L/C) EKSPOR SYARI’AH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dewan Syariah Nasional setelah,

Menimbang : a. bahwa salah satu bentuk jasa perbankan adalah memberikan fasilitas transaksi ekspor yang dilakukan oleh nasabah, yang dikenal dengan istilah Letter of Credit (L/C) Ekspor;
b. bahwa transaksi L/C Ekspor  yang berlaku selama ini tidak sesuai dengan ketentuan syariah;
c. bahwa agar mekanisme transaksi L/C Ekspor tersebut dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syari’ah, Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa mengenai hal tersebut untuk dijadikan pedoman.
Mengingat :
Firman Allah, QS. An-Nisa [4] : 29
يَا أَيُّهَا الَّذَيْنِ آمَنُوْا لاَ تَأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ …
“Hai orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta saudaramu dengan cara yang bathil, kecuali dengan cara perniagaan yang saling rela di antara kalian …”.
Firman Allah, QS. Al-Maidah [5]: 1
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِ …
Hai orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu…”
Firman Allah, QS. Al-Kahfi[18] : 19
فَابْعَثُوْا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هذِهِ إِلَى الْمَدِيْنَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلاَ يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا (الكهف:19)
“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini. Dan hendaklah ia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan yang lebih baik bagimu, dan hendaklah ia berlaku lemah lembut, dan janganlah  sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorangpun”.
Firman Allah, QS . Yusuf [12] : 55
قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلَى خَزَائِنِ اْلأَرْضِ إِنِّى حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ (يوسف:55)
“Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengalaman”.
Firman Allah, QS . Al Baqarah [2] : 283
فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذَيْ اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللهَ رَبَّهُ… (البقرة: 283)
“ … Maka jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya…”.
Firman Allah, QS. Al Qasshash [28] : 26
قاَلَتْ اِحْدَاهُمَا يَآ أَبَتِ اسْتَئْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ اْلأَمِيْنُ (القصص: 26)
“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata : Hai ayahku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dipercaya”.
Firman Allah SWT, QS. Yusuf [12] : 72
قَالُوْا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيْرٍ وَأَنَاْ بِهِ زَعِيْمٌ
“ Penyeru-penyeru itu berseru : Kami kehilangan piala raja, dan barangsiapa yang dapat mengembalikannya, akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya “.
Firman Allah SWT, QS.Al-Baqarah [2]: 275
…وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا…
“…Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba…”
Firman Allah SWT, QS. Shad [38] : 24
وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِى بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيْلٌ مَا هُمْ…
“…Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang bersyarikat itu sebagian dari mereka berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan amat sedikitlah mereka ini … “.
10. Hadis Nabi SAW riwayat al-Thabrani dari Ibn Abbas:
كَانَ سَيِّدُنَا الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ إِذَا دَفَعَ الْمَال مُضَارَبَةً اِشْتَرَطَ عَلَى صَاحِبِهِ أَنْ لاَ يَسْلُكَ بِهِ بَحْرًا وَلاَ يَنْزِلَ بِهِ وَادِيًا وَلاَ يَشْتَرِيَ بِهِ دَابَّةً ذَاتَ كَبِدٍ رَطْبَةٍ، فَإِنْ فَعَلَ ذَلِكَ ضَمِنَ. فَبَلَغَ شَرْطُهُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَأَجَازَهُ (رواه الطبراني في الأوسط)
Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harta sebagai Mudharabah ia mensyaratkan kepada mudharib nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar, ia (mudharib) harus menanggung risikonya. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah, beliau membolehkannya.
11. Hadis Nabi SAW riwayat Ibnu Majah dari Shuhaib:
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ثَلاَثٌ فِيْهِنَّ الْبَرَكَةُ : اَلْبَيْعُ اِلَى أَجَلٍ, وَالْمُقَارَضَةُ, وَخَلْطُ الْبُرِّ بِالشَّعِيْرِ لِلْبَيْتِ لاَ لِلْبَيْعِ (رواه ابن ماجه)
Nabi bersabda: Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum halus dengan jewawut (gandum kasar) untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual.
12. Hadis Nabi riwayat ‘Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri, Nabi s.a.w. bersabda:
مَنِ اسْتَأْجَرَ أَجِيْرًا فَلْيُعْلِمْهُ أَجْرَهُ.
Barang siapa mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya.
13. Hadis Nabi riwayat Abu Dawud dan Al-Tirmidzi:
أنَّ الرسولَ صلى الله عليه وسلم دَفَعَ دِيْنَارًا إِلَى حَكيْمِ بْنِ حِزَامٍ لِيَشْتَرِيَ لَهُ بِهِ أُضْحِيَةً (رواه أبو داود والترمذي)

Nabi s.a.w. menyerahkan satu dinar kepada Hakim bin Hizam untuk membeli hewan qurban.

14. Hadis riwayat Tirmizi dari ‘Amr bin ‘Auf al-Muzani, Nabi s.a.w. bersabda:
اَلصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلاَّ صُلْحًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا.
“Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”
15. Kaidah Fiqih:
الأَصْلُ فِي الْمُعَامَلاَتِ اْلإِبَاحَةُ إِلاَّ أَنْ يَدُلَّ دَلِيْلٌ عَلَى تَحْرِيْمِهَا.
“Pada dasarnya, segala bentuk mu’amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
أَيْنَمَا وُجِدَتِ الْمَصْلَحَةُ فَثَمَّ حُكْمُ اللهِ.
“Di mana terdapat kemaslahatan, di sana terdapat hukum Allah.”
اَلْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ
“Kesulitan dapat menarik kemudahan.”
اَلْحَاجَةُ قَدْ تَنْزِلُ مَنْزِلَةَ الضَّرُوْرَةِ
“Keperluan dapat menduduki posisi darurat.”
اَلثَّابِتُ بِالْعُرْفِ كَالثَّابِتِ بِالشَّرْعِ
“Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara’ (selama tidak bertentangan dengan syari’at).”
Memperhatikan :

Pendapat ulama tentang Wakalah bil-Ujrah

تَصِحُّ الْوَكَالَةُ بأجرٍ وبغيرِ أجرٍ, لأنَّ النبيَّ صلى الله عليه وسلم كان يبعثُ عمَّالَه لقبضِ الصَّدقاتِ ويجعلُ لهم عُمولةً…وإذا كانتِ الوكالةُ بأجر أي (بجعل) فحكمُها حكمُ الإِجَارَاتِ.

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (V/85), Asy-Syarkhasi dalam Takmilah Fathul Qadir (VI/2), Wahbah Al-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (V/4058)

Pendapat para ulama tentang Al-Bai’ (Jual-beli) dan mewakilkan dalam jual-beli. Wahbah Al-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (V/4078) berkata:

وأمَّا التوكيلُ بالبيعِ والشِّراءِ فيجوزُ بلا خلافٍ بين الفقهاءِ, لأنهما ممَّا يملِك الموكِّلُ مباشرتَهما بنفسهِ, فيملك التفويضَ إلى غيرهِ.

Fatwa-fatwa DSN-MUI mengenai Ijarah, Qardh,  Mudharabah, dan Musyarakah

Surat Direksi BMI Nomor 150/BMI/FSG/VII/2002 ter-tanggal 11 Juli 2002 perihal permohonan fatwa tentang Skema Transaksi LC Impor dan LC Ekspor.

Pendapat peserta Rapat Pleno DSN-MUI tanggal 14 September 2002/ 7 Rajab 1423 H.

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

FATWA TENTANG L/C EKSPOR SYARIAH

Pertama :

Ketentuan Umum :

Letter of Credit (L/C) Ekspor Syariah adalah surat pernyataan akan membayar kepada Eksportir yang diterbitkan oleh Bank untuk memfasilitasi perdagangan ekspor  dengan pemenuhan persyaratan tertentu sesuai dengan prinsip syariah
L/C Ekspor Syariah dalam pelaksanaannya meng-gunakan akad-akad: Wakalah bil Ujrah, Qardh,  Mudharabah, Musyarakah dan Al-Bai’.
Kedua :

Ketentuan Akad :

Akad untuk L/C Ekspor yang sesuai dengan syariah dapat berupa:
Akad Wakalah bil Ujrah dengan ketentuan:

  1. Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor;
  2. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit L/C (issuing bank), selanjutnya dibayarkan kepada eksportir setelah dikurangi ujrah;
  3. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam prosentase.
Akad Wakalah bil Ujrah dan Qardh dengan ketentuan:

  1. Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor;
  2. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit L/C (issuing bank);
  3. Bank memberikan dana talangan (Qardh) kepada nasabah eksportir sebesar harga barang ekspor;
  4. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase.
  5. Pembayaran ujrah dapat diambil dari dana talangan  sesuai kesepakatan dalam akad.
    1. Antara akad Wakalah bil Ujrah dan akad Qardh, tidak dibolehkan adanya keterkaitan (ta’alluq).
Akad Wakalah Bil Ujrah dan Mudharabah dengan ketentuan:

  1. Bank memberikan kepada eksportir seluruh dana yang dibutuhkan dalam proses produksi barang ekspor yang dipesan oleh importir;
  2. Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor;
  3. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit L/C (issuing bank).
  4. Pembayaran oleh bank penerbit L/C dapat dilakukan pada saat dokumen diterima (at sight) atau pada saat jatuh tempo (usance);
  5. Pembayaran dari bank penerbit L/C (issuing bank) dapat digunakan untuk:
  6. Pembayaran  ujrah;
  7. Pengembalian dana mudharabah;
  8. Pembayaran bagi hasil.
  9. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase.
Akad Musyarakah dengan ketentuan:

  1. Bank memberikan kepada eksportir sebagian dana yang dibutuhkan dalam proses produksi barang ekspor yang dipesan oleh importir;
  2. Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor;
  3. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit L/C (issuing bank);
  4. Pembayaran oleh bank penerbit L/C dapat dilakukan pada saat dokumen diterima (at sight) atau pada saat jatuh tempo (usance);
  5. Pembayaran dari bank penerbit L/C (issuing bank) dapat digunakan untuk:
  6. Pengembalian dana musyarakah;
  7. Pembayaran bagi hasil.
Akad Al-Bai’ (Jual-beli) dan Wakalah dengan ketentuan:

  1. Bank membeli barang dari eksportir;
  2. Bank menjual barang kepada importir yang diwakili eksportir;
  3. Bank membayar kepada eksportir setelah pengiriman barang kepada importir;
    1. Pembayaran oleh bank penerbit L/C (issuing bank) dapat dilakukan pada saat dokumen diterima (at sight) atau pada saat jatuh tempo (usance).
Ketentuan Penutup Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagai-mana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal          : 07     Rajab     1423 H.
14 September 2002 M.

DEWAN SYARI’AH NASIONAL

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua,

K.H. M.A. Sahal Mahfudh

Sekretaris,

Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s